My Kingdom, Come Undone: Bagian 2

304 38 3
                                        

Joanne tidak pernah merasa semarah ini.

Walau ia mengakui bahwa tempramennya memang buruk, sepertinya selama ini ia bernapas dan menjejakkan kaki di bumi, ini lah kali pertama emosinya naik cepat sekali seperti banteng yang baru saja melihat sehelai kain berwarna merah. 

Oke, untuk konteksnya, malam ini ia sedang menonton pameran anak-anak arsitektur di fakultasnya. Meski bukan jurusannya sendiri, namun dosen Joanne menugaskan anak-anak di kelasnya agar mengamati pameran ini dan melihat apa-apa saja yang masih bisa dikembangkan dari rancangan-rancangan anak arsitektur. Sialnya, Joanne sudah berkeliling selama setengah jam dan tak bisa menemukan kecacatan sedikit pun. Jangankan untuk mengembangkan, melihat jeleknya di mana saja ia tak bisa? Entah memang pamerannya bagus, atau Joanne saja yang minder terhadap kemampuan desain miliknya.

Mungkin juga, karena Joanne tak melihat adanya motivasi untuk sok-sok belaga pintar, sebab Julia yang diundangnya satu minggu lalu tak bisa hadir karena memiliki janji kencan dengan pacarnya. Joanne mengeluh sambil mengetukkan pensil pada buku cacatan kecil miliknya ketika mengingat-ingat hal tersebut. Bukannya Joanne tidak senang kalau hubungan Julia menjadi baik, toh sekarang mereka pun lebih rutin menghabiskan waktu bersama. Dan sumpah demi Tuhan, Joanne tak ada niat merebut pacar orang.

Yang membuat gadis itu agak sewot, sebenarnya karena ia seperti pernah melihat wajah pacar Julia di suatu tempat. Hampir seperti tak asing, hanya saja Joanne tak bisa mendeteksi kapan persisnya ia pernah bertemu pacar Julia. Ketika ia menceritakan itu pada Julia pun, Joanne hanya dibalas dengan gelak kecil, juga candaan dari Julia kalau wajah pacarnya memang pasaran sekali. Tapi sumpah, ketika cowok itu pertama kali ditemuinya sedang menggandeng tangan Julia di depan minimarket dekat fakultas Julia, bulu kuduk Joanne langsung berdiri. Bahkan wajahnya langsung merengut tanpa aba-aba.

"Hah... Kenapa pula aku jadi memikirkan pacar Julia... Ayo fokus, fokus," bisik Joanne pada diri sendiri, setelah berhasil menarik dirinya kembali ke masa kini. "Jangan sampai nilaiku jelek hanya karena hal-hal trivial seperti itu."

===

Jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih, dan Joanne hampir bersujud karena akhirnya mampu menyumbang satu hingga dua coretan pada buku catatannya yang terlihat menyedihkan. Terima kasih pada satu orang tadi yang maketnya tidak sempurna dan memiliki corak warna yang kelewat membuat sakit mata, sehingga Joanne dapat membubuhkan sedikit komentar yang akan membantu tugasnya sendiri.

Joanne baru saja akan mampir untuk minum air limun ketika banyak hal terjadi sangat cepat di salah satu stan pameran yang berjarak dua meja dari tempatnya berdiri. 

Pertama, ia melihat pacar Julia datang dan menggandeng seniornya dari jurusan desain interior. Kedua, Luciana yang ditemani seorang perempuan tinggi dengan wajah imut ("Kalau tidak salah namanya Hussey...?", batin Joanne.) datang menghampiri pacar Julia dan menamparnya langsung di hadapan banyak orang. Kemudian, perempuan tinggi tadi mulai mengomeli senior Joanne, dan di detik terakhir, Joanne merasakan keharusan untuk menoleh ke belakang.

Lalu mendapati Julia yang juga sedang menonton seluruh kejadian tadi, bedanya dengan mata berlinangan air dan bukan penuh syok seperti ekspresi Joanne saat ini. Tak berapa lama dari seluruh kejadian itu, Julia berlari keluar dari lokasi pameran. Joanne tak memiliki pikiran lain dalam kepalanya selain untuk melepas gelas kertas berisi limun yang masih utuh dan berlari mengejar Julia dengan buku catatan masih di tangan.

===

Parkiran, tidak ada. Di dekat kafe, juga tidak ada. Taman sebelah perpustakaan pun, Julia tidak ada. Joanne sudah nyaris kehabisan akal, tidak tahu di mana lagi harus mencari Julia ketika ia ingat satu tempat terakhir. Air mancur di dalam taman kecil tersebut.

Kakinya lekas berlari, seperti baru saja diisi baterai tambahan padahal semenit yang lalu Joanne masih letih akibat memutari fakultasnya sendiri. Degup jantungnya bertambah cepat seiring kakinya melangkah makin dekat memasuki taman, kemudian nyaris pingsan dalam kelegaan saat melihat Julia benar ada di pinggiran air mancur tersebut.

"Hei?"

Julia terkesiap, tergesa-gesa menghapus sisa air mata di wajahnya menggunakan sweter yang ia pakai. Perempuan itu lalu menarik napas dalam-dalam, membuangnya, dan melihat ke arah Joanne dengan senyum lebarnya yang biasa. Seolah-olah ia tidak apa-apa, dan bukannya baru saja menyaksikan drama perselingkuhan pacarnya.

"Hai, kok tahu aku di sini?" tanya Julia ringan. Joanne dapat merasakan getaran dalam suara Julia, namun ia merasa tak perlu mengungkit-ungkit kejadian buruk jika yang mengalami tak berkenan untuk ditanya.

"Feeling? Aku kan, bisa membaca pikiranmu," jawab Joanne enteng, sebelum melangkahkan kakinya dan duduk di bangku taman persis di sebelah Julia. Bahu mereka bersentuhan, dan Julia berusaha keras sekali untuk tidak langsung meruntuhkan tembok sok kuatnya lalu menangis di bahu Joanne detik itu juga.

"Kalau memang benar, berarti aku tak mau memikirkan apapun mulai saat ini. Supaya kau tidak bisa seenaknya baca pikiranku."

"Ih? Kenapa begitu?!" Joanne menaikkan sebelah alis dan mengerucutkan bibirnya, kemudian dibalas Julia dengan gelak kecil.

"Jangan ngambek, dong, Joanne," Julia menggoda si perempuan berambut biru di sampingnya, memukul pelan lengan Joanne agar Joanne tak cemberut lagi. Lalu Julia menggigit bibir bawahnya sebentar, seperti sedang menimbang sesuatu sebelum melingkarkan lengannya pada lengan Joanne dan berkata, "you saw that too, I assume?"

"Lihat apa?" tanya Joanne pura-pura bodoh, sebelum menautkan jemari Julia padanya dan mengelus-elus punggung tangan si perempuan yang lebih tua dengan lembut. Julia mendengus. "Oke, oke sori. Aku tidak akan pura-pura bego."

"Menurutmu, kenapa ya, dia begitu?"

Joanne bisa mendengar suara Julia berusaha keras ditegarkan. Seolah-olah mereka berdua sedang membicarakan agenda makan siang bersama dan bukannya mendiskusikan pacarnya yang baru kepergok selingkuh.

"Mm, aku tidak tahu juga. Mungkin dia memang kurang ajar saja. Karena orang sepertimu seharusnya tidak diperlakukan begitu. Kau baik, cantik, pintar... Kurang apa? Kurang ajar si pacarmu."

Mata Julia kembali terasa panas dan berair, namun ucapan Joanne membuatnya mau tidak mau tertawa lagi. Julia kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Joanne, dan Joanne pun menyandarkan kepalanya pada kepala Julia. Keduanya menghela napas.

Malam itu cerah dan berbintang, berbanding terbalik dengan suasana hati Julia dan Joanne. Meski begitu mereka merasa lebih hangat ditemani satu sama lain, walau angin dingin malam yang menusuk mulai menghampiri. Setelah nyaris dua menit dihabiskan dalam hening, akhirnya Julia angkat bicara.

"Terima kasih sudah mau menemaniku di sini."

"Bukan masalah, aku tidak akan kemana-mana."

Dan dengan satu kalimat itu air mata Julia menetes di atas kemeja kotak-kotak milik Joanne, saat yang punya sibuk menata hati dan pikirannya agar tak memeluk Julia pada detik yang sama.


Never EnoughTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang