Joanne terkesiap, tak sengaja terbangun dari tidur-tidur ayamnya di siang hari.
Seharusnya si gadis berambut biru tersebut menyelesaikan tugas sketsa dapurnya, tapi malah terlanjur ketiduran sebab terkena hembusan angin sepoi-sepoi dari pendingin di kamarnya. Sekarang tangan kanan Joanne sedang merogoh-rogoh kantong jaket yang ia gantung di tempat tidur, sementara tangan lainnya mengucek-ucek mata yang terasa sangat berat.
"Siapa sih, jam segini kirim pesan? Ganggu orang tidur saj- MAMPUS?"
Layarnya menampilkan hanya satu kalimat, namun nama pengirim pesannya yang berhasil merontokkan jantung Joanne sampai ke tanah. Sensasinya persis seperti terjebak di puncak bianglala selama satu jam, walau Joanne tak pernah merasakannya langsung.
Julia Choi.
Begitu nama yang tertulis pada layar Joanne, ditambah dengan satu kalimat yang membuat Joanne nyaris pingsan di tempat.
Julia Choi: Halo, Joanne. Mau makan siang bersama?
Refleks Joanne yang pertama kali? Menjatuhkan ponselnya dari meja sampai ke lantai, menunggu bunyi ponsel jatuh untuk masuk ke telinganya, baru setelah itu memungut dan baru mulai benar-benar panik.
"Aku harus balas apa, sih? Hah? Makan siang? KENAPA TIBA-TIBA?" Joanne setengah membentak tembok kamarnya.
Kalau kau harus tahu sesuatu, Joanne Shin bukan lah seseorang yang terbiasa panik. Malah sebaliknya, ia selalu berkepala dingin dan hampir tak pernah menunjukkan reaksi yang berlebihan seperti saat ini. Sekalinya ia pernah mengomel pada tembok mungkin ketika harus mempresentasikan gambar untuk pertama kali di kelas tiga SD, selain itu nihil.
Yang membuat seluruh kejadian ini nampak terasa lebih neraka lagi untuk Joanne ialah kenyataan bahwa Judy sedang tak ada di kamar asrama mereka. Setidaknya kalau ada temannya itu, Joanne bisa mengubah objek omelannya sekaligus mendapat saran gratis. Judy selalu tahu hal yang tepat untuk dilakukan pada situasi-situasi yang tak terprediksi macam ini.
Namun apa daya, Joanne hanya seorang diri dan masih tetap sendirian ketika pesan lainnya muncul di layar ponsel.
Julia Choi: Apa kau ada di asramamu? Bisa kah kau kirim alamatnya? Aku baru saja turun dari bis 512.
Meninggal.
Oke, maaf. Mungkin Joanne belum meninggal, tapi entah kenapa terasa sangat mirip seperti itu.
Ternyata selama ini prediksi gadis tersebut salah. Ia kira semakin jauh dirinya dari Julia, semakin sedikit efek yang akan ditimbulkan Julia padanya. Yang terjadi di dalam kamar asrama Joanne detik ini, justru malah kebalikannya. Pipinya memerah tanpa sebab, dan ia dapat merasakan kalau jemarinya gemetaran kala ingin membalas pesan dari Julia.
Kalau tega, ia bisa saja mendiamkan pesan tersebut. Namun mana mungkin? Bis 512 adalah bis dari kampus yang arahnya langsung ke asrama milik Joanne. Ia sontak menyesal bukan main pernah menyebutkan fakta tersebut pada Julia, karena nyatanya gadis tersebut punya ingatan yang sangat baik. Dan kalau Julia sudah turun dari bis tersebut, berarti ia mungkin hanya sepuluh sampai lima belas menit jauhnya dari asrama Joanne.
Dengan pertimbangan yang tidak matang-matang amat, serta pikiran yang kacau luar biasa namun tidak mau melewatkan kesempatan satu banding seribu bulan ini, Joanne berusaha sebisanya untuk mengetik pada layar ponsel.
Joanne Shin: Uh, siang. Halo. Ya, aku ada di asrama.
Joanne Shin: Ini alamatnya. [Joanne is sending a location]
Tidak sampai semenit lamanya, balasan baru sudah muncul di ruang obrolan tersebut. Joanne mengumpat sangat keras, karena bahkan dirinya belum keluar dari ruang obrolan tersebut. Sialan. Sekarang kan, ia terlihat seperti sangat menginginkan kunjungan tersebut. Walaupun memang iya. Tapi mana mungkin ia mengakuinya? Walaupun, sekali lagi, memang sangat ingin.

KAMU SEDANG MEMBACA
Never Enough
RomanceSetiap orang pasti memiliki satu atau dua potong cerita untuk dibagikan, namun tidak selalu mempunyai orang lain yang mau menceritakannya kepada dunia. Di sini, saya akan berusaha sebaik mungkin dalam mengisahkan tentang dua orang dengan dua kepriba...