Chapter 10

26 4 0
                                    

SELAMAT MEMBACA

😎

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Andin masih terdiam.

kali ini ia sudah di buat bingung, sebenarnya ia tak bisa menolak tapi juga ia tidak mau terus menerus terperangkap dengan dinding masalalu yang masih menyelimutinya dengan cukup erat.

Otak Andin seperti tak pernah berhenti untuk berpikir, jika sudah berkaitan dengan Lintang.

"Gue ga bisa, mading harus selesai besok dan masih ada beberapa lagi yang belum gue selesaikan, mungkin lain kali gue bisa".

Tersenyum, kali ini Andin mengencangkan senyumanya untuk meyakinkan teman temanya bahwa ia sedang tidak berbohong namun lain dengan Rani, Mata Rani langsung tertuju kepada Andin, seperti memahami sesuatu yang di ucapkan oleh Andin. apakah Andin berbohong? berbohong untuk menghindari pertemuan dengan Lintang? atau mungkin berbohong ke diri sendiri?

Rani berusaha menelusuri semua dari mata Andin dan wajah Andin, namun ia tak mendapat jawaban apapun, benar saja Rani kini hanya bisa menebak nebak bahwa Andin hanya beralasan agar tak bertemu dengan Lintang dan sedikit menjauh. sepertinya begitu?

***

Cuaca siang ini terlihat sedikit mendung dan tidak bersahabat, namun orang orang yang berada dalam sebuah ruangan tersebut masih dalam keadaan baik dan santai dengan sedikit menyender ke tembok.

"coba.. itu maju cuyy maju gue ambil turret kalo nggak gue nyampah dah" ucap Danar dengan nada yang cukup keras

"gue sembunyi nih sembunyi biar nanti langsung nyiduk yak" timpal Milo yang sama kerasnya

"tengah kosong njing, ini bisa bisa lose tengah kek gue sendiri woi tapi sepi deng " vino tak mau kalah keras meskipun di akhiri dengan cengengesanya

"gue maju nih, bantuin cuk bantuin ini gc" Kali ini Lintang yang mengerasakan suaranya, sesekali ini menggunakan bahasa tubuhnya dengan beberapa bagian tubuhnya seperti kaki dan tanganya.

seperti biasa Lintang, Danar, Milo maupun Vino jika sudah asik dengan game di handphone akan melupakan segalanya termasuk keadaan sekitar. Lintang juga sudah beberapa kali menolak panggilan masuk dari Rangga yang sejak tadi sudah cukup mengganggunya.

"Shit... defeat." Lintang mengacak rambutnya gusar, lalu membaringkan dirinya ke lantai dengan kedua tangan

"Kalah mulu, anjengg bgt nih Rangga. bacot nelponin gue mulu asu" Omel Lintang tidak henti menyalahkan Rangga yg sedari tadi menelponnya, padahal ia sendiri juga tidak tau bahwa telponya itu penting atau tidak.

"Segame lagi dah yok Tang.." ajak Danar yg masih merasa tidak ingin kalah begitu saja dari gamenya.

"Nggak deh, bintang gue udah banyak yg ilang coy gue mau tidur dulu deh bentaran cape gue" tolak lintang yang langsung to the point dan segera pindah ke tempat tidur kecilnya.

GONE (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang