Tidak tahu siapa yang lebih pening daripada siapa.
Joanne bukannya ada masalah terhadap hujan sehingga harus membenci keadaan tersebut, tapi tidak juga pernah mengaku-aku sebagai penggemar berat dari rintik-rintik air itu. Namun siapa kira kalau kombinasi air mata langit dengan setitik air mata milik Julia (yang tak disadari pemiliknya) ampuh membuat Joanne gusar sekali sampai-sampai mau marah pada si langit?
Gadis berambut biru itu terbiasa berpikir menggunakan insting dan logika. Jelas juga ia tahu bahwa ada yang tak beres dengan Julia selama Joanne disibukkan dengan berbagai pertanyaan bodoh dalam kepalanya sendiri. Perkaranya sekarang, dia tidak tahu apa yang salah dan bagaimana membetulkannya!
Joanne bukan seorang pembicara ulung, walaupun kau pasti sudah bisa menebak dari pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya. Maka di tengah deras hujan, langit kelabu, dan ruang tengah yang entah kenapa terasa terlalu kecil untuk menenangkan Julia, Joanne hanya mampu diam. Kehabisan kata, merasa tak bermakna. Bahkan menggenggam tangan Julia pun, ia tak bisa.
Lucu sekali kalau dipikir-pikir bagaimana kala itu, tepat tiga hari setelah pertemuannya dengan si gadis yang lebih tua, Joanne langsung membuat janji dalam hati untuk selalu menjaga Julia apapun yang terjadi, selalu ada kapan pun gadis itu membutuhkan, dan terus menemani Julia terlebih ketika gadis tersebut tak ingin ada orang di sampingnya.
Dari dulu Joanne selalu berpikir kalau menjaga janji itu mudah. Cukup teruskan saja, toh ia tak pernah membuat janji yang terlalu mengada-ada. Tapi kini, saat dihadapkan dengan situasi rumit yang memaksanya untuk melakukan sesuatu demi melindungi Julia, ia malah tak bisa berbuat apa-apa.
Padahal jemarinya sudah dekat dengan jemari Julia, hatinya sedari tadi memerintah agar ia cepat mengunci jari-jemari yang gemetar itu di antara miliknya... Lalu kenapa pikirannya masih terus berlaga kontra?
Mungkin karena Julia sudah ada yang punya.
Mungkin juga karena Joanne tak mau disangka berbuat yang tidak semestinya.
Tapi demi Tuhan, bisa gila dia kalau tidak membantu Julia sekarang juga!
Dan dengan monolog dari diri sendiri juga tekad bulat yang entah datangnya darimana (dan lebih mirip seperti cari mati), Joanne mengaitkan jemarinya pada milik Julia, yang selain gemetaran ternyata telah bersimbah keringat dingin pula, sebelum akhirnya melakukannya lagi pada telapak Julia yang lain agar memastikan kalau perempuan itu tahu ia tidak sendirian dalam ruangan persegi tersebut.
"Julia? I don't know what's happening, but I'm here?" bisik Joanne, ngeri mengagetkan tamu yang nampaknya sedang mengalami gugup parah di ruang tengahnya.
Joanne tidak pernah gugup. Dia tidak pernah kena serangan panik, tak peduli seberapa sering ia menemukan hal tersebut dibahas pada laman Instagram maupun Twitter. Tak peduli akan Hari Kesehatan Mental yang digadang-gadang oleh Fakultas Psikologi di kampusnya. Sebetulnya nyaris tidak percaya kalau hal-hal tersebut benar adanya, dan sekarang ia kena getah paling pahit yang pernah dirasakannya.
Selama menggenggam kedua tangan Julia, Joanne merasa tolol luar biasa karena tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya terus-menerus mengelus punggung tangan gadis itu menggunakan ibu jarinya, sebab berdasarkan yang ia tahu, Joanne selalu tenang ketika Ibunya melakukan hal itu padanya.
Tanpa ia sadari, nyaris lebih dari dua puluh menit sudah berlalu dan Joanne tak pernah setersiksa itu.
===
Duduk berdua dalam keheningan, hanya ditemani suara hujan dan perasaan tak mengenakkan.
Seharusnya Julia tidak perlu panik, tak harus merasa tertekan hanya karena salah bertanya, parahnya lagi sampai membuat Joanne harus menggenggam tangannya. Padahal Julia sendiri yang bilang kalau hening dengan si pemilik kamar asrama ini tak apa, tapi Julia juga yang panik luar biasa ketika tak ada pembicaraan yang tercipta.
Maumu sebetulnya apa, Jules?
Suara dalam kepala Julia bertanya, kali ini lebih keras dari seluruh gaungan pikiran lain yang memenuhi kepalanya. Mendadak perasaan berat yang tadi bersarang di hatinya bertambah beberapa ons, tapi pada saat bersamaan juga menjadikan kedua pipinya agak menghangat, dan dirinya bisa bernapas lebih baik dari sebelumnya.
Julia tahu maunya apa, tapi keseluruhan pengalamannya di masa lalu membuatnya bingung dan bertanya-tanya. Apakah pantas? Apakah boleh? Apakah Joanne tidak akan keberatan? Apakah Joanne tidak akan mengusirnya, setelah sebelum itu memandang pada Julia dengan pandangan jijik?
Namun jemari Joanne pada miliknya, usapan lembut yang diberikan tanpa henti meski Julia tidak merespon apapun sejak tadi, dan pandangan-pandangan khawatir yang sesekali dilemparkan oleh Joanne membuat gadis tersebut tak sampai hati. Ampuh sekali wajah takut gadis berambut biru tersebut untuk menguatkan tekad Julia melawan paniknya sendiri. Padahal biasanya ia tak akan mampu, ia hanya akan sanggup menangis dan terus berdiam diri.
Di detik ke-sepuluh yang (mungkin) sudah sejuta kalinya dalam hitung-hitungan di kepala Joanne dengan tujuan mendistraksi diri sendiri, ia merasakan beban pada bahunya yang terjatuh secara perlahan. Saat menoleh, ia disambut gundukan rambut cokelat Julia yang entah bagaimana harumnya tercium bahkan dari jarak sekian sentimeter.
Detik selanjutnya, isakan pelan terdengar dari sisi bahu tersebut. Joanne terdiam.
Kali ini benar-benar diam tanpa ada ucapan apapun di dalam otaknya (seperti hitung-hitungan, atau, "sampai kapan ia akan seperti itu?"), dan hanya mampu mengikuti insting pertama yang dibisikkan oleh suara kecil di belakang kepalanya, yaitu menepuk kepala Julia pelan.
Joanne menyesal ia tak pernah peduli mengenai hal-hal yang tak nampak, menyesal tidak tahu harus melakukan apa pada Julia, dan sebal sebab bisa-bisanya hal ini terjadi ketika gadis itu sedang mengunjunginya.
Demi Tuhan, kami cuma mau makan siang.
Dan bukan makan siang yang Joanne atau Julia dapatkan, tetapi keheningan. Ditemani hujan dan pelukan, ketika si gadis yang lebih muda memberanikan diri melingkarkan lengannya di sekitar pinggang Julia, juga isakan yang dikeluarkan si gadis berambut cokelat sebab tak percaya ia menghancurkan kali pertamanya mengunjungi rumah seseorang.
Tapi tidak apa.
Tidak apa jika Joanne harus diam untuk tiga jam lagi, tidak apa jika Julia mesti menahan malu ketika keadaannya sudah normal kembali, tidak apa juga jika agenda yang seharusnya dipenuhi tawa dan canda malah berakhir penuh serangkaian kejadian tak terduga yang membuka rahasia tidak hanya satu, tapi kedua orang tersebut.
Karena Julia merasakan ketenangan luar biasa ketika memutuskan untuk beristirahat pada bahu Joanne,
dan Joanne tak pernah merasa ada yang lebih pas mengisi kekosongan di antara jemarinya daripada milik Julia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Enough
RomanceSetiap orang pasti memiliki satu atau dua potong cerita untuk dibagikan, namun tidak selalu mempunyai orang lain yang mau menceritakannya kepada dunia. Di sini, saya akan berusaha sebaik mungkin dalam mengisahkan tentang dua orang dengan dua kepriba...
