13. Pengakuan Zen

4 2 0
                                    

"Hei kok malah bengong. " Ujarnya lembut menyadarkan Lany.

"Jadi Zen ini beneran gak ingat kalo mas Bian udah nolongin aku? " Batin Lany bertanya.

"Hmm aku... Aku... Kamu gak inget? Kamu udah nolongin aku kemarin. "Terpaksa Lany pura pura tidak tau bahwa cowok didepannya itu mempunyai dua kepribadian.

"Nolongin lo? " Tanya Zen bergumam sendiri. Cowok itu seperti sedang berpikir keras.

"Kapan? Gue gak inget. "

Aduh, terus aku jawab apa?

"Kalo gak percaya, kamu liat aja ke lantai bawah di sana ada sahabat sama kakak aku. Kalo kamu gak ingat. Kenapa kamu bisa disini? "

"Ya karena ini rumah gue, habis pulang kerja gue langsung ke sini. " Ujar cowok itu yang sekarang beranjak duduk di pinggiran kasur.

Dia menepuk kasur bagian samping nya mengisyaratkan Lany duduk di samping nya. Lany menggeleng pelan.

"A.. Aku mau keluar, gak baik cowok sama cewek berdua satu kamar. Bukain tolong pintunya. " Ujar Lany lembut. Membujuk Zen agar cowok itu membuka pintu dengan kunci yang ia pegang sejak tadi.

"Kasih gue penjelasan dulu kenapa lo bisa ada disini? " Ujar Zen.

"Penjelasan apasih? Emang kamu gak inget kalau kamu itu... " Kepribadian lain Bian

"Kamu apa? Duduk sini dulu bentar. Gue gak akan macem macem di rumah gue sendiri. "Ujarnya.

Zen kok kayak gak kenal aku sih? Apa dia cuma pura-pura gak kenal supaya aku pun gak curiga, hhh aku kan udah tau dia yang sebenarnya!

" Ck, malah bengong lagi!" Dengan lancang lagi Zen menarik tangan Lany, akibatnya Lany terduduk di samping nya dengan jarak yang dekat. Lany menahan napas gugup saat mendengar suara jantung Zen. Berirama seperti lagu yang mengalun di telinganya.

"Gue tau, lo udah tau yang sebenarnya, padahal gue mau ngasih surprise pas ultah lo nanti, sekalian ngelamar lo. Eh si Bian kampret itu pake ember segala! "

Lany menoleh kaget, tapi ia tambah terlonjak kaget saat wajah mereka menyisakan 1 senti meter. Dengan cepat Lany menjauh dari Zen.

"Kamu ingat? Semuanya? "

Zen tersenyum miring. "Menurut lo? Masa iya gue lupa sama cecan didepan gue, " Ujar nya menatap Lany dalam. Aish Lany jadi salting sendiri.

"Berarti kamu juga ingat kan kenapa aku ada disini? Kenapa masih pake nanya! "

"Oh ya kamu juga tau kan kalo aku tu dah tau kamu bukan manusia asli, kamu cuma kepribadian lain yang datang ke tubuh Bian! "

"Ternyata si Bian itu udah nyuci otak lo ya! Dasar! "

"Sini gue jelasin yang sebenarnya sama lo, " Ujar Zen lagi menepuk kasur didekat nya.

"Gak mau, aku udah tau semuanya! Gak perlu dijelasin lagi! "Setelah mengatakan itu Lany hendak berjalan ke arah pintu, namun Zen terlebih dahulu menahan nya.

" Dengerin dulu ya, lo salah paham. "Ujar nya teramat lembut. Melihat tatapan memohon lelaki itu, Lany luluh.

" Tapi, aku gak mau di dalam kamar kayak gini berdua. Gak muhrim! "

"Oke, kita ngomong di balkon. " Ujar Zen membawa Lany keluar balkon kamarnya. Lalu mereka duduk berdampingan di kursi yang tersedia disana.

"Yaudah ngomong, kok malah diem. " Gumam Lany, gugup saat ditatap inten oleh Zen.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 06, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love For AdmirersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang