Leon menahan nafas saat melihat motor Jessy melaju kencang di hadapannya. Masih di arena balap liar, di mana Jessy tampak memainkan motornya ugal-ugalan. Leon begitu cemas dengan pandangan beredar menatap di mana garis finish itu berada.
Tak lupa, bibirnya terus berucapkan doa agar gadis itu menang dan keadaannya baik-baik saja. Percayalah, Leon tak mau Jessy berpacaran dengan orang yang sedari dulu menjadi musuhnya.
Kalau bukan keinginan Jessy, Leon tak akan mengijinkan gadis itu untuk ikut balapan. Tentu saja ia mengkhawatir kan keadaannya.
Ini kali pertamanya melihat gadis itu adu balap tepat di depan matanya. Ia terus menatap garis finish, berdoa supaya Jessy yang memenangkannya.
Satu-satunya yang ia lakukan adalah berdiri bagai orang bodoh.
Ia akan terus merutuki dirinya kalau sampai terjadi hal yang tidak di ingin kan oleh Jessy.
Jika Leon seperti Super Dede, mungkin sudah di bawa pergi gadis itu. Tapi itu tak mungkin, ia tak mau berhalusinasi lebih.
'Gue yakin lo pasti menang Jess' Batinnya.
Citt!!
Tak sampai lima menit, motor gadis itu melewati garis finish. Ia bernapas lega. Melihat gadis yang di sukainya baik-baik saja, terlebih gadis itu yang menang.
"GUA MENANGG!!" Pekik Jessy saat motornya sampai duluan melewati garis finish. Ia tampak bernapas lega, meski Toni tadi sempat menyelipnya beberapa kali.
Jessy turun dari motornya mendapati teman-teman yang tersenyum bangga padanya. Shiila memeluk erat tubuh Jessy. Ia takut terjadi apa-apa pada sahabat nya yang satu ini.
"Omedevv! Jantung gue mau copot tau gak lihat lo bawa motor kaya tadi" Ucap Shilla.
"Hebat banget sih bawa motor nya sahabat gue" Timpal Vany yang juga ikut memeluk Jessy dan Shilla
"Alhamdullilah, Jessy gak kenapa-kenapa" Sahut Cindy.
"Udalah gak papa. So kalian lihat sendiri kan gue jago bawa motornya?" Ucap Jessy tersenyum bangga.
"Adek gue emang the best lah!" Ucap Derick mengusap-usap rambut Jessy.
"Jess, lo hebat banget tau gak nyelip-nyelip nya. Kaya si Rosi itu loh" Celetuk Bima.
"Makasih udah mau menang, makasih juga kamu udah nepatin janji kalo kamu gak akan kenapa-kenapa" Jessy mematung melihat Leon yang tiba-tiba memeluknya. Gaya bicara nya juga berubah menjadi 'Aku-kamu'.
"I..iya sama-sama" Jawabnya canggung.
"Ekhemm! Serasa dunia milik berdua, kita mah hanya numpang ngontrak" Sahut Bima.
"Ho-oh, kita mah hanya nyamuk" Jawab Dewa. Mendengar ocehan teman-temannya, Leon melepaskan pelukannya pada Jessy. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Refleks ia memeluk gadis itu.
"Maaf gue gak sengaja" Cengir Leon yang di balas anggukan oleh Jessy.
Jessy melihat Toni mengampiri nya, bersama Rajawali di belakangnya. Toni mengacak rambutnya yang tampak kesal.
"See? Gue udah bilang kalo mimpi jangan ketinggian, ntar lo bangun, jatuh terus sakit deh. Lo udah lihat kan siapa pemenang nya?" Sinis Jessy tersenyum meledek
"Terus apa tadi lo bilang? Gue? Jadi pacar lo?" Jessy menunjuk dirinya sendiri.
"Oh ayo lah man!. Gue minta jangan kebanyakan nonton drama. Gak mudah buat lo, buat jadi pacar gue" Sambungnya lagi.
"Gue akuin lo hebat" Puji Toni sambil tersenyum.
"Gak usah sok asik. Gue nagih janji yang lo bilang tadi. Gue mau lo dan anak buah lo semua ini jadi babunya Derrgos. Besok sore datang ke base camp buat bersih-bersih. Yang telat gue kasih hukuman yang lebih" Ucap Jessy santai. Ia mendapat sorakan dari teman-temannya.
"Gue tau lo dan anak buah lo bukan pengecut. Jadi gue minta lo tepatin janji lo sendiri" Baru saja Toni ingin menjawab Jessy buru-buru masuk kedalam mobilnya. "Balik!" Ucapnya tak terbantahkan.
"Vito, lo bawain motornya Jessy" Vito mengangguk mengiyakan. Mereka semua pergi dengan sorakan ria.
Toni mendengus sebal. Ingin ia tarik kata-katanya tadi tapi tak mungkin. Ia tak mau di cap sebagai pengecut.
"Lo semua turutin apa yang di bilang Jessy tadi. Besok kita datang ke base camp mereka buat bersih-bersih. Jangan ada yang ngebantah atau buat onar! Gue gak mau di cap sebagai pengecut! Paham semua?!" Tanya Toni.
"Paham!"
"Cabut!"
KAMU SEDANG MEMBACA
JESLEY
Ficção AdolescenteSeorang gadis cantik yang banyak menarik perhatian kaum adam. Sifat nya yang dingin membuat Leon sang ketua geng yang di takuti di Jakarta tak berhenti mengejar gadis itu. "Gue gak mau makan kalo lo gak suapin" "Tangan lo kan masih lengkap, makan aj...
