Sudah terhitung dua bulan Jaemin tinggal dengan Guanheng. Meskipun masih terbilang sebentar, Jaemin dan Guanheng dapat cepat akrab. Guanheng juga sempat membuat semacam ramuan yang bisa 'menyembuhkan' Jaemin, dan sekarang badan Jaemin sudah sepenuhnya terlihat.
"Hyung, sedang apa?" tanya Jaemin sambil menghampiri Guanheng yang sedang berkutat dengan alat-alat memasak.
Guanheng menoleh dan memberikan senyum manis sebelum menjawab, "Memasak makan malam." Jawabnya.
Jaemin mengangguk-angguk paham, "Oh begitu, hyung masak apa?"
"Aku tidak terlalu pandai memasak, jadi aku hanya bisa membuat jjajjangmyeon yang simple seperti ini." Jawab Guanheng.
Jaemin berjinjit dari kursinya dan mengintip kegiatan Guanheng, "Kelihatan enak," ucapnya.
Guanheng tertawa kecil, "Terima kasih atas pujiannya." Ucapnya sambil mengacak rambut Jaemin.
Bibir Jaemin mengerucut tidak senang, "Ish hyung! Jangan diberantakin! Susah benerinnya!" gerutu Jaemin sambil menyisir kembali rambutnya.
Guanheng tertawa, "Iya tidak diberantakin, kok." Ucapnya sambil membantu Jaemin merapihkan rambutnya.
"Terima kasih, hyung!" ucap Jaemin setelah Guanheng selesai membantunya merapihkan rambut.
Guanheng tersenyum, lalu membungkuk sedikit untuk menyamakan tingginya dengan Jaemin, "Tidak masalah." Jawabnya sambil mengarahkan tangannya untuk mengacak-acak rambut Jaemin, lagi.
"Ish hyunggg!!"
***
"Hyung, aku pernah lihat di ruangan dengan pintu berwarna hitam, hyung mempunyai bola ramalan, memangnya hyung bias meramal?" tanya Jaemin sambil menghampiri Guanheng yang sedang mencuci piring bekas makan malam mereka.
Guanheng menoleh, masih dengan tangan yang sibuk membilas piring, ia menjawab, "Ya sedikit. Keluargaku secara turun-temurun menjadi peramal dan sepertinya bakat itu kini diturunkan kepadaku. Ada apa?"
Jaemin memekik senang, "Wah, kalau begitu, apakah hyung bisa meramalku?" tanya Jaemin.
Guanheng melepas sarung tangan karet yang digunakannnya untuk mencuci piring tadi, "Mungkin. Tapi kalau kau mau aku ramal, kau harap menerima bagaimanapun hasil ramalanku. Karena ramalanku selalu benar dan tidak pernah keliru." Ucap Guanheng.
Jaemin dengan polosnya mengangguk, "Hyung keren, baik hyung."
"Ayo ke ruanganku." Ucap Guanheng yang kemudian melangkahkan kakinya menjauhi dapur, diikuti oleh Jaemin di belakangnya.
Sesaimpainya di ruangan Guanheng, yang Jaemin rasakan hanyalah hawa mencekam, dalam hati Jaemin berpikir bahwa dibalik sikap cerianya, Guanheng sangat sangatlah misterius dan sulit ditebak.
"Baik, Jaemin. Duduk di hadapanku." Ucap Guanheng sambil menunjuk lapak kosong di hadapannya.
Jaemin sontak saja menyilangkan kakinya dan duduk diatas kapet berbulu yang sangat lembut, dan menyamankan posisi duduknya.
"Sekarang, kau pegang bola ini, lalu pejamkan matamu dan kosongkan pikiranmu." Ucap Guanheng, dan Jaemin menurutinya.
"Baik. Sekarang katakan apa yang kau lihat." Ucap Guanheng.
Jaemin mengernyitkan dahinya, "Gelap, hyung." Ujar Jaemin.
"Berarti pikiranmu masih belum kosong, Jaemin. Kosongkan pikiranmu, jangan berfikiran apapun bahkan hanya sekedar bagamana caranya engkau bernapas." Ucap Guanheng.

KAMU SEDANG MEMBACA
selcouth | | nct dream☘️
Fantasy𝘀𝗲𝗹𝗰𝗼𝘂𝘁𝗵 (𝘢𝘥𝘫.) ; 𝑢𝑛𝑓𝑎𝑚𝑖𝑙𝑖𝑎𝑟, 𝑟𝑎𝑟𝑒, 𝑠𝑡𝑟𝑎𝑛𝑔𝑒, 𝑎𝑛𝑑 𝑦𝑒𝑡 𝑚𝑎𝑟𝑣𝑒𝑙𝑜𝑢𝑠 Bagaimana jika idol yang selama ini kita lihat di-TV berisikan para penyihir yang masih hidup di abad ini? Mari kita simak perjalanan angg...