Keesokan harinya, jam 10:01
"Gawat, aku kesiangan!" panik. Segera mengambil handuk dan berlari masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, langsung mengenakan pakaian dan bersiap-siap. "Semoga saja kuenya tidak terlalu dingin." mengeluarkan kue yang telah disiapkan kemarin, membungkusnya. Tak lupa memasukkan hadiah ke dalam tas.
Tersenyum, "Maki.. pasti akan menyukainya kan?"
Pukul 11:15 aku telah keluar rumah, menuju rumah si orang kaya tersebut. Mencoba mengingat-ingat kembali arah jalannya. Setengah jam berputar-putar, akhirnya aku sampai.
"Bagaimana cara memanggilnya? Apa kutekan saja belnya?" beberapa detik terdiam, menyiapkan diri untuk menekan bel rumah besar itu.
TING TONG!
Pintu belum terbuka.
TING TONG!
Tidak ada satupun yang keluar.
TING TONG!
Cekrek! Akhirnya pintu tersebut bergerak. Seorang kakek tua berjalan ke arahku. Membuka pagar, "Selamat siang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ah, anu.. apa Nishikino Maki ada? Saya Yazawa Nico, temannya."
Dia terlihat mengernyit, kemudian membetulkan letak kacamatanya. "Yazawa.. -san? Teman SMA Nona Nishikino?"
Aku mengangguk.
"Emm.. ada perlu apa dengan Nona Nishikino?"
Bagaimana caraku menjawabnya? "Eh? Eto..." melirik box kue di tangan. Kakek tersebut juga ikut menatap box kue ku.
Dia menghela nafas. "Begitu rupanya." kemudian memandang wajahku lamat-lamat. Jujur saja, aku agak risih.
"Sayang sekali. Nona Nishikino sedang tidak ada di rumah." katanya dengan berat.
"O-oh begitu.. dia pasti sedang sibuk di rumah sakit ya? Kalau begitu lain kali saja saya datang lagi." Aku berniat pamit-
"Tetapi mungkin beliau ada di tempat lain."
*****
Di mobil, aku dan kakek pelayan tersebut tak banyak bicara. Dia menjadi supir, dan aku dibelakang. Aku tidak tahu akan dibawa kemana mobil ini pergi. Yang jelas sejak tadi kami melewati jalanan sepi yang tidak kutahui. Sangat terpencil, dan jalannya pun terlihat kotor dan sempit.
Mobil mendadak berhenti. "Kita sudah sampai, Nona." Dia membuka pintu samping belakang, mempersilakanku turun.
Tempat apa ini? Sebuah rumah kecil berwarna putih, yang tidak terlihat sudah lama dan rapuh. Halaman depannya kelihatan tak terurus. Rumput-rumputnya telah memanjang dan banyak bunga-bunga yang layu.
"Silakan masuk." dia membuka pagar rumah. Aku dengan sedikit ragu melangkah. Apa benar Maki ada di sini?
"Saya akan menunggu di luar. Nona Nishikino ada di dalam." Kakek tersebut melangkah kembali ke mobil. Menungguku masuk.
Tidak ada bel. Terpaksa kuketuk. TOK TOK TOK!
Lama menunggu, tak ada jawaban. Entah apa yang kupikirkan, tanganku bergerak sendiri membuka pintu, memasuki ruang depan. Menutup pintunya. "S-selamat siang.."
Benar-benar sepi. Ada sepasang sepatu yang tergeletak di lantai. Mungkinkah milik Maki?
Suara derak langkah kaki terdengar. "Kusuke-san, aku-"
Maki terkejut, mendapatiku di depan pintu. Begitu juga sebaliknya.
"H-hai.." sapaku canggung. Suasananya benar-benar tidak mendukung.
KAMU SEDANG MEMBACA
NicoMaki: Again
Fanfiction"Kalau begitu biar aku saja." Kata itu, harusnya kutahan. Kata yang langsung membuatku senang dalam satu detik, namun juga membuatku menyesal setelahnya. Benar. Ini semua salahku. Akulah yang menciptakannya. Karena akulah, ia hilang, dan tak pernah...
