37. Nikah

5.9K 135 2
                                        

Halo, selamat pagi dan selamat hari Senin. Gimana kabarnya hari ini? Semoga selalu sehat yaww.

Chapter kali ini, pasti bikin kalian seneng.

Yuk buruan baca, jangan lupa vote dan komen yaww.

Happy Reading

**

Satu bulan kemudian...

Hari ini adalah hari yang telah lama dinantikan oleh kedua belah pihak keluarga, yaitu hari pernikahan Alena dan Arka. Namun bagi kedua mempelai hari ini adalah hari sangat tidak dinanti oleh mereka. Hari ini justru terasa seperti akhir dari kebebasan mereka. Andai mereka diizinkan untuk memilih, mungkin mereka sudah kabur dari pesta yang megah ini.

Di kamar pengantin, Alena sedang duduk di depan cermin. Riasan cantik sudah mempertegas keanggunan wajahnya, namun tak ada binar bahagia di mata gadis itu. Ia hanya diam menatap bayangannya sendiri, bertanya-tanya dalam hati, Akan seperti apa hidupku setelah ini?
Bahagia dalam perasaan yang menggantung? Atau justru dipenuhi perang dingin tanpa ujung? Alena tidak tahu.

“Leya sayang, ayo kita turun. Ijab qabulnya sebentar lagi dimulai,” ucap Aira lembut dari balik pintu.

Aira kemudian melangkah masuk, lalu menoleh ke arah MUA yang sedang merapikan perlengkapan.

“Sudah selesai, Mbak?” tanya Aira.

“Sudah, Bu. Mbak Alena sudah siap,” jawab sang MUA dengan senyum profesional.

“Baik, saya pamit dulu, Bu.” ucap MUA.

“Iya, terima kasih ya, Mbak,” Aira mengangguk singkat.

Setelah MUA pergi, Aira menghampiri putrinya. Ia menatap Alena penuh haru, lalu duduk di sampingnya.

“Cantik sekali anak Mamah...” ucapnya lirih.

Hari ini Alena mengenakan kebaya putih gading dengan potongan kutu baru modern, dipadukan dengan kain brokat tipis bermotif bunga menjalar his dibagian dada, punggung, dan lengan. Di beberapa titik juga terdapat sulaman benang perak berpadu dengan Payet kecil warna blush, untuk memberikan nuansa feminim. Lengan panjangnya transparan dihiasi taburan mutiara kecil yang dijahit rapi. Kain bawahnya berupa batik berwarna putih ke abu-abuan bermotif tambal klasik, menyimbolkan harapan akan rumah tangga yang saling melengkapi dan menyembahkan.

Rambutnya disanggul rapi dengan model sanggul Jawa modern. Melati segar dirangkai mengelilingi sanggul, menggantung tipis di sisi kanan—terlihat manis dan penuh makna. Di atas konde diberi tusuk konde berwarna emas dan anting-anting tradisional bentuk kembang kecil. Dipadukan dengan riasan flawless bernuansa pink soft. Hari ini Alena terlihat sangat cantik sekali, hari-hari biasanya cantik namun hari ini lebih cantik.

“Mamah nggak nyangka, sebentar lagi anak gadis Mamah akan jadi istri orang.” ucap Dhita.

Aira memeluk Alena dengan erat. Alena membalas pelukan itu, dan untuk sesaat ia merasakan hangat yang menenangkan di tengah kegelisahan yang menyesaki dadanya.

“Maafin Mamah ya, Sayang...” bisik Aira, matanya berkaca-kaca.

Ia kemudian mengusap pipi Alena dan menghapus air matanya dengan lembut.

“Nggak boleh nangis, nanti make-up-nya rusak,” ujarnya mencoba bercanda agar suasana mencair. Alena pun tersenyum tipis.

“Ayo, senyum dulu,” kata Aira.

Dengan napas dalam, Alena berdiri. Ia menggenggam tangan Aira yang kemudian menuntunnya turun ke bawah.

Di bawah sana, para tamu sudah memenuhi ruang akad. Suara pelan dari percakapan tamu undangan terdengar mengambang, sementara dekorasi serba putih dengan kombinasi bunga-bunga warna dusty pink dan baby's breath, menggantung di langit-langit ruangan dan menghiasi kursi-kursi tamu. Haris duduk di depan Arka yang tampak tegang dan dingin.

Di sana Arka tampil memukau dengan balutan jas berwarna putih gading, yang senada dengan kebaya Alena, dengan potongan tailored fit yang mempertegas postur tegapnya, dibagian kori jasnya tersemat boutonniere dari melati putih dan dedaunan hijau segar. Di dalamnya ia memakai kemeja putih polos yang rapi dan dasi abu-abu muda sebagai aksen netral, agar tampilannya terlihat maskulin.

Di bagian bawah, Arka mengenakan celana kain berwarna putih senada dengan jas, serta sepatu pantofel kulit hitam mengkilap, sangat terlihat sempurna sekali.

Saat melihat Alena berjalan menuruni tangga bersama Aira, Arka sempat menoleh. Tatapan mereka bertemu sejenak, namun Arka buru-buru mengalihkan pandangan ke arah depan, menyembunyikan sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan.

“Sayang, sini duduk di sebelah Arka,” bisik Haris sambil menuntun Alena duduk.

Alena menunduk, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup tak karuan.

Penghulu membuka acara dengan salam, kemudian memandang Arka dan Haris.

“Kita bisa mulai sekarang?” tanyanya. Para hadirin mengangguk.

“Baik, Mas Arka, silakan jabat tangan Bapak Haris,” ucap penghulu.

Arka menatap Haris sejenak lalu mengangguk patuh. Ia menjabat tangan Papah Alena, tangan Arka dingin karena gugup.

“Sudah siap, Pak Haris?” tanya Penghulu.

“Siap,” jawab Haris mantap.

“Kalau begitu, silakan dimulai,” ucap penghulu memberi aba-aba.

Haris menarik napas perlahan. “Arka Satya Mahendra bin Jordan Mahendra, saya nikahkan engkau dengan putri saya, Alena Nayara Pratama binti Harus Pratama, dengan maskawin dan seperangkat alat shalat dibayar tunai.”

Tanpa jeda, Arka menjawab dengan lantang, suaranya tegas meski tak ada sorot emosi di matanya. “Saya terima nikahnya Alena Nayara Pratama binti Haris Pratama dengan maskawin dan seperangkat alat salat dibayar tunai.”

Seketika semua mata memandang ke arah saksi.

“Sah?” tanya penghulu.

“SAH!” seru para saksi serempak, disambut suasana haru dan tepuk tangan tamu undangan.

[Dihapus karena kepentingan penerbitan]



**

Akhirnya mereka berdua nikah juga, siapa nih yang mau datang?

Oh iya, kalian diundang lho ke acara nikahan mereka. Jangan lupa datang yaww.

Makanannya enak-enak lho, sayang kalau nggak dateng hehehe

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Makanannya enak-enak lho, sayang kalau nggak dateng hehehe...
Jangan lupa vote dan komen yaww.

See you next chapter.

Demak, 21 Juli 2025

 Alena & Arka [Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang