Anna tetap duduk di tepi tempat tidurku, meski aku menyuruhnya pergi. Dia baru saja menceramahiku tentang Rio dan Gilang. Menurut Anna aku labil, tidak dewasa dan menggantung kedua laki-laki itu. Kritiknya cukup pedas untuk diabaikan, tapi aku tak menyanggah pernyataannya. Pun aku tak ingin membela diri.
"Kau ini."
Anna bangkit ketika aku menarik tas kecil yang tergeletak di dekatnya. Aku menatap wajahnya, menunggu apa yang akan dia katakan lagi.
"Aku ada janji, atau kau mau ikut bersamaku. Bagaimana?" tanyaku.
"Kau menolak ajakan Rio ke Rotterdam dan sekarang, pergi bersama Gilang. Yang benar saja, Dew. Aku tak mengerti apa yang kau pikirkan."
Anna mencercaku dengan argumennya.
"Aku tidak suka diatur, Ann. Rio harusnya tahu itu, tapi dia malah seenaknya padaku."
Aku membuang muka, sinis. Mengingat terakhir kali berbincang dengan Rio. Saat dia menyodorkan dua buah tiket kereta padaku. Di saat yang sama, laki-laki itu telah melukaiku. Rio, padahal aku tengah berjuang meyakinkan diri bahwa dialah pilihan terbaik.
Akan tetapi, semakin hari Rio justru membuatku ragu. Dia memaksakan kehendak, tak bertanya aku bersedia atau tidak. Tidak meminta pendapat, hanya menggunakan sudut pandangnya tanpa mau tahu sudut pandangku. Sungguh, itu mengecewakan.
Sementara Gilang, dia malah berusaha membebaskan. Tak lagi protes tentang hubungan kami di masa lalu. Bahkan, Gilang tak pernah mempermasalahkan keberadaan Rio saat ini. Dia tak marah jika aku berkata tidak, tak pergi meski aku mengusirnya berkali-kali.
"Kau akan kembali padanya? Laki-laki yang bernama Gilang itu."
"Ann, berhenti mendikteku."
"Aku tidak mendikte, aku hanya bertanya. Rio sepupuku atau tidak, tetap saja faktanya sama. Kau mempermainkan dia." Suara Anna terdengar sengit.
"Aku tidak suka caramu berpendapat," sanggahku menahan amarah.
Sementara titik bening di sudut mata mengalir tak terbendung. "I have to go, sorry."
Aku menengadahkan tangan kanan, meminta Anna keluar dari kamarku. Gilang sudah menunggu di depan, aku tidak mau dia menerobos masuk atau duduk di kursi tamu apartemen. Akan banyak gosip menyebar jika sampai penghuni lain melihat Gilang ada di ruang tamu. Memang pergaulan antara laki-laki dan perempuan sangat bebas, tapi jarang sampai ada yang berkunjung ke tempat tinggal.
Usai menutup pintu, aku gegas turun ke bawah. Tak kutengok lagi Anna, setelah berucap sampai bertemu lagi. Sudah. Aku sedang di emosi yang kurang baik, dan tak ingin mendebatnya untuk menghindari kata-kata kasar terucap.
"Siap?" tanya Gilang ketika melihatku. Dia tak bawa sepeda atau yang lainnya. Apa kami akan berjalan kaki.
"Jalan?" tanyaku memastikan, seraya menggerakkan jari telunjuk dan jari tengah memeragakan kaki berjalan. Gilang mengangguk.
Kami melangkah beriringan. Selang lima menit kami hampir di ujung jalan sebelum berbelok mengambil arah ke Grote, menuju area Eglise. Gilang sempat bercerita akan ada parade di sana.
"Semalam ramai sekali," ucap Gilang tiba-tiba.
"Benarkah?" Aku pun mendengar beberapa teman apartemen pulang dini hari karena turut melihat-lihat upacara pembukaan carnaval.
"Begitulah, tapi aku tahu kau tidak akan mau keluar malam di kerumunan banyak orang seperti itu. Pesanku, nanti jangan sembarangan ambil minum, pastikan kau minum air atau teh. Bukan yang lainnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
HOOP LIEFDE [Sudah Terbit]
Ficción General"Kau memang pemantik, namun hanya hatiku yang terbakar." Ario. Belanda menjadi saksi kisah Dewi dan Ario yang berjuang meraih cita dan cinta. Mampukah keduanya meraih?
![HOOP LIEFDE [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/212434861-64-k381185.jpg)