Stroberi dan Tepi Pantai: Bagian 2

168 31 1
                                        

Joanne kemudian memanggil dari tempatnya duduk.

"Julia?" 

Satu kali.

"Julia?"

Dua kali.

"Julia!"

Tiga kali.

"Juliaaa!"

Empat kali dan yang terakhir bahkan diikuti oleh sebuah sungutan di dahi Joanne. Sebabnya, tiap kali ia berusaha menarik perhatian Julia, deburan ombak selalu sukses menghalangi suaranya terdengar hingga ke telinga gadis yang sekarang berambut cokelat sebahu itu. Joanne mau tak mau merasa sedikit kesal dan entah darimana mendapat ide untuk meneriakkan nama Julia.

"JULIA!!!"

Sialnya, tepat ketika ombak sedang tidak menggulung. Alhasil seluruh orang yang berjarak kurang lebih sepuluh meter dari tempatnya otomatis menoleh dan memberikan tatapan aneh pada Joanne. Membuat ia lebih gusar lagi. Memutuskan kalau melotot pada gulungan-gulungan ombak tersebut tak ada gunanya, Joanne kemudian mengalihkan pandang ke pengunjung lain sebelum menggumamkan permintaan maaf yang sesungguhnya walau hanya setengah hati.

Ketika Joanne akhirnya selesai memastikan bahwa seluruh mata sudah tak menerornya dengan pandangan ganjil, ia buru-buru kembali melihat ke arah di mana Julia berada. Sepenuh hatinya berharap kalau kali ini panggilannya tepat sasaran, hanya untuk mendapati kalau gadis yang dicarinya telah hilang entah kemana.

"Heh...?" gumam Joanne kebingungan. Pasalnya, tidak ada lima menit ia meyakinkan orang-orang tadi kalau dirinya tak berniat memancing kegaduhan di pantai itu. Namun nampaknya, hari ini memang bukan hari yang baik bagi Joanne.

Dengan berkecil hati, ia kembali memfokuskan diri pada kertas gambarnya. Joanne melihat gambarnya yang tinggal seperempat lagi akan selesai, lalu mengeluh sebab objeknya sudah hilang bagai ditelan bumi. Meski begitu, Joanne berusaha mengambil pensil gambarnya, menambahkan detil pada latar belakang dari objeknya, sebelum mengecek untuk yang terakhir kali.

"Perempuannya mirip aku."

Dalam sepersekian detik, Joanne nyaris melakukan banyak hal dalam satu waktu. Ia hampir terjengkang di atas pasir, menyumpah dengan sangat kotor, menoleh cepat ke segala arah, dan melempar kertas gambarnya hingga mungkin saja hanyut dibawa air laut. Akan tetapi, karena keterbatasan otaknya dalam melakukan banyak hal sekaligus, yang keluar hanyalah umpatan. Karena mungkin itu yang paling mudah dilakukan.

"WHAT THE HECK-"

"Hey, language!"

Joanne mendongak, lalu pipinya tersapu ujung-ujung rambut berwarna cokelat yang membuat geli. Mau tidak mau ia menunduk lagi, sebelum akhirnya memutar badan dan berusaha mengamati dalang dibalik nyaris copotnya jantung miliknya.

"Kau...?"

"Halo! Aku tidak sangka kau masih ingat. Joanne, kan?" tanya gadis tersebut sembari melambaikan tangan.

Julia tersenyum sangat lucu. Karena pipinya jadi bulat dan matanya nampak seperti ikut tersenyum juga, sehingga membentuk matanya berubah mirip bulan sabit. Joanne terpana dan merasa agak sedikit idiot sebab tidak tahu harus membalas apa. Sebagian otaknya seperti membeku, jadi respon yang bisa ia berikan hanyalah anggukan canggung.

"Yang kau gambar mirip aku," Julia mengatakannya lagi. Kali ini sembari memposisikan dirinya untuk duduk di sebelah Joanne, dengan pandangan yang melekat pada kertas gambar di paha gadis itu.

"...mhm, sebetulnya memang kau," ucap Joanne, tidak berani melihat ke arah sebelah kanannya. Ia bisa merasakan pipinya memanas dan mungkin saja sekarang sudah berwarna merah seperti tomat rebus. Sementara Julia terkesiap, dengan tangan sebelah kanan mendekap mulutnya.

Never EnoughTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang