Bagian Sebelas

17 3 0
                                        

"Dewi, di depan banyak tamu," bisik salah satu teman.

Aku mengangguk, segera menutup keran air agar tidak meluber. Buru-buru, kukeringkan tangan yang banyak, menunda kembali pekerjaan mencuci piring. Hari ini, teman yang bertugas di pencucian tidak masuk. Terpaksa kami berempat yang kesemuanya pelayan resto bergantian mencuci piring kotor. Setiap Jumat malam, semua bangku selalu penuh. Menyenangkan, tapi juga melelahkan. Terkadang tidak sempat duduk sekejap untuk melepas penat.

"Meja mana yang belum?" tanyaku pada teman yang bersisian jalan. Maksudku, meja yang belum ditanya mau pesan apa.

"27," jawabnya sambil berlalu.

Di sana, terlihat olehku seorang laki-laki duduk sendirian sambil membaca sebuah buku hingga menutupi wajahnya. Sembari berjalan, kuambil pulpen dan buku catatan ysng terselip di kantong celemek.

"Goedeavond ...."

"Nasi goreng, air putih dan secangkir espresso."

Dia buka suara sebelum aku selesai bertanya. Untuk formalitas, aku mencatat pesanannya. "Kau menguntitku," bisikku lirih sambil menulis.

"Tidak, aku hanya ingin makan. Kau boleh menemani kalau mau."

"Jangan bermimpi."

Segera, aku balik badan setelah Gilang berkata tak ingin pesan yang lain. Ketika melewati meja kasir, aku menatap kilat tidak suka si bos tempatku bekerja. Mungkin dia memerhatikanku. Perlahan aku mengambil napas dalam, mengembuskan perlahan. Semoga Gilang tidak berbuat nekat, bisa-bisa aku diberhentikan.

"Meja nomor 27," teriakku tidak terlalu keras, seraya menempel kertas catatan di papan depan meja koki.

Tanpa menunggu, aku kembali ke depan. Karena terdengar lonceng pintu berbunyi pertanda ada tamu yang masuk atau keluar. Benar, beberapa meja sudah berganti pengunjung. Setengah berlari, aku menghampiri lantas memunguti piring dan gelas kosong.

Sampai di dapur, sudah ada seorang teman yang berdiri di depan tempat pencucian piring. Dia seorang ibu muda warga asli yang bekerja untuk menambah penghasilan, begitu katanya. Dia tersenyum ketika aku meletakkan piring dan gelas kotor.

"Kau rajin," pujinya dengan senyuman lebar.

"Aku tersanjung." Aku tertawa ringan sebelum meninggalkannya.

Keluar dari dapur, aku mendekati meja koki tempat meletakkan makanan siap disajikan. Ada dua nampan yang bertuliskan nonor 26 dan 27, lebih baik kuambil nomor 26 biar pesanan Gilang dibawa oleh orang lain.

"Dew, kembali bekerja."

"Hm." Aku terkesiap.

Saat sadar, ternyata nampan untuk meja nomor 26 sudah diambil oleh teman. Hhh, aku tak punya pilihan. Mau tak mau kuambil juga nampan itu, mengayun langkah kea rah Gilang ... lagi.

Tiba di depan laki-laki menyebalkan itu, aku menurunkan isi nampan cepat-cepat. Gegas balik badan sebelum dia berkata atau mengajakku bicara. Aku harus menjaga kode etik pekerja untuk tidak bersikap sok akrab dengan pelanggan. Meski, mungkin Gilang berbasa-basi.

Kakiku hampir bergerak ke meja lain ketika sang pemilik resto memanggil namaku. Perlahan aku mendekat.

"Kau mengenalnya?" tanya si Bos wanita.

Dia menggerakan dagu ke meja nomor 27.

"Dia ... teman kuliah," jawabku lirih.

"Katakan kalau dia mengganggumu."

Aku seketika mendongak, tidak mengerti kenapa Meneer berkata seperti itu. Kenapa, dari mana tahu aku pernah ada hubungan dengan Gilang?

"Sejak tadi mata laki-laki itu memandangi tubuhmu," tegas Meneer.

Aku sedikit menahan tawa. Ternyata itu alasannya. "Terima kasih perhatiannya."

"It's okay, lebih baik kau mencuci piring saja."

Aku mengangguk sebelum beranjak dari samping tempat kasir. Satu jam kerja terakhir kuhabiskan berteman dengan sabun dan spons. Pukul sepuluh tepat, aku keluar dari resto. Di dalam beberapa teman masih bertahan karena tempat kerjaku baru akan tutup pada pukul dua belas.

"Pulang juga akhirnya." Rio menengadah, beralih dari layar ponselnya ketika aku menginjak titian dua tangga kecil di pintu masuk.

"Kau menungguku?" tanyaku sembari berjalan ke arahnya.

Rio tersenyum, mengangguk pelan satu kali. Entah apa yang berbeda, terkadang Rio tampak menawan dengan pakaiannya yang sederhana tapi rapi. Padu padan busananya terlihat bagus dan pas dikenakan. Tanpa sadar, aku mengulas senyum padanya.

"Jumat malam yang cerah," katanya.

Seketika aku menutup mulut dengan tangan kiri. Isyaratnya kurang halus, tapi aku mungkin terlalu pandai menafsirkan.

"Bagaimana?" tanya Rio kemudian.

"Apa?" Aku pura-pura tidak paham.

"Baiklah, kalau tidak mau."

Ish, menyebalkan. Dasar gengsian. Tidak berani terus terang tapi suka menyimpulkan seenaknya.

"Ya, sudah. Aku mau pulang," putusku.

Tanpa peduli. Aku berjalan melewatinya, lalu membuka kunci pengaman sepeda yang terparkir di depan resto.

"Aku belum makan malam!" Rio berseru, suaranya lucu.

Aku memutar badan, memandangnya yang masih berdiri di tempat semula.

"Apa itu ada hubungannya denganku?"

Dia mau adu keras kepala. Aku pun bisa.

"Ginneken, aku ingin pancake." Rio mengaku.

Aku merapatkan bibir, lalu kembali mencoba melepas kunci pengaman sepeda. Tiba-tiba dia menyerobot, mengambil alih pegangan sepeda dari tanganku. Tanpa berucap, Rio menggerakan kepala agar aku segera membonceng. Baiklah.

Lambat, kami mulai bertolak menuju Ginneken Markt. Jalan, yang di sepanjang trotoar jalannya penuh dengan meja kursi di bawah naungan payung. Bahkan, ada pula meja tanpa payung.

"Apa di sana tidak sepi?" terkaku, lebih bertanya pada diri sendiri.

"Siapa peduli, bukankah yang menyediakan menu si penjual?"

Rio malah melempar pertanyaan retorik. Aku berdehem, tak berniat menanggapi candaaanya. Malas jika obrolan kami harus berujung debat tak berkesudahan.

"Dew?"

"Apa?"

"Aku lupa di mana menyimpan motivation letter dan SWOT."

Reflek aku memukul punggung Rio. "Ceroboh, kalau diperlukan lagi bagaimana?"

"Memang diperlukan, maka dari itu aku mencarinya. Dan tidak kutemukan di mana pun."

"Are you kidding me?" Aku tidak percaya kalau dia sampai kehilangan berkas itu.

"No, I'm not."

"Rio, kau tahu kan ini buruk?!"




Bersambung ....

HOOP LIEFDE [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang