Terhitung sudah lewat lima bulan sejak kejadian Joanne bertemu dengan si gadis lucu di toko roti dan hampir tiga bulan kembalinya ia ke kampus. Sampai hari ini, tercatat hari Minggu tanggal sekian di bulan November tahun sekian, rambut Joanne masih berwarna merah muda. Hanya saja puncak kepalanya telah menunjukkan sedikit warna hitam, tanda warna rambutnya sudah mulai luntur.
Joanne masih mahasiswi yang sama. Mengambil jurusan desain interior, tidak pernah telat mengumpulkan tugas, selalu entah kenapa datang lima menit lebih awal dari seluruh teman sekelasnya, dan tentunya masih jadi perencana yang ulet. Meski begitu nampaknya beban mahasiswi semester tiga membuatnya agak sedikit uring-uringan, ditambah pekerjaan sampingan (yang bahkan Joanne sendiri tak tahu kenapa ia lakukan!) yaitu menjadi seorang fotografer amatiran semakin mengusutkan pikirannya.
"Ah, rasanya aku tak mampu menyelesaikan gambar ini sesuai tenggat waktu," keluh Joanne pada suatu siang yang lumayan berangin, setelah lebih dari enam puluh menit berusaha mencari-cari sudut yang pas untuk memulai tugas menggambarnya. Mendengar tidak ada sahutan apapun, Joanne menaikkan wajah dan melihat ke arah pintu kamar yang terbuka.
Kemana perginya Judy? Biasanya dia selalu nomor satu kalau mengeluh tentang tugas kampus, batin Joanne dalam hati.
Tak sampai lima menit, terdengar bunyi-bunyian aneh dari pintu kamar asrama milik mereka. Mirip seperti bunyi yang muncul ketika kenopnya dibuka. Mata Joanne refleks menyipit dalam kecurigaan tingkat tinggi. Seingatnya, kamar asrama tempat ia dan Judy tinggal selalu dikunci. Kalau Judy tertidur di kamar sebelah dan ada seseorang yang membuka pintu...
"Heh, maling?" gumam Joanne, berusaha menyatukan ide-ide dalam pikirannya. Mencoba mengingat-ingat, ia memutar kembali memori akan hal terakhir yang dilakukan oleh Judy sebelum teman baiknya itu mendadak diam dan kamar mereka mungkin sedang dalam proses dibobol maling.
Joanne ingat, kali terakhir ia mengobrol dengan Judy adalah ketika mereka makan siang bersama. Senyuman kecil terbentuk di wajahnya karena mengingat telur orak-arik enak yang ia masak siang tadi. "I really am a good cook."
Menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat agar mengusir pikiran telur orak-ariknya, Joanne lalu kembali fokus. Kini ia benar yakin kalau Judy jatuh tertidur di kamar sebelah. Menguncir rambut merah mudanya yang sudah harus diwarnai ulang dalam satu kuncir kuda, Joanne kemudian mengambil pukulan kasti milik Ayahnya yang memang ditaruh di kamar asrama mereka sebagai perlindungan pertama melawan penjahat. Lalu, gadis itu keluar secara perlahan dari kamar.
Berjinjit kecil-kecil dan berusaha tidak menimbulkan suara, Joanne sudah memegang pemukulnya tinggi di atas kepala. Terdengar bunyi ceklik yang cukup keras, pertanda orang dari luar telah berhasil membobol pertahanan pertama dari kamar asramanya. Joanne bersiap-siap tak jauh di depan pintu, kerutan mulai muncul di dahinya sebagai akibat dari usaha Joanne berkonsentrasi penuh untuk memusatkan kekuatannya demi memukul si pencuri.
Pintu mengayun terbuka dan Joanne berteriak, "HIYAAAT! AWAS KAU-"
"ARGH, JANGAN PUKUL!!!"
Joanne memekik ketika mendengar suara perempuan dan dari balik kantung kertas jumbo berisi bahan makanan selama sebulan, muncul lah setengah kepala Judy. Ia juga mengerutkan dahi, tapi tentunya untuk alasan yang sama sekali berbeda dari Joanne. Selama semenit penuh mereka berpandang-pandangan. Judy dengan kantung belanjaan dan Joanne yang masih mengangkat pukulan kasti.
"Ngapain sih kau?!" todong Judy setelah menaruh dua kantung belanjaannya di konter dapur. Air mukanya setengah sebal, setengah lagi letih karena baru saja berjalan dari supermarket yang lumayan jauh.
"Aku kira pencuri... Hehe, sori," ucap Joanne, menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Lagipula aku tidak dengar kau keluar kamar. Sejak kapan sih?"
"Sejak kau sibuk mengomeli secarik kertas putih yang seharusnya kau pakai menggambar tugasmu," dengus Judy, benar-benar tak habis pikir dengan perilaku sahabatnya. Joanne memang salah satu orang paling rapi dan berpikiran panjang yang ia temui, namun kalau sudah memasuki musim ujian, Joanne bisa jadi sangat mudah stres juga cemas. Seringkali pikirannya buntu, padahal keseluruhan kuliah Joanne membutuhkan kreativitas yang amat tinggi.
"Aku diambang mampus, nih. Buntu betul. Padahal desain kamar ini harus kuserahkan paling lambat lusa, namun sampai sekarang aku masih berdebat mengenai layout, konsep, dan sudut yang mau kuambil," gerutu Joanne tiba-tiba. Panjang dan lebar padahal tak ada yang bertanya.
Judy menyempatkan menepuk bahu temannya dengan pelan, kemudian lanjut mengeluarkan satu per satu barang yang ia beli di supermarket. "Istirahat dulu, Jo. Kau masih ada 48 jam penuh. Ingat tidak, sewaktu kau ikut konferensi dan baru bisa mengerjakan desainmu sehari sebelum tenggat? Hasilnya bagus kan?"
Joanne mengangguk pasrah, mengingat desain mini pertamanya. Kala itu mereka masih menggunakan layout sederhana dan Joanne hanya ditugaskan menambah serta mengurangi detil yang tak perlu, akan tetapi tetap terhitung sulit bagi anak yang seumur hidupnya tak pernah belajar apa-apa mengenai desain interior.
"Sudah lah, jangan terlalu stres. Sana pergi ke luar, segarkan dulu pikiranmu. Baru menggambar lagi," usul Judy.
"Tapi-"
"Kalau kau begitu cemas akan kekurangan waktu, bawa sekalian alat gambar dan kertasmu. Pergi jauh-jauh sana. Biar aku bisa masak dengan tenang."
Joanne otomatis memeluk Judy, yang mengakibatkan gadis berambut cokelat itu agak syok. Akan tetapi, balas memeluk sepersekian detik kemudian, bahkan dengan senyuman geli. "Thanks for the advice, you truly are the best person in the world."
"Ya, ya, ya. Aku tahu. Sana pergi," Judy mengusir Joanne begitu ia telah melepaskan pelukannya.
Dengan cengiran lebar dan membawa satu tas penuh alat gambar juga kertas kosong, Joanne pergi keluar kamar untuk mencari inspirasi di luar.
===
Sekitar lima belas menit kemudian, Joanne merapatkan jaket jinsnya karena dihantam angin berkali-kali. Ketika ia naik bis beberapa saat tadi dan memberi tahu kondektur kemana tujuannya, dalam hati kondektur tersebut juga mempertanyakan kewarasan Joanne untuk pergi jauh di tengah musim gugur. Benar-benar satu minggu di mana cuacanya paling tak bisa diprediksi.
Meskipun anginnya lumayan, lucunya terdapat matahari yang cukup begitu ia turun dari bis. Lagipula angin yang kejam tak pernah terlalu mengganggu bagi Joanne.
"Hah... Pantai Camber. Tempat terbaik, selalu."
Ia fokus memperhatikan sekitar. Cukup banyak orang yang memiliki ide bodoh/jenius sepertinya, bahkan beberapa dari mereka bermain bola tangkap dan ada pula anak-anak yang main kastil pasir. Joanne lekas berjalan menuju ke tempat orang-orang lain yang sedang berjemur, lalu melepas kedua sepatu, menjinjingnya, lalu memposisikan diri tak jauh dari pengunjung lain. Akan tetapi, cukup dekat untuk kakinya tersapu sedikit air yang terbawa ke tepian pantai.
Sejak kecil Joanne selalu menyukai pantai, begitu pula keluarganya. Mereka seringkali pergi ke pantai untuk rekreasi, bahkan ulangtahun Joanne pernah dirayakan di pantai pula. Gadis itu nyengir tanpa sadar ketika teringat memori saat kepalanya terbentur bola voli setelah meniup lilin. Hampir seluruh anggota keluarganya marah, tapi Joanne terlalu sibuk melihat bola voli beterbangan di sekeliling kepalanya untuk peduli. Untunglah ia tidak pingsan atau apa.
Merasa jauh lebih baik setelah menghirup bau asin dari laut dan menyaksikan ombak berwarna biru tua menggulung-gulung di hadapannya, Joanne mendudukkan diri di atas pasir lalu mengeluarkan peralatan gambarnya.
Saat itu lah, sudut matanya menangkap seseorang yang sibuk berkutat dengan satu kotak penuh berisi makanan (Joanne tidak yakin, jadi ia berusaha menebak sebisanya) dan duduk tak begitu jauh darinya. Wajah orang itu tertutupi rambut cokelat gelap sebahu dan nampak begitu frustrasi. Merasa geli, Joanne memutuskan menggambar orang asing tersebut, garis demi garis, lekukan demi lekukan, menambah arsir di sana sini. Ketika Joanne baru saja akan mendongak lagi dalam rangka mengecek objek gambarnya, orang asing tersebut merapikan rambut dan menyelipkannya ke belakang telinga, dan Joanne tercengang.
Mereka terakhir kali bertemu lima bulan lalu. Mereka tak pernah bertukar nomor maupun media sosial. Mereka tidak pernah melihat satu sama lain lagi dan kesibukan kampus membuatnya mengubur memori tersebut entah di mana.
Namun Joanne yakin ketika bibirnya secara refleks membisikkan sebuah nama, hal tersebut adalah hal yang paling familiar yang pernah ia rasakan, kedua setelah nyamannya deburan ombak juga roti moka favoritnya.
"Julia?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Enough
Storie d'amoreSetiap orang pasti memiliki satu atau dua potong cerita untuk dibagikan, namun tidak selalu mempunyai orang lain yang mau menceritakannya kepada dunia. Di sini, saya akan berusaha sebaik mungkin dalam mengisahkan tentang dua orang dengan dua kepriba...
