Setelah Kita Menyadari, Kemudian Apa?: Bagian 2

139 26 1
                                        

Menyukai, menyadari, dan menerima adalah satu paket tantangan yang sudah cukup sulit bagi Joanne. Akan tetapi, menghadapi betul-betul subjek masalah dan menyatakan perasaannya? Itu baru urusan yang lain lagi.

Setelah keesokan hari dari hari ketika Joanne mengerti apa yang ia rasakan ke Julia, gadis yang sekarang berambut biru tua itu terus-menerus mendorong ke belakang pikiran apapun yang berkaitan dengan kata kunci Julia, naksir berat, cantik, dan stroberi.

Salah satu kejadian lucu yang terjadi adalah di sebuah siang saat Judy baru saja pulang dari rutinitas belanja bulanannya, dan Joanne nyaris pingsan terkena serangan jantung sewaktu membuka kulkas lalu menemukan satu kontainer penuh berisi buah stroberi. Judy menghabiskan sisa siang itu dengan cara mendelik pada Joanne sebab tingkah anehnya yang meliputi pembantingan pintu kulkas, diikuti kabur menuju kamar hanya untuk membenamkan kepala di bantalnya.

Jatuh cinta ternyata susah, apalagi bagi Joanne yang aspek intelektualnya lebih dominan ketimbang perasaan. Tidak ada sedetik pun terlewat oleh Joanne yang tak dihabiskannya untuk memikirkan tentang bagaimana ia bisa menyukai Julia, apa yang membuat Julia begitu menarik di mata dan kepalanya, kapan tepatnya ia mulai menaruh hati pada gadis tersebut, dan kenapa bisa segalanya mengingatkan Joanne pada Julia?!

Hari-hari berikutnya, pergi ke kampus merupakan perkara paling ada-ada saja untuk Joanne. Terlebih lagi, setelah tiga hari berturut-turut ia menemukan Julia berada di tempat yang sama dengannya (di perpustakaan, di kafetaria, dan di kafe tempatnya sering nongkrong), Joanne memutuskan kalau kampusnya yang dulu ia kira luasnya tak terkira itu sudah menyusut hingga kira-kira hanya seukuran kamar asramanya.

"Maksudku, mana mungkin lah aku bertemu dengan orang yang sama dari beda departemen setiap hari?" ucap Joanne pada Judy. Kala itu mereka sedang berada di pusat perbelanjaan terdekat. Karena orang tua Judy akan menjenguk dan gadis tersebut minta ditemani mencari hadiah bagi orang tuanya. Joanne cukup cermat untuk tidak kelepasan menyebut nama Julia Cantik. (Iya, sekarang ia selalu memanggil Julia dengan tambahan kata cantik di dalam kepalanya.)

"Mungkin saja. Buktinya kita selalu bertemu?"

"Tapi itu kan, karena kita janjian! Ini aku tidak janjian, Judy... Bahkan mengobrol saja tidak pernah. Heran, kan?" Joanne masih bersikeras, sementara Judy yang pikirannya terpecah antara tas tangan bermerek dan omongan Joanne hanya mengangguk-angguk tanpa arti. "Tuh, kan! Betul aku!"

Judy kembali fokus dan hanya mengerutkan dahi melihat tingkah Joanne yang menurutnya lebih aneh daripada biasa.

===

Pada waktu-waktu di mana Joanne sedang tak ada kerjaan, baik dari kampus maupun pekerjaan sampingannya sebagai fotografer, gadis itu akan berjalan bolak-balik tanpa henti dari taman dekat apartemen Julia menuju apartemen gadis itu.

Entah kenapa pula ia melakukan hal tersebut, Joanne tak bisa menjelaskan. Dan kalau saja ia boleh jujur, Joanne benci sekali tidak bisa mencari alasan di balik hal yang dilakukannya. Tapi apa mau dikata, jatuh cintanya dia dengan Julia pun bukan dengan satu alasan yang pasti, kan?

Maka sepulangnya ia dari kampus sore ini, Joanne mengambil arah menuju apartemen Julia. Sesampainya di sana Joanne langsung mengambil sepuluh langkah menuju apartemen Julia, lalu kembali, dan memutar lagi menuju apartemen, kemudian begitu terus berulang-ulang sembari ia memikirkan banyak hal-hal di kepalanya. Jika jatuh cinta mudah, kenapa bangkit dari jatuhnya terasa susah?

Padahal Joanne punya alasan kuat untuk menghentikan perasaannya. Satu, ia tahu Julia sudah punya pacar. Dua, Julia terlihat bahagia dan oke-oke saja dengan pacarnya (walau menurut Joanne, orang tersebut masih masuk dalam golongan medioker dan Joanne bisa melakukan apa yang ia lakukan seratus kali lebih baik). Tiga, seluruh hidupnya tak pernah ada yang mengatakan bahwa perempuan bisa menyukai perempuan lainnya.

Oke, poin terakhir agak goyah. Karena Joanne sendiri banyak melihat kejadian seperti itu di film, serial, dan beberapa novel yang ia baca. Kalau tidak salah ingat pun, salah satu kakak kelas Joanne (yang berbeda sekian tahun) pernah mengumumkan memiliki pacar baru yang sama perempuannya dengan ia sendiri. Namun sekali lagi, otak Joanne membantah, pengalamanmu kalau bukan fiksi ya, orang lain? Mana contoh konkret yang lebih dekatnya? Darimana hal tersebut bisa disebut valid dan bukan sebuah 'fase' semata yang akan dilewati ke depannya?

Langkahnya terhenti pada akhir jalan setapak yang menghadapkannya pada satu-satunya bangku taman di sekitar sana. Joanne melempar tasnya terlebih dahulu, sebelum kemudian mendudukkan dirinya sendiri pada bangku tersebut dan perlahan menoleh ke arah apartemen Julia. 

Mungkin sedikit banyak berharap kalau gadis dengan senyum kekanakan tersebut akan muncul dan menghampirinya. Lebih bagus lagi kalau ditambah dengan kabar bahwa Julia telah putus dengan pacarnya dan langsung bersedia menjadi pacar pertama Joanne. Suara dengusan Joanne membangunkan ia dari lamunannya sendiri, lalu ia memutuskan kalau otaknya lah yang paling patut disalahkan. "Jangan mengada-ada kau."

Setelah puas memandangi dedaunan sekitar dan menerima bahwa seluruh usahanya menggambar sesuatu selalu diakhiri dengan bubuhan siluet seorang perempuan yang agaknya terlalu familiar, Joanne bangkit dari bangku taman tadi dan mulai berjalan menuju halte bis terdekat. Ia mengecek ponselnya, lalu baru menyadari kalau ia telah menghabiskan tiga jam untuk bengong di sebuah taman.

"Joanne?"

Yang dipanggil tertahan langkahnya. Namun berkebalikan dengan itu, detak jantungnya justru terpacu gila-gilaan sampai Joanne yakin kalau ia berkemungkinan meninggal pada waktu yang sama akibat serangan jantung. Suara yang terlalu familiar, menyapa pada saat yang sangat tidak tepat bagi Joanne. Dengan detak yang ia rasa bisa terdengar hingga menembus jaket hijau kesayangannya, Joanne memutar tumitnya agar bisa melihat dengan jelas si pemanggil tersebut. Matanya sengaja ia tutup sedikit supaya tidak perlu melihat langsung Julia dan kemudian terkapar karena pingsan.

Dan... tidak ada.

Joanne berhasil membalikkan badannya dan sudah menyiapkan seluruh tekad yang ia miliki hari itu agar tidak mempermalukan dirinya sendiri ketika berhadapan dengan Julia, namun yang terakhir disebut namanya bahkan tak ada di sana.

Tidak ada siapa pun yang ia kenali di jalan tersebut, hanya beberapa warga seumuran orang tuanya dan anak kecil yang berlarian. Joanne mengerutkan dahi, jelas sekali mendengar suara Julia. Ia hening selama semenit sebelum akhirnya menepuk dahi dengan lumayan keras. "Aku harus pulang. Tiga jam aku di sini dan sudah berhalusinasi."

Dan dengan mengatakan itu pada dirinya, Joanne kembali meneruskan perjalanannya ke halte bis, menunggu, kemudian menaiki bis menuju asramanya. Joanne duduk di sana dalam diam, hanya sesekali mengecek ponsel demi bertanya makan malam apa yang disiapkan Judy malam ini. Bahkan ketika ia sudah turun dari bis, membayar, mengucapkan terima kasih pada kondektur sekaligus selamat malam pada satpam gedung asrama, dan ketika ia berdiri bersama tiga orang mahasiswa lainnya di dalam lift, pikiran Joanne hanya mampu menggaungkan satu pertanyaan yang sama.

"Kalau memang tadi kau yang memanggil, akankah saat ini kita sedang mengobrol dan barangkali aku bisa menggenggam tanganmu?"


Never EnoughTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang