10.Bian atau Zen?

1 1 0
                                    

"Permisi, ini ada titipan dari tuan Zen, " Ujar seorang wanita paruh baya, ia menyerah kan 3 paper bag berwarna biru.

Deg.
Lany yang sedang duduk di atas kasur seketika berdiri saat mendengar nama yang mengganggu pikirannya akhir akhir ini.

"Ini apa Bu? " Tanya Marlin melirik kedalam paper bag.

"Itu isinya baju, panggil saya nya Bi Ningsih aja Non. Saya ART yang bekerja disini, "

"Owh makasih Bi, "

"Kalau gitu saya permisi dulu, "Bi Ningsih berlalu. Marlin menutup pintu kamar lalu meletakkan paper bag itu diatas kasur dan mengeluarkan isinya.

"Kak, kakak sadar gak? Bi Ningsih tadi bilang Tuan Zen? Itu...? " Tanya Lany duduk di samping Daichi.

"Maksud kamu itu Zen, orang yang kagum sama kamu? " Lany mengangguk.

"Lany, kamu jangan ge'er gitu dong. Yang namanya Zen kan banyak bisa aja itu yang dimaksud Bi Ningsih papah nya Bian, " Ujar Marlin.

"Tapi kak,yang tinggal disini dan yang punya rumah kan tadi Mas Bian,Terus disini kayaknya cuma Mas Bian deh yang tinggal disini, kita dari tadi gak liat saudara atau foto gitu kan? " Ujar Lany.

"Aduhh Lan, jangan berharap tinggi dulu deh. Belum tentu itu Zen yang dibilang Bi Ningsih cowok yang suka ama lo, mending kita mandi, beres beres habis itu tanya langsung sama yang punya rumah. " Jelas Daichi membuat Lany terdiam.

"Nah iya, sekalian kita tanya kenapa Bian itu bisa tau kita diculik, " Ujar Marlin. Daichi mengangguk setuju sedangkan Lany masih bergelut dengan pikirannya.
Beberapa saat mereka memutuskan untuk mandi bergiliran.

-LFA-

Suasana di meja makan yang berisi berbagai macam makanan dan empat manusia itu hening. Hanya suara denting sendok dengan piring yang terdengar.

Sebelum sampai semeja makan dengan Bian, ketiga gadis itu dipanggil oleh Bi Ningsih agar makan malam bersama.

Bian. Cowok itu sudah menyelesaikan makan nya sejak dua detik yang lalu. Tapi tak juga memilih beranjak meski ingin. Ia menunggu ketiga gadis yang semeja dengan nya selesai untuk memberi penjelasan yang mungkin akan ditanyakan oleh mereka.

Mata tajam dengan bulu mata lentik itu tak pernah lepas menatap sesosok gadis di depannya yang sedang mengunyah makanan dengan nikmat dan senyum ceria. Yang tanpa sadar membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak.

Sadar Bian sadar! Belum waktunya dia muncul!

Sesuatu yang berdetak kencang didalam sana tambah bergejolak saat melihat gadis di depannya mengusap bibir nya yang terkena sambal. Seperti slow motion, gadis didepannya menjilat ujung bibir nya lalu melanjutkan kunyahan nya yang tertunda.

Merasa diperhatikan dengan tajam, Lany mendongak lalu mata nya bertabrakan dengan mata tajam yang menatap penuh arti terhadap nya. Seolah tersadar, dengan cepat Bian mengalihkan pandangan kearah lain. Sedangkan Lany mengambil gelas minum nya lalu meneguk nya habis.

Marlin dan Daichi tidak sadar karena terlalu menikmati makanan didepan nya dengan rasa lapar yang menguap akibat cacing mereka yang sudah berpuasa seharian.

"Ekhem, " Marlin berdehem memberi kode agar cowok berperawakan seumuran nya itu memberi penjelasan setelah ia menyelesaikan makanya.

"Jadi, Mas nya ini tau darimana kami diculik? Lalu kenapa mas nya bisa kenal dan peduli untuk menyelematkan kami? " Marlin bertanya mewakilkan Lany dan Daichi yang juga penasaran.

Pertanyaan yang sulit dan menjebak bagi Bian, tapi ia sudah menyiapkan jawaban yang masuk akal dari jauh waktu.

"Jujur saja,saya sebagai manusia tentu akan menyelamatkan siapa saja jika ada dalam posisi kalian. Untuk tau darimana nya, mungkin kalian akan tau suatu saat nanti. Yang jelas sekarang saya tidak bisa jelaskan secara detail. "Jelas Bian formal, cocok sekali dengan raut wajah datar nan tegas nya.

" Kenapa gak bisa sekarang? Memang masalah nya sebesar apa? Kenapa kami gak tau apa apa? "Lany bertanya dengan spontan.

Bian tersenyum tipis membuat ketiga gadis didepan nya kaget. Manisnya.

" Karena kalau kalian tau semuanya, kemungkinan kita tidak bertemu dan saya tidak menolong kalian. Jelas saya menolong kalian karena saya tau titik permasalahan nya yang tidak akan bisa kalian pahami tanpa bukti. "Jelasnya lagi dengan suara rendah.

" Oke, kalo gitu siapa nama panjang atau identitas kak Bian? Masa kami ditolong tanpa tau latar belakang orang nya? "Daichi membuka suara lantaran sudah tak bisa menahan gatal lidahnya.

Bian terdiam sejenak. " Bagaimana kalau kita mulai dari identitas kalian terlebih dahulu baru setelah itu saya? "Ketiga gadis itu saling berpandangan. Daichi mengangguk setuju saja karena tak tahan oleh kekepoan nya terhadap Bian. Is tak sabar mengetahui seluk beluk cowok idaman nya itu.

" Ehm mulai dari aku dulu kalo gitu. Nama aku Daichi Harvin. Umur 17 tahun dua bulan lagi,"Ujar Daichi tersenyum genit. Lany hanya menggeleng pelan melihat tingkah sahabat nya yang berubah lembut saat sifat aslinya seperti preman.

Marlin yang berada di samping Daichi pun mengangkat suara. " Saya Marlinda Afrananda. Kakak Melany. Umur 21 tahun. "Ujar Marlin, normal.

Mata cowok itu beralih menatap gadis yang kini akan membuka suara lembutnya. Entah kenapa saat menatap nya, akan sangat sulit untuk mengalihkan pandangan.

" Aku Melany Afrananda. Adik kak Marlin. "Ujar Lany tersenyum tipis. Setipis angin dan debu. Oke lupakan.

Bian terpaku menatap Lany. Tidak ada angin tidak ada hujan. Matanya seolah di jampi jampi agar selalu melihat kearah Lany. Oke lebay.

" Nah! Sekarang giliran kak Bian! "Daichi menggebrak meja cukup keras yang membuat Bian tersadar.

Sedikit terkejut Bian menatap Daichi yang tersenyum licik nan menggoda.

Sial! Jantung, kamu dikerjain bocah!  Batin Bian kesal.

" Saya Anak pertama sekaligus bungsu di keluarga saya. Saya penerus generasi keluarga kakek dari ibu saya karena saya cucu satu satu nya mereka. Rumah ini rumah singgah saya saat berkerja di cabang perusahaan dikota ini. "Jelas Bian. Lalu setelah nya diam.

" Lhoh kok diam, lanjutin dong kak. Belum jelas kali, kita belum tau nama sama umur kakak! "Ujar Daichi kesal.

Bian meringis kecil. Apa ini saatnya?

" Umur saya... 20 tahun.... Saya... "

"Ha? 20 tahun? " Tanya Daichi terkejut memotong ucapan Bian. Anjir! Muka papa muda nan berwibawa didepan gue ini umur 20 tahun? Astaga, gue kira umur 30! Fiks jodoh, cuma beda tiga tahun!

"Ya. Dan nama saya.... " Lagi lagi Bian memberi jeda ucapan nya agar memberi kesan penasaran kepada ketiga gadis didepannya.

"Nama saya..... "Jeda lagi yang semakin membuat ketiga gadis didepan nya tambah penasaran.

" Ekhem Nama saya Z..... "

-LFA-

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA:)
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN🙏

31 Juli 2020

Love For AdmirersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang