Bagian Dua Belas

26 5 1
                                        

Menyebalkan melihat Rio tak juga menyentuh makanannya. Sudah hampir dua puluh menit dia hanya diam dan berkutat dengan keyboard. Mengabaikanku tentu saja. Padahal, dia yang tadi mengajakku ke sini. Katanya belum makan malam, tapi dia tak tampak lapar sama sekali.

"Kau akan mengerjakan itu semalaman ... di sini?" Aku meluapkan kesal.

Rio mendongak, memandangku lalu tersenyum. "Kau kedinginan?"

Rio membenahi penutup kepalanya, sebelum meminum kopi yang kuyakin sudah dingin. Aku merapatkan bibir, menanggapinya. Pastilah, aku kedinginan. Pukul berapa ini, pun angin semakin ribut. Bukan tak mungkin sebentar lagi gerimis turun, cuaca sedang tidak menentu beberapa hari belakangan.

"Kuhabiskan ini dulu," ucapnya sebelum menyuap sedikit stamppot dengan garpu. Tersedia juga sendok tapi kami tidak menggunakannya.

"Dewi, kau tahu—"

"Tidak," jawabku cepat.

"Dengar dulu." Rio menggeser laptopnya, lalu menghadap piring makan dengan baik dan benar. "Aku sepertinya tidak perlu menulis ringkasan SWOT lagi."

Seorang pelayan tiba-tiba datang menjeda obrolanku dan Rio. Wanita paruh baya berambut kuning menyala itu berkata, kedai akan segera tutup karena bahan makanan sudah habis. Aku menjelaskan singkat, bahwa kami pun akan segera beranjak. Wanita itu tersenyum lagi seraya menyerahkan tagihan, aku membayarnya. Tak ingin mengganggu makan malam Rio yang tertunda.

"Nanti kuganti," ucap Rio ketika pelayan tadi mengayun langkah pergi.

"Tak apa, kenapa mesti seformal itu. Kau bisa mentraktirku lain waktu," saranku daripada harus berdebat tentang hal sepele. "Tadi, apa yang ingin kau katakan?"

Laki-laki di depanku, menunjukkan telapak tangan kanannya. Isyarat agar aku menunggu. Benar, Rio menghabiskan makan dan minum yang tersisa. Aku sabar menanti.

"Aku ingin bilang, sepertinya tak perlu lagi menulis ringkasan SWOT."

Aku seketika berkerut kening mendengar ucapannya. Tidak perlu menulis ringkasan SWOT, yang benar saja. Apa dia yakin akan bisa menjawab semua pertanyaan saat sidang atau interview dari perusahaan tempat magang tanpa membawa ringkasan.

"Aku tidak mengerti."

Sungguh, aku tidak paham maksud Rio. Sekilas, terlintas dalam benak deretan huruf yang dulu kutulis untuk melengkapi motivation letter. Menyusunnya saja pusing. Namun, harus dilampirkan sebab termasuk kelengkapan wajib saat mengajukan beasiswa atau mendaftar ke universitas luar negeri.

Memang setiap universitas memiliki syarat yang berbeda. Akan tetapi, motivation letter adalah syarat umum dan tidak pernah terlewat sebagai syarat utama. Dalam surat motivasi, setiap calon mahasiswa harus mempromosikan dirinya. Ada beberapa pertanyaan umum yang harus dijawab dan dijelaskan dengan baik, mudah dimengerti. Tidak ada salah atau benar, karena motivasi setiap orang pasti berbeda.

Dalam motivation letter atau surat motivasi, setiap calon mahasiswa harus menjelaskan tentang kenapa memilih kampus tujuan. Alasan mengambil jurusan yang diinginkan, kenapa layak diterima, dan apa harapan juga goals setelah lulus nanti. Maka tidak ada yang namanya coba-coba ambil jurusan ini atau itu.

Sebelum mendaftar, aku merasa sudah yakin sekali dengan pilihanku. Akan tetapi, itu tidak membuat semuanya jadi mudah. Keinginan dan impian itu ada, dan begitu besar. Sayangnya merangkai kata untuk meyakinkan pihak kampus terasa seperti sesuatu yang mustahil. Bahkan, berkali-kali berkas berisi motivation letter hanya berakhir dengan ketik, hapus, ketik, hapus, lalu tutup lembar. Begitu terus sampai ....

HOOP LIEFDE [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang