Duduk Berdua Dalam Keheningan (Namun Tak Apa): Bagian 1

121 30 1
                                        

Setelah pertanyaan maut terlontar, Joanne hanya mampu membatu. Kedua alisnya nyaris hilang, karena terangkat terlalu tinggi akibat syok mendengar ucapan Julia.

Untuk pertama kali dalam hari-hari yang pernah dihabiskan bersama, ada canggung di antara keduanya. Joanne menggaruk tengkuk yang tidak gatal, dan Julia menatap langit-langit, tembok dapur, TV, sofa, kemana saja asal bukan mata Joanne.

Dalam keheningan (apalagi yang terlalu pekat), pikiranmu akan lebih terdengar dari biasanya. Mendengung, penuh pertanyaan, serta minta diperhatikan. Begitu pula pikiran Joanne, yang tadi siang menolak mengeluarkan ide desain tapi sekarang mendadak dipenuhi banyak skenario-skenario buruk yang mungkin terjadi jika ia membuka mulut. Terkadang, Joanne benci sekali cara pikirannya bekerja.

Sudut mata gadis berambut biru tersebut mencuri-curi pandang melihat ke arah Julia, yang masih sibuk menatapi benda-benda mati di dalam kamar asrama Joanne. Heran sekali, bagaimana Judy yang hobi sekali tinggal di kamar asrama bisa-bisanya tidak ada niatan mendadak pulang supaya kecanggungan ini ada ujungnya. Akan tetapi, mungkin membiarkan pertanyaan tadi tak terjawab dan hanya menjadi angin lalu bisa mengakibatkan hubungannya dengan Julia kelihatan ujungnya. Joanne tidak mau hal itu, dan tanpa sadar menggeleng kepalanya sangat cepat.

"Joanne, you okay?" tanya Julia, tangannya meremas bahu si pemilik kamar secara lembut. Joanne menoleh, wajahnya memerah malu.

"Eh, hehehe. Kepikiran sesuatu, bukan apa-apa," jawabnya. Mengulas senyum tipis untuk meyakinkan Julia agar cepat-cepat melepaskan tangannya, sebab Joanne mulai curiga kalau rona merah di pipinya bukan karena ketahuan geleng-geleng sendiri. Helaan napas tanpa terasa dihelakan oleh Joanne begitu Julia betul menarik tangan dari bahunya.

Membuat keduanya kembali diselimuti keheningan yang bagai selimut tebal, dengan pikiran Joanne sebagai pusat keributannya.

Kenapa bisa ketahuan? Padahal aku sudah mencoba tidak terlihat di antara orang-orang lain di bagian kota itu? Kok bisa-bisanya dia mengira itu aku... Hanya mengindahkan sebab katanya rambutku warna biru, dan ia mengenalku ketika rambutku warna merah muda? Tapi... Maksudku... Baju dan sepatuku kan, pasaran... Apa dia sebegitunya memperhatikan? Hah, masa iya? Harusnya aku yang tukang observasi, kenapa jadi Julia yang mengenalku di tengah-tengah kerumunan manusia?

Kali ini, Joanne harus susah payah menahan diri untuk tidak mengetuk-ngetuk pelipisnya menggunakan kepalan tangan. 

===

Di sisi lain di dalam ruang yang sama, Julia tak banyak berpikir. Namun lebih banyak cemasnya. Pikirannya bertanya-tanya kenapa Joanne dari tadi diam saja? Kalau pun itu bukan dia, toh tinggal bilang tidak. Kalau memang itu dia... Julia tidak menganggap hal tersebut masalah juga. Jika ada pun yang mengganjal, itu merupakan sesal si gadis berambut cokelat karena tak sempat bertukar sapa.

Julia memijat pelipisnya sedikit. Jika tahu akan begini jadinya, ia lebih baik tidak usah bertanya. Lebih mudah jika ia simpan saja rasa penasarannya di dalam hati dan pikiran. Kenapa pula mulutnya harus bocor sekali seperti itu, sih? Huh, Julia mengeluh dalam hati.

Gadis itu mulai mengetuk-ngetukkan jemarinya pada bantal sofa milik Joanne, rasa gugupnya yang memang biasa datang kini menyerang lagi. Julia paling tidak bisa terkungkung dalam kecanggungan. Hening bersama-sama bukan masalah, tapi diam-diaman yang membuat terasa seperti tercekik adalah kelemahannya. Maka dari itu ia senang menghabiskan waktu bersama gadis di sebelahnya ini, karena hening dengan Joanne berarti damai. Bukan mata yang berpindah-pindah dari objek mati satu ke yang lainnya, berusaha keras untuk menghidupkan suasana.

Julia memiliki tendensi untuk selalu menemukan topik pembicaraan.

Justru hal tersebut yang menjadikan Julia salah satu mahasiswa paling banyak teman di fakultasnya. Semua orang merasa senang mengobrol dengannya. Karena ketika berbicara dengan Julia, kau tak perlu bersusah payah. Gadis tersebut punya seribu satu bahan pembicaraan di dalam kepalanya. Never a dull moment with her.

Maka dari itu ketika ia sudah mulai sadar kalau kukunya membenam pada sarung bantal sofa tadi, Julia buru-buru mengecek jam dinding di ruang TV Joanne. Lucunya, waktu baru menunjukkan pukul tiga kurang. Padahal rasa-rasanya Julia, mereka sudah menghabiskan lima jam tanpa suara. Napasnya dihelakan, lebih keras dari biasanya sebab sarafnya tak bisa tenang. Julia mau pergi, butuh udara segar, ingin kabur dari suasana ini.

Dan seperti yang kau ketahui, dunia tidak pernah mengabulkan keinginanmu begitu saja. Semua ada bayarannya, dan hari ini Julia mendapat harga berupa rintik hujan yang perlahan mengetuk jendela kamar asrama Joanne. Membuat kedua anak perempuan tadi serta-merta menengok ke jendela terdekat, lalu mengeluh pada saat yang bersamaan.

Tapi apalah arti kebersamaan, ketika pikiranmu lebih berisik dari seluruh suara di dunia dan kecemasanmu sedang ada pada level yang tinggi-tingginya? Julia mulai kehilangan tempatnya berpijak dan memilih untuk bersandar pada sofa, sedikit demi sedikit presensi Joanne tak dirasakannya lagi. Selalu seperti ini ketika cemas.

Joanne merasakan pergerakan dari Julia, dan mengerling ke sebelah untuk mendapati bahwa wajah gadis tersebut tak lagi khawatir. Ekspresinya lebih ke arah bingung, letih, dan tergesa-gesa. Seakan-akan Julia tak paham kenapa ia bisa ada di unit asrama Joanne, juga setengah berharap bisa menghilang dari tempat tersebut pada detik yang sama.

Si pemilik ruangan yang tadi sibuk sendiri karena takut ketahuan sebagai orang yang kelewat galau sebab curi-curi pergi ke apartemen Julia, kini diserbu pertanyaan lain yang tak ada unsur dirinya sama sekali.

Dengan sekotak stroberi yang masih ada di hadapannya, yang mulai terlihat layu sebab tak disentuh sejak bermenit-menit lalu, Joanne berinisiatif untuk mengambil satu buah dan menyodorkannya ke hadapan Julia. 

Gadis itu terkesiap sedikit, nampak seperti orang yang sejak tadi kehilangan napas dan baru menemukannya lagi sekarang. Sebelum kemudian mengambil stroberi tersebut dari jemari Joanne, tak sengaja bersentuhan tangan hingga Joanne sadar kalau Julia sedang gemetaran. 

Dan sekali lagi pikiran Joanne berdengung, bising sekali sampai-sampai berbalapan dengan suara hujan di luar gedung asrama yang semakin lama semakin deras. 

Dia takut hujan? Atau dia takut petir? Kenapa jemarinya tak berhenti digoyang-goyangkan? Aku bisa lihat ia mulai berkeringat juga... Julia, ada apa? 



Never EnoughTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang