Bab Tak Berjudul 4

581 26 0
                                        

"Jangan emosi, kan aku baik-baik saja dan akan bekerja untukmu!"
"Benar juga, kerja denganku dan jangan balik kerja lagi sama bos pelit! Biar dia tau rasanya tanpa dirimu dan semua seketaris yang sok hebat pada menaggis darah.''
Ocehan Ailen masih tidak berhenti dan di tangkapi tawa oleh Freya. Bahkan di dalam salon saja, Ailen masih rajin dengan ocehan sumpah serapahnya yang tiada henti.
"Sudah lah.. jangan mengoceh terus dan aku mulai kerja kapan? Lalu kapan juga kau akan mengambil ahli pekerjaan orang tuamu!
"Benar juga, aku lupa'' balas Ailen dengan sedikit terkejut tapi masih di tutupi dengan ocehannya lagi, yang mengenai Hans yag di nilai pelit dan keterlaluan.
"Rambutnya mau di potong seperti apa?'' tanya salah satu karyawan salon.
"Seperti ini?'' balas Freya dengan memperlihatkan salah satu potongan rambut artis korea.
"Oke dan apa sekalian di warnai dengan warna coklat atau warna terang?"
"Warna coklat mudah saja, lebih cocok buat dia?" timpal Ailen yang hanya duduk di samping. Karena ini salon orang kaya, sehingga agak sepi dan hanya orang tertentu yang datang.
"Baik.'' Balas karyawan salon yang mulai bekerja dengan teliti .
Sejam kemudian, Ailen hampir tidak percaya dengan perubahan Freya yang berbeda dengan Freya yang di kenalnya selama ini dan memuji tukang make up di salon yang pandai menyihir Freya menjadi orang lain.
"Ayo.. Freya, kita makan dulu! Setelah itu, kita pergi belanja cosmetik dan baju?" saut Ailen yang paling semangat dan Freya seperti boneka di tarik ke sana kesini untuk memilih makanan.
Ailen tipe wanita yang selalu mencoba menu baru, maka semua tempat makan akan di masuki untuk mengecek menu tersebut. Hingga menu baru terjatuh pada restoran jepang yang menurut Freya agak mahal. Tapi dirinya juga sudah lama tidak menyenangkan dirinya. Karena harus hemat uang yang ujung-ujungnya malah membuat dirinya menderita.
Tak ingin seperti dulu lagi, Freya makan sepuasnya dengan hati gembira. Mengikuti Ailen yang ketempat cosmetik dan semua Cosmetik di pilih oleh Ailen yang paling tau soal perawatan kulit.
"Ini semua untukmu, anggap hadiah pernikahan dari ku?"
"Tapi?" Freya ingin menolak.
"Terima atau kita putus pertemanan?" ancam Ailen
"Pilih terima dan terima kasih banyak!''
"Perbaiki dirimu dan tunjukkan pada mereka yang menghinamu!"
"Iya, akan ku buktikan pada mereka semua.'' Balas Freya dengan memeluk sahabatnya yang masih bercloteh tiada henti.
Sampai malam, keduanya selesai belanja dan Hans kembali mengirimkan pesan kepada Freya untuk mengingatkan untuk tidak lupa hari pernikahannya. Seperti pria egois, Hans yang tidak terima. Jika Freya tidak membalas pesannya dalam waktu 5 menit, maka di telphone terus menerus.
Freya yang keluar dari kamar mandi, mengangkat telephone dari Hans dan memaki-maki Hans di anggap sinting.
"Apa katamu?"
"Sinting." Balas Freya yang kesal dan mematikan telephonenya.
Hans yang kesal, mencari data tempat tinggal Freya di data karyawan dan mebuat dirinya kembali emosi tinggi. Data Freya sudah di musnahkan oleh seketaris barunya.
"Sial." Oceh Hans dengan suara nyaringnya. Melemparkan semua berkas ke lantai.
Keesokkan paginya, hari pengepasan gaun pengantin. Hans semakin rajin meneror Freya. Hingga Freya bangun tidur lebih awal dan kembali memaki-maki Hans yang di anggap telah menganggu jam tidurnya.
"Sudah pagi malas!"
"Bos, saya sudah tidak kerja denganmu! Sesuka hatiku, tidur sepuasnya.''
"Hari ini, ngepas gaun penganti! Jangan katakan kau lupa?"
Freya memijit-mijit kepalanya dengan kesal, sejak kapan bos pelitnya. Ada memberitau dirinya untuk ngepas gaun pengantin.
"Aku tunggu di kantor, jangan telat!"
Saat Freya ingin menjawab perkataan Hans, panggilan sudah terputus dan Freya semakin emosi. Memilih cepat mandi dan menunggu di samping perusahan yang ada salah satu kafe yang terletak di tepi jalan.
"Pak, aku sudah di cafe dekat samping perusahan.'' Freya membaca sekali lagi pesan yang akan di kirimnya. Karena sekarang dirinya tidak pakai kacamata. Sehingga mesti melihat lebih teliti lagi.
Di kantor, Hans yang sudah menunggu lebih dari 30 menit. Menerima pesan yang di kirimkan ke hpnya semakin emosi. Melihat tulisan Freya yang masih memanggil dirinya Pak.
"Sialan, memangnya aku setua itu apa?" Hans langsung mengeluarkan cermin dan melihat wajahnya di depan cermin dengan dahi berkerut banyak.
Freya yang sudah malas duduk berlama-lama, kembali mengirimkan pesan lagi kepada Hans dengan mengatakan dirinya tidak bisa lama dan harus pulang.
Emosi Hans semakin meninggi dan keluar dengan wajah suramnya, menuju pakiran mobil mengemudi ke arah cafe tersebut. Sambil melirik mantan seketarisnya yang jelek.
Setelah melihat lama dan tidak menemukannya, Hans sengaja melakukan pangilan ke nomor Freya dan berhasil menemukan suara telphone di sudut ruangan. Dengan emosi tinggi, Hans berjalan menghampiri Freya dan seketika jantungnya hampir terhenti. ketika Hans menatap Freya dengan tidak percaya, melihat mantan seketarisnya yang jelek. Sudah berubah menjadi orang lain dengan menggunakan make up tipis dan tidak memakai kacamata tebal lagi, menoleh ke arahnya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" ucap Freya dengan nada datar.
"Hanya memastikan kau tidak kabur!" balas Hans dengan sinis dan langsung menarik pergelangan Freya karena dirinya tidak ingin membuang banyak waktu. Di tambah lagi akan ada rapat pada jam 3 sore ini.
"Pak, apakah anda tidak bisa lebih lembut?''
"Berhenti memanggilku dengan sebutan Bapak dan aku tidak setua itu?" balas Hans dengan emosi dan melemparkan Freya masuk ke dalam mobil.
"Pasang sabuknya dengan baik dan kita pergi sekarang!"
"Anda ini tampan, tapi sayang! Sikap tuan sangat buruk pada wanita." Sindir Freya dengan sinis.
Tapi sindiran Freya tidak di hiraukan oleh Hans yang fokus mengemudikan mobil ke toko yang mengurus pernikahannya. Para staff yang melihat Hans, memberikan hormat pada Hans dan sekaligus terkejut melihat wanita yang di samping Hans. Yang bukan Dessy, melainkan wanita lain.
"Keluarkan gaun yang kemarin dan cocokkan dengan dia!'' perintah Hans kepada salah satu staff yang berdiri di depan mereka berdua.

Wedding and ContrackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang