19

1.9K 306 35
                                        

Part kemarin ga nyampe target gpp hehehehehehehehehe.
Sorry typo aku ga baca ulang soalnya.












Jari-jari Hyunjin mengetuk meja dengan keras. Entah kenapa kini hatinya terasa tak nyaman. Padahal saat ini Hyunjin tengah duduk diruang tamu Ryujin setelah berbaikan dengan gadis itu.

"Kamu kenapa?"

Ryunjin yang sedari tadi menangkap kegelisahan Hyunjin akhirnya bertanya. Hyunjin mengeleng tak tau, dia rasa tak ada hal yang salah tapi entah kenapa hatinya terasa tak nyaman.

"Kamu gak ningalin Yeji dirumah sendiri kan Jin?"

Hyunjin menatap Ryujin bingung, memang apa hubunganya dengan Yeji.

"Kamu lupa kalau Yeji itu kembaran kamu? Yang aku tau kalau anak kembar punya ikatan yang kuat."

Kegelisahan Hyunjin semakin menjadi-jadi bagaimana ia bisa melupakan hal itu?

"Pulang aku takut Yeji kenapa-kenpa."

"Tapi kamu gak marah?" Hyunjin memandang pacarnya ragu.

Ryujin mengeleng, "Yeji itu kembaran kamu sendiri Jin, aku gak pernah marah kalau kamu lebih mentingin dia daripada aku. Sekarang kamu pulang kabarin aku kalau sampai rumah."

Hyunjin mengambil kunci motornya, ia sempat mencium kening Ryujin sebelum beranjak.

"Aku pulang dulu," pamit Hyunjin


















****








Hyunjin masuk kedalam rumah dengan tergesa-gesa. Pasalnya pintu rumahnya terbuka lebar. Hyunjin berdiri mematung saat menemukan sebuah kotak tergeletak diruang tamu.

"Yeji,"

Hyunjin memangil Yeji dengan lirih saat menemukan gadis itu sedang meringkuk dengan pandangan kosong. Hyunjin langsung memeluk kembaranya itu.

"It's oke, gua disini gak usah takut." Bibir Hyunjin terus menerus mengumankan kata penenang.

Air mata Yeji mengalir dengan deras badan bergetarnya membalas pelukan Hyunjin dengan erat.

"Takut hiks," guman Yeji disela tangisanya.

Hyunjin mengusap pungung Yeji sampai ia rasa gadis itu tenang. Hyuniin melepas perlahan pelukanya, Jari-jarinya mengusap air mata diwajah Yeji.

"Tau siapa yang ngirim?"

Yeji mengeleng, "Tadi kurir yang ngirim, gua kira paket biasa."

"Ck, sialan."

"Sekarang tidur dulu udah malem, mau ditemenin?"

Yeji mengeleng lalu berjalan menuju kamarnya. Hyunjin menghela nafas kasar, siapa yang berani meneror kembaranya itu. Tanganya merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponsel.












"Jen lo bener, orang itu mau ngincer Yeji."















*****















Hari ini Yeji bertingkah biasa, mencoba melupakan kejadian tadi malam walaupun susah. Yeji tak ingin Hyunjin khawatir kepadanya jika dirinya terus murung.

Siang ini Yeji memilih duduk sendiri di rooftop. Dirinya sangat malas untuk mengikuti pelajaran. Toh bolos sekali gak bakal bikin Yeji dikeluarin kan? Yeji sengaja mematikan polsenya sejak istirahat tadi supaya gak ada yang gangu.

Hembusan angin lama kelamaan membuat mata Yeji memberat tapi suara decitan pintu membuat mata Yeji kembali terbuka. Yeji melihat Jeno berjalan kearahnya. Yeji berdecak lalu kembali menutup matanya.

"Kenapa bolos?" tanya Jeno begitu mendudukan diri disamping Yeji

"Pengen," balas Yeji tanpa membuka matanya

"Jangan kebanyakan bolos nanti bego,"

"Miror please," desis Yeji

Lalu keduanya hening, sebenernya Jeno pengen tanya soal tadi malem sama Yeji tapi dia gak mau bikin mood gadis itu turun.

Jeno menatap Yeji yang sedang menutup mata. Yeji gadis sempurna luar dalam yang Jeno sia-siakan. Kadang Jeno pengen punya mesin waktu supaya dia bisa ngubah kesalahanya dulu. Namun sayangnya itu hanya khayalan Jeno.

"Tau gak Ji? Gua masih sayang banget sama lo. Bego ya gua? Nyia-nyiain cewek sebaik lo."

Jeno berujar lirih, dia mengira Yeji tertidur.









"Sama Jen."





























*****















Yeji turun dari rooftop diikuti Jeno dibelakangnya. Yeji mendengar dengan jelas ucapan Jeno tadi namun Yeji memilih pura-pura tertidur. Baru 20 menit kemudian Yeji bangun lalu beranjak turun.

Alis Yeji mengerut bingung. Kenapa setiap melewati lorong semua murid terus memperhatikanya? Apa mungkin ini cuma pikiran Yeji?

Jeno masih mengikuti Yeji dari belakang karena ia merasa ada yang tidak beres disini. Dari jauh Jeno bisa melihat kelas Yeji yang ramai walau dari jauh.

Orang-orang yang semula berkerumun didepan pintu langsung menyingkir memberi jalan begitu saja untuk mereka berdua, lebih tepatnya Yeji.

"Oh ini toh malingnya,"

"Udah maling cowok dari Siyeon sekarang maling duit."

"Cantik sih tapi kelakuan minus,"

Yeji mendengar bisik-bisik itu, apa mungkin itu ditujukan untuknya?

Sampai didalam kelas Yeji melihat Shuhua menangis dibangkunya dengan Siyeon disampingnya.

"Sha kenapa?" tanya Yeji

Shuhua yang semulanya menangis sekarang menatap Yeji dengan tajam. Ia lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Yeji.













Plakkk

"Dasar maling."



















****


Cia cia cia.
Rencananya aku mau nunggu part sebelumnya memenuhi target tapi keburu kangen sama kalian hehe.

Aku tau kalian pasti ngerti cara menghargai ceritaku ini.

-ylrcha

Broken || Lee JenoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang