Perkara hari-hari yang telah secara intens dihabiskan bersama Julia, fakta yang baru ditemukan tiga hari sebelum pentas Natal jurusan Sastra Inggris dengan Julia, dan betul-betul melaksanakan pementasan tersebut yang kemudian menuai pujian tak terkira dari keluarga serta Judy sang sahabat kecil...
Joanne mulai berpikir.
Rasa-rasanya sejak ia turun dari panggung setelah pengumuman penampilan terbaik, kemudian merayakan Natal, bertukar kado, dan akhirnya menunggu dengan sukacita untuk menghitung mundur ketika selebrasi pergantian tahun— Joanne tak pernah berhenti berspekulasi.
Otaknya mempertanyakan berbagai pertanyaan aneh, menuliskan bermacam-macam skenario alternatif (yang ia sendiri penasaran ingin mencoba), dan terus mengganggunya selama liburan musim dingin sama seperti Ibu Joanne yang sudah sebal melihat warna merah muda pucat pada rambut anaknya, sehingga tak henti-henti menyuruh Joanne pergi ke salon.
Dan bahkan ketika Joanne telah menuruti pinta ibunya, pergi ke salon di beberapa hari terakhir sebelum memasuki semester baru dan mendapati rambutnya berubah jadi sepanjang bahu dilengkapi biru tua (yang cukup membuat kepala ibunya pusing— namun tetap lebih baik ketimbang warna merah muda luntur), ia tetap melangkah melewati gerbang kampus dengan segenap perasaan cemas tak menentu. Seolah-olah akan ada seseorang yang melompat tepat di hadapannya dari arah yang tak terduga, membuat jantungnya terasa seperti hampir copot.
Namun nyatanya, setelah memasuki kedua kelasnya, ditambah memakan roti lapis nyaris dingin yang ia beli di kafetaria pada menit-menit terakhir menjelang dimulainya kegiatan klub fotografi hari itu, yang Joanne dapatkan hanya pujian-pujian tentang betapa cocok model rambut barunya dan tidak ada satu pun serangan kejutan seperti yang dicemaskannya tadi pagi.
Dengan hati yang tetap tidak tenang tanpa alasan hingga akhir hari, Joanne pulang.
===
Kejadian yang sama terulang pada hari berikutnya, keesokan harinya, dua hari setelahnya, sampai akhir minggu. Ketika Joanne merasa seluruh perasaan ini begitu mengganggu bagi sifatnya yang menuntut ketenangan dan kerapihan serta agak tidak menyukai kejutan tiba-tiba, ia memutuskan pergi ke Pantai Camber lagi.
Perjalanan yang tak memakan banyak waktu membuat Joanne sampai di pantai tersebut dalam keadaan masih pagi-pagi sekali, dengan angin yang mengajaknya bertengkar menghalaunya dari segala arah. Memutuskan untuk tidak akan merutuk apapun dan/atau siapapun di hari Sabtu yang baik, Joanne berjalan secara berhati-hati agar bisa melihat ombak yang bergulung.
Tepat di momen ketika kakinya menginjak pasir yang berjarak sekian puluh meter jauhnya dari tepian pantai dan matanya memicing untuk mengamati deburan ombak yang nampak seperti simfoni, Joanne menyadari apa yang salah dengannya selama berminggu-minggu ke belakang.
Apa yang selalu mengganggu di belakang kepalanya dan tak pernah bisa ia singkirkan meski para profesornya di kampus selalu datang dan memberikan tugas dengan tenggat waktu yang gila-gilaan. Bagaimana sebentuk wajah kerap muncul di segala tempat yang Joanne singgahi: di kafetaria, di tengah kelas untuk klub fotografi, di tengah kerumunan ketika ia berjalan pulang dari kampus, di sudut kafe tempat ia biasa memesan kopi sebelum berangkat ke kampus, dan baru saja... di tepian pantai yang dilatari langit kelabu khas bulan Februari.
Julia.
Merupakan jawaban yang selama ini dicarinya, misteri yang baru ia pecahkan, dan masalah yang baru ia sadari. Joanne lantas menepuk dahinya secara refleks. Bagaimana bisa ia sebodoh itu? Bagaimana mungkin ia menghabiskan hampir dua bulan penuh hanya untuk menerima fakta kalau ia ternyata...
"...menyukai Julia?" tanya Joanne pada dirinya sendiri. Tak terlalu keras, namun cukup pelan agar tak bisa didengar orang lain di sekitarnya. Meskipun hanya Joanne dan lima orang lain yang agaknya cukup gila sampai-sampai mengunjungi Pantai Camber pada cuaca seperti ini.
Joanne memainkan ujung jaket jinsnya yang agak kucel karena belum dicuci selama seminggu, sembari mengeluarkan sebuah helaan napas yang terdengar cukup melelahkan. Dari seluruh hal yang semesta bisa timpakan pada dua bahu kecil dan kepala warna biru tuanya, mereka memilih membebani Joanne dengan masalah cinta ecek-ecek ala anak SMA. Tepat ketika ia sedang berusaha menyeimbangkan kerja paruh waktunya sebagai seorang fotografer amatir dan mendesain berbagai macam tipe ruangan kantor dan rumah.
Joanne merasa seperti sebuah lelucon, namun lelucon sangat buruk hingga orang enggan tertawa.
Apa pula yang ada dipikirannya? Jelas-jelas ia dengar jelas dan lantang kala itu, di antara percakapan dan gigitan buah apel, kalau Julia sudah miliknya orang lain. Bahkan mengingat satu fakta kunci itu saja mampu mengembalikan rasa tak nyaman yang sama di hati Joanne seperti saat pertama ia mengetahuinya.
Setelah bertahun-tahun ia merasa mampu sendirian dan merasa cukup hanya hidup dari cinta keluarga dan teman, serta cintanya pada diri sendiri, ini lah kali pertama ia menginginkan sokongan berupa cinta dari orang lain. Orang asing, yang ditemuinya di toko roti dan berakhir bernyanyi diiringi permainan gitarnya di hadapan seratus orang pada malam Natal.
Joanne mengacak-acak rambutnya, kemudian mengerucutkan bibir. Hal yang selalu dilakukannya jika ia berada pada suatu kondisi di mana ia kurang lebih tak mampu melakukan apapun, sebab ia sendiri tak melihat datangnya situasi ini entah dari mana.
Sungguh, benci betul ia menghadapi masalah yang tak bisa dipecahkan dengan logika.
"Astaga... Memang kau suka cari masalah denganku, ya?" hardik Joanne pada langit abu-abu. Tentunya tak mendapat jawaban apapun, kecuali deburan ombak yang mendadak bergulung sangat ramai. Hampir mirip seperti ejekan bagi Joanne yang kepala dan hatinya sama ramainya dengan mereka. Gadis itu mendengus sembari merapatkan jaketnya.
===
Joanne menghabiskan beberapa jam berikutnya di Pantai Camber, berusaha melawan angin jahat dan suara ombak demi memecahkan masalah yang ada di dalam pikiran dan hatinya sekaligus. Akan tetapi, ia tahu hal tersebut sia-sia karena tak seharusnya ia melogikakan perasaannya.
Namun apa ia menyerah begitu saja? Tentu tidak. Apa guna zodiak Aries miliknya jika Joanne menyerah pada setidaknya... lima jam percobaan pertama?
Perjalanannya kembali ke asrama diwarnai banyak sekali decakan tidak puas dan lagu yang diputar secara berulang-ulang, menandakan bahwa Joanne sama sekali tidak memberikan atensi pada lagu tersebut dan hanya mengisi kekosongan sementara pikirannya menerawang kemana-mana.
Tapi lagi dan lagi, yang bisa diingatnya hanyalah Julia. Rambut panjangnya yang berwarna hitam, rambutnya yang sudah berubah jadi sebahu dan berwarna cokelat gelap, senyumnya yang menggemaskan, tawanya yang renyah, wajahnya yang bulat, kelakuannya yang serba ajaib, stroberi kesukaan Julia, pantai tempat ia dan Julia bertemu, Julia, Julia Julia...
Suara kondektur menyadarkan Joanne dari lamunannya yang tak berujung, membuat gadis itu tersentak dan lekas cepat-cepat turun dari bis karena takut terbawa hingga ke pemberhentian berikutnya. Setelah mengucapkan terima kasih dan mengangguk canggung sebab telah melamun dan hampir kelewatan tempatnya berhenti, Joanne melangkahkan kaki keluar dari bis tersebut lalu teringat sesuatu.
"Anggaplah aku benar menyukai Julia dan sekarang sudah betul menyadarinya, lalu aku harus apa?"
Sedetik terlewati, lalu Joanne harus melawan mati-matian keinginan untuk berlari ke arah apartemen Julia dan meneriakkan isi hatinya di depan pintu kamar gadis tersebut.
Jangan, belum sekarang. Tidak tahu kalau esok hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Enough
RomanceSetiap orang pasti memiliki satu atau dua potong cerita untuk dibagikan, namun tidak selalu mempunyai orang lain yang mau menceritakannya kepada dunia. Di sini, saya akan berusaha sebaik mungkin dalam mengisahkan tentang dua orang dengan dua kepriba...
