Pakaian, dan keperluan lainnya gegas kurapikan ke dalam koper. Tak lupa tiket pesawat ryanair untuk keberangkatan kumasukan ke dalam tas kecil bersama buku, ponsel dan barang-barang penting. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, aku sejenak menghentikan gerakan menyisir rambut.
"Dew, can I come in?" Terdengar suara Anna sebelum aku bertanya siapa yang ada di luar.
"Yeah, come in." Aku mempersilakan.
Tak menoleh ke belakang, aku mengamati gestur Anna dari kaca. Dia memandangi koper dan tasku di atas tempat tidur, lalu menatapku tajam. Gegas, aku mengalihkan pandangan berpura-pura tak terganggu dengan kedatangannya. Usai merapikan rambut, aku bangkit lalu mengenakan hijab instan.
"Kau yakin akan melakukan ini?" Anna menunjuk koperku.
"Why not, tak perlu menceramahiku. Aku tahu apa yang kulakukan."
Anna mengangkat tangan, seperti hendak mengatakan sesuatu. Akan tetapi, obrolan kami teralih ketika ponselku berdering. Ada sebuah panggilan masuk di sana, terpampang foto si penelepon. Gilang.
Alih-alih menjawab, aku mengalihkan panggilan itu. Foto profil yang dipakainya berubah, tak lagi gambar dirinya yang mengenakan hoodie berlogo Breda. Kini di kontak Gilang terpasang foto saat kami ada di tengah festival. Potret itu membuat kilasan peristiwa kembali bermain di pelupuk mata.
Tanganku berkeringat dingin, napas kian berat. Keramaian sekitar membuat pikiran semakin kacau. Kelu kala memandang sebuah cincin putih di depan mata, beralih menatap siapa yang memberikannya membuatku tak bisa berpikir. Gilang, kenapa ... aku, aku ingin menolak tapi tak bisa berdusta masih ada yang tertingal di sana.
"Dew, aku menunggu." Gilang lirih memohon.
Aku melihat bulir bening yang merembes dari sudut matanya. Gilang. Apa artinya ... apa artinya dia begitu mengharapkanku kembali?
"Gilang, aku belum menjawab lamaran Rio. Maaf."
Luruh, air mataku tak terbendung. Vin dan Roosi berkomentar, sayangnya tak ada yang jelas terdengar olehku. Samar. Semuanya tak pasti.
Kotak cincin itu ditutup oleh Gilang sendiri. Dia menarik paksa tangan kananku, meletakkan kotak cincin seraya tersenyum. Senyum disertai air matanya yang tak berhenti mengalir.
"Kau pantas menyimpannya. Sekarang, ayo kuantar pulang," ucap Gilang.
Laki-laki berjubah mirip raja itu mengulas senyum lebih lebar. Dia mengatupkan jari-jari tanganku, seolah dia tahu bahwa aku akan menolak. Kami berjalan pulang, hening sampai tiba di depan apartemen.
Kotak cincin itu, masih tersimpan di dalam tas. Aku mencari kotak itu, yang di dalamnya sudah kusisipkan surat singkat.
"Kau mau memberikan ini padanya? Kalau tidak, aku bisa minta tolong pada yang lain?"
Anna tampak ragu-ragu meraih kotak cincin yang akan kutitipkan padanya. "Terima kasih. Aku percaya padamu."
"Rio ...."
"Aku akan mengurusnya," selaku menegaskan.
"Dia menunggumu di depan, aku datang karena ingin memberitahumu Rio datang."
Aku terkesiap, seketika berlari kea rah jendela balkon. Benar, Rio ada di depan sana. Tidak. Aku tak ingin bertemu dengannya. Gegas, aku kembali menghampiri Anna.
"Kau temui dia dulu, aku akan menyusul," pintaku.
"Begitu lebih baik, aku pikir kalian memang harus bicara."
Aku tersenyum seraya mengangguk cepat. Sebelum pergi meninggalkan kamarku, Anna berbisik dia akan lebih dulu menyimpan kotak cincin yang kupercayakan.
"Tunggu aku di bawah, mungkin Rio bisa mengantarku ke bandara. Kami akan punya banyak waktu untuk saling bicara."
Kamar Anna berada tepat di ujung tangga. Aku membuka sedikit pintu agar bisa melihatnya saat menuruni tangga. Langkah kaki Anna terdengar sudah menapaki anak tangga lantai berikutnya. Tas kecil segera kuselempangkan, tak lupa kukenakan coat tebal untuk menghalau dingin.
Menyambar kunci kamar, lantas mengangkat koper. Sudah semua. Aku buru-buru menyusul Anna menuju lantai dasar. Aku melihatnya berbelok ke kanan lalu membuka satu daun pintu, lantas dia keluar dan menutup pintunya kembali.
Langkahku mengambil sisi kiri, yang kutuju pintu belakang apartemen.
Air mataku tak terbendung ketika dua wajah terlintas silih berganti. Bersama Rio, aku merasa berharga. Di lain sisi, aku tak sanggup mengingkari masih ada debar rasa ketika beradu pandang dengan Gilang.
Tak inginku melepas keduanya, pun tak mungkin memiliki keduanya. Aku tak mampu memilih.
Tamat
KAMU SEDANG MEMBACA
HOOP LIEFDE [Sudah Terbit]
General Fiction"Kau memang pemantik, namun hanya hatiku yang terbakar." Ario. Belanda menjadi saksi kisah Dewi dan Ario yang berjuang meraih cita dan cinta. Mampukah keduanya meraih?
![HOOP LIEFDE [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/212434861-64-k381185.jpg)