24

1.7K 257 10
                                        

Jangan lupa vote ayank-nim hehe.
N) TYPO!















*****

Jeno menoleh kebelakang saat dirasanya Yeji gak ngikutin dia.

"Yeji?"

Jeno lantas merebut ponsel Yeji, rahang Jeno mengeras saat melihat pesan beriri ancaman itu. Cepat-cepat Jeno menghapus pesan itu lalu seenaknya memasukan ponsel Yeji kedalam sakunya.

"Jen?"

Jeno tak mengubris pangilan Yeji, ia menarik tangan Yeji supaya berjalan disebelahnya.

"Gausah dipikirin,"

Yeji menganguk lalu menatap kearah depan, sebenarnya pikiranya berkecamuk. Apa iya kecelakaan Hyunjin itu disengaja? Kalau memang benar apa motifnya?

Kepala Yeji semakin pusing saat bayangan Jaemin dan kata-katanya di cafe. Jika Jaemin bisa menemukan  orang yang menerornya apa iya Yeji bisa nerima Jaemin sebagai pacar bukan sahabatnya lagi?

Jeno melepaskan tangan Yeji saat mereka sampai didepan ruang inap Hyunjin.

"Eh?" Lihat kan? Yeji bahkan tak sadar kalau Jeno gak nyubit pipinya pelan.

"Udah sampai, langsung istirahan biar gak sakit. Besok gak usah sekolah."

Kepala Yeji menganguk-anguk, Jeno sampai gemas dibuatnya. Jeno langsung berbalik saat Yeji sudah masuk. Kakinya membawanya ketaman rumah sakit. Tanganya merogoh kantong untuk mengambil ponsel Yeji. Jeno sengaja tidak mengembalikanya supaya gadis itu gak kebanyakan pikiran.

"Halo om."










*****


Yeji mengeliat saat mendengar kegaduhan. Matanya perlahan terbuka.

"Yuri?"

Yang dinggil menengok lalu tersenyum lebar.

"Dari tari tadi disini"

Yuri mengaguk, "Setengah jam yang lalu? Aku gak tega bangunin kamu kayaknya nyenyak banget."

Yeji menggaruk kepalanya pelan lalu tertawa cangung, "Aku cuci muka sebentar."

Yuri menganguk, "Iya"

Yeji keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Matanya melotot saat melihat Hyunjin dengan santainya nemerima suapan dari Yuri.

Mata Yeji berkaca-kaca dengan perlahan ia mendekati kembaranya itu. Hyunjin tersenyum simpul saat melihat Yeji menangis, direntangkan tangganya sebagai isyarat Yeji untuk memeluknya.

Hyunjin menepuk pelan pungung Yeji yang bergetar.

"Dari kapan bangun?" tanya Yeji sambil melepaskan pelukanya.

"Semalem mungkin? Gua gak liat jam."

"Kenapa gak bangunin gua aja?"

"Gak tega, muka lo kaya capek banget."

Yuri sedari tadi hanya mengamati mereka berdua. Andai aja dipunya kembaran kira-kira kaya Yeji sama Hyunjin gak ya?

"Yuri?"

"E-eh?"

Yeji tertawa kecil, "Kamu gak sekolah?"

"Ini mau pamit,"

Bibir Hyunjin mengerut tak suka, "Gak usah sekolah, disini aja."

Yeji sontak memukul mulut Hyunjin, "Orang mau sekolah kok gaboleh."

Yuri kembali tertawa, "Pamit dulu ya."

Yeji menganguk sedangkan Hyunjin memajukan bibirnya.

"Suka ya lo sama dia?"

Hyunjin cengegesan, "Hehe"

Refleks Yeji langsung mengeplak kepala Hyunjin, "Inget udah ada Ryujin,"

Setelah itu Hyunjin menjadi diam.

"Btw mama papa belum tau kan?"

Yeji menganguk, "Gua emang sengaja belum ngasih tau mereka."

"Bagus deh kal-"

"Apa yang bagus ha?"

Sontak keduanya menoleh kearah pintu, dimana kedua orang tua mareka berdiri sambil berkaca pingang.

Yeji mengaruk kepalanya sedangkan Hyunjin hanya nyengir, mereka bingung.

"Kalo Jeno gak ngasih tau, kalian pasti diem-diem kan?"

"Bukan gitu mah, aku cuma mau ngabari paginya biar mamah sama papah gak terlalu panik."

Penjelasa Yeji hanya di tangapi deheman oleh sang mama.

"Kenapa bisa bang?"

Hyunjin memang biasa dipangil abang sama papanya.

"Aku gak fokus pas nyetir pah, dan tiba-tiba ada mobil yang ngelawan arah."

"Ck, lain kali kalo naik motor yang fokus. Jangan nyeleweng bahaya."

Hyunjin hanya menganguk sebagai respon.

"Papah sama mama udah sarapan belum? Kalau belum aku mau sekalian cari sarapan di luar."

"Boleh deh, ayah nitip soto aja kalau gak ada bubur ayam."

Yeji menganguk lalu mengambil uang yang diberikan papanya. Saat Yeji ingin mengambil jaket dan ponselnya, gadis itu baru teringat kalau semalam Jeno belum mengembalikan ponselnya.

"Hey,"

Yeji terkejut saat menutup pintu ruangan Hyunjin. Karena Jeno yang entah sejak kapan sudah berada disampingnya, dengan senyum andalanya.

Jeno menyodorkan ponsel ke, "Nih, semalem aku lupa ngembaliin."

"Iya gapapa, btw kamu yang ngasih tau papa sama mama?"

Jeno mengaruk kepalanya dengan cangung, "Hehe, maaf ya."

Gadis itu menghela nafasnya, "Lain kali jangan gitu Jen, ini termaksud privasi ku. Kamu bukan siapa-siapa aku lagi."




*****

Ehe, maaf ya lama updatenya.

Aku tau kalian pasti ngerti cara menghargai cerita ku ini.
-ylrcha

Broken || Lee JenoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang