Kalau ada satu hal yang Julia tak pernah kira akan harus dihadapinya ketika memutuskan belajar di jurusan Sastra Inggris ialah, musikalisasi puisi.
Julia telah menghabiskan hampir seluruh jeda antar kelasnya di perpustakaan, berulang-ulang memutar satu klip berjudul When Love Arrives milik Sarah Kay dan Phil Kaye, dan berusaha memutar otaknya akan bagaimana seharusnya ia membuat puisi tersebut menjadi sebuah nyanyian.
Dalam pemutaran yang ke tujuh belas ribu kalinya, mendadak ponsel Julia bergetar beberapa kali pertanda ada banyak pesan yang masuk. Gadis itu terkesiap, sebelum mengecek notifikasinya dan menemukan nama 'Lucy ❤️' terpampang di layar. Baru saja Julia akan membuka kunci ponselnya, mendadak orang yang barusan mengirim pesan sudah mendering ponsel Julia dan memaksanya mengangkat telepon secara bisik-bisik di dalam perpustakaan.
"Halo? Ada apa?" bisik Julia ke ujung sana, yang mengundang kerutan pada dahi Luciana. Namun toh percuma, karena yang ditelepon tak dapat melihat ekspresi bingungnya itu.
"Kau ngapain bisik-bisik begitu?" tanya Luciana dengan suara normal, sekarang sudah bukan lagi mengerutkan dahi namun menaikkan sebelah alisnya. (Tetap sia-sia karena mereka sedang tak melakukan panggilan video).
"Aku sedang di perpustakaan, berusaha berpikir," jawab Julia. Kali ini hampir seluruh bagian atas badannya menunduk, seperti sedang berusaha menyembunyikan kepala Julia di bawah meja agar tak terdeteksi pustakawan yang bertugas.
"...kau kan bisa keluar sebentar untuk angkat telepon supaya tak usah sembunyi di kolong meja?"
Kini giliran Julia yang merengutkan dahi, sebab bagaimana mungkin Luciana bisa tahu apa yang sedang ia lakukan? Memunculkan setengah wajahnya ke atas meja, Julia menoleh ke kanan dan kiri demi memastikan tidak ada yang sedang memperhatikan kelakuan ganjilnya.
"Julia? Julia, astaga keluar saja dong!" tukas Luciana dari ujung telepon, membuat Julia yang sudah kembali menunduk di kolong sangat amat terkejut dan menyebabkan kepalanya terantuk bawah meja yang akhirnya menimbulkan tatapan curiga dari orang-orang.
"Ah... Aku yakin sekarang sudah ketahuan. Sabar, aku akan bereskan barang-barangku dan pergi keluar, okay?" Julia berbisik terakhir kali, sebelum mengangkat badannya dan membereskan seluruh barangnya dari atas meja perpustakaan. Ia menutup laptop tanpa mematikannya, serta memasukkan buku puisinya ke dalam tas secara asal-asalan. Setelah memberikan tatapan yang berfungsi sebagai ucapan maaf ke pustawakan dan pengunjung lainnya, Julia bergegas pergi keluar.
"Hello???"
Merupakan sambutan yang diberikan Luciana ketika Julia kembali menekankan layar ponselnya ke telinga. Mungkin terantuk kolong meja, atau diberikan tatapan galak dari pengunjung perpustakaan, atau nada menyebalkan Luciana ketika menyapanya lagi telah membuat Julia merasa jengkel habis-habisan. Maka dari itu, ketika membalas Luciana, Julia berbicara dengan suara amat sangat keras, tak peduli lagi pada tatapan nanar orang lain yang juga sedang makan di kafetaria kampusnya.
"APA? APA? APA?! Huh. Kau membuatku terantuk meja, diberikan tatapan sinis oleh orang-orang di perpus, dan sekarang oleh orang di kafeteria! Maumu apa, siiih, Lucy?" ujar Julia sebal. Bibirnya mengerucut kecil, agak mirip seperti anak bebek. Ekspresinya membuat mahasiswa lain di kafetaria merasa terlalu gemas sendiri, hingga akhirnya mengalihkan pandangan.
"Aku cuma mau tanya bagaimana progres musikalisasi puisimu? Sudah ketemu pengiring belum? Galak betul!" terdengar Luciana membela diri sendiri, setelah seluruh kekacauan (menurut Julia) yang telah ia timpakan pada sahabatnya tersebut.
Namun bukan Julia namanya kalau tahan lama-lama bermarahan dengan sahabat kecilnya, maka dari itu Julia melunak sedikit setelah tidak merespon omongan Luciana selama beberapa detik. "Jules, maaf dong..."

KAMU SEDANG MEMBACA
Never Enough
RomanceSetiap orang pasti memiliki satu atau dua potong cerita untuk dibagikan, namun tidak selalu mempunyai orang lain yang mau menceritakannya kepada dunia. Di sini, saya akan berusaha sebaik mungkin dalam mengisahkan tentang dua orang dengan dua kepriba...