BAB 12

14 1 0
                                        

Di sini.. Dan akan selalu di sini
Menanti ketidakpastian akan kapan cinta ini kan bersambut..
////
Lucky

Pagi hari saat mentari telah tersenyum menyambut semua makhluk di muka bumi.

Disebuah rumah bergerbang hitam, Mi ran keluar dengan style yang berbeda dengan dirinya yang sebelumnya.

Gadis yang tengah di mabuk cinta itu kini terlihat lebih feminim, rambut terurai dengan jepit kecil di samping rambutnya. Bedak tipis, juga lisptik berwarna pink muda juga ikut menghiasi bibir mungilnya.

Mi ran benar-benar terlihat cantik pagi ini, dengan tersenyum ia melirik arlojinya. Masih pukul 06.30 menit, semalam ia mendapat pesan dari Bima bahwa kekasihnya itu akan menjemputnya pagi ini.

"Inget Mi, Bima itu suka cewek yang feminim, wangi, bisa dandan juga gaul.. Lho harus bisa tu ngerubah gaya lo sedikit demi sedikit buat your first love, ok "

Kata-kata Nanda terngiang ditelinga Mi ran, ya memang benar. Perubahan yang Mi ran lakukan hanya semata-mata untuk Bima. Cowok yang tengah mengisi relung hatinya saat ini. Dulu sering kali Mi ran dinasehati tentang ini itu oleh sohib-sohibnya namun selalu ia abaikan, entah kenapa sekarang justru Mi ran menurut dan mau melakukan perubahan itu demi seorang cowok. Ada sedikit rasa tidak nyaman, namun ia berusaha untuk mencoba.

Deru motor mendekat, Bima memang laki-laki sempurna. Dari segi tampang, kepribadian juga style nya. Pantas banyak cewek yang tergila-gila padanya, begitu juga Mi ran yang luluh pada pandangan pertama.

" Morning..Udah lama?? Sorry ya tadi agak macet " Ucap Bima dengan senyum khasnya.

" Em nggak apa-apa kok Kak, Aku juga baru aja keluar " Ucap Mi ran malu-malu.

Bima meneliti Mi ran dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sepertinya cowok itu juga sadar bahwa Mi ran benar-benar cantik pagi ini.

" Ke.. kenapa Kak?? " Mi ran gugup.

" You are so beautyful " Ucapnya yang seketika membuat Mi ran salah tingkah.

Perlahan Mi ran melangkah mendekati motor Bima, duduk cantik di jok belakang. Bau parfum khas cowok seketika tercium, parfum Bima sangat menenangkan. Tidak terlalu menyengat.

Sepanjang perjalanan Mi ran dan Bima banyak mengobrol. Membicarakan hal-hal yang mereka suka dan tidak.

Sering kali Mi ran tertawa geli saat Bima membuat lelucon-lelucon aneh ditengah percakapan mereka.

Sementara itu, di dalam bus. Seorang cowok tengah duduk dibangku paling belakang, baju seragam yang tak rapi juga earphone yang tengah bertengger ditelinga. Lagu mengalun lembut, membuat sang empunya menerawang jauh diluar jendela bus.

Ya.. Dia Lucky, setelah mengetahui gadis yang membuatnya penasaran tengah berpacaran dengan sepupunya. Membuat hati Lucky tercubit.

Akankah kepindahannya sia-sia, akankah ia akan menyerah sebelum berperang.

" Tumben neng bidadari nggak naik bus pagi ini, apa dia telat lagi ya?? " Gerutu pak sopir sembari clingak clinguk menatap luar jendela.

Hal itu membuat Lucky ikut menatap arah pandang pak sopir. Ia baru teringat bahwa ini kawasan rumah Mi ran.

Akh.. Lagi-lagi ia sedikit kecewa, tidak mungkin Bima membiarkannya pergi sekolah naik bus seperti biasanya. Bima pasti senantiasa mengantar jemput gadis itu. Lucky akui memang Bima tipe cowok yang bertanggung jawab akan semua hal . Lucky tersenyum masam, kembali ia hanyut menikmati lagu yang tengah mengalun merdu.

CAHAYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang