[FOLLOW SEBELUM BACA]
Ini tentang, Atharka Putra Malendric yang temperamental dan Binara Helvana yang penurut, sabar, dan selalu mengalah kepadanya.
Selama menjalin hubungan sikap Atharka selalu berubah-ubah. Yang selalu memarahinya walau hanya kare...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍁
"Gue tau Binar baik, setia, care sama gue, tapi kenapa ... kenapa Alice yang selalu ada buat gue? Kenapa sih?!"
***
SUDAH dari kemarin Atharka mendiamkan Binar. Sejak kejadian itu Atharka sedikit menjauh dari Binar, saat berpapasan di sekolah pun Atharka bersikap cuek pada Binar. Meskipun begitu, rutinitas Binar untuk membawakan bekal Atharka tetap berjalan.
Binar tau, ia menyadarinya bahwa kemarin memang salahnya juga, andai saja waktu itu Binar tidak mengatakan hal itu pada Atharka. Hal yang buruk tidak akan terjadi pada cowok itu. Jabatan Atharka sebagai ketua OSIS hampir saja dilepas. Namun Alice sebagai wakilnya, memperkuat jabatan Atharka. Ya, kemarin Alice membela Atharka mati-matian di depan guru BK.
"Gue tau Binar baik, setia, care sama gue, tapi kenapa ... kenapa Alice yang selalu ada buat gue? Kenapa sih?! Arghhhh!"
"Gue nggak mau ngungkit cerita lama gue, tapi kenapa cerita itu perlahan muncul lagi di hidup gue!"
Atharka memukul tembok di sampingnya. Ia tidak tahu ada apa dengan hidupnya yang sekarang, Atharka sangat mencintai Binar, tetapi masa lalunya terus saja mulai tumbuh perlahan. Tidak mungkin juga jika ia harus meninggalkan Binar hanya demi perempuan itu.
Sesil datang membuka pintu kamar Atharka perlahan. Gadis cantik itu membawakan secangkir teh dan biskuit di piring oval. "Disuruh Mami nih."
Sesil bungkam ketika melihat tangan Atharka mengeluarkan darah. "Lo abis ngapain sih? Kok tangan lo banyak darah gitu? Sini gue obatin!"
Atharka tidak menjawab pertanyaan Sesil, ia hanya mengikuti permintaan gadis itu. Gadis itu mengambil kotak P3K di dalam nakas yang berada di samping tempat tidur king size Atharka, lalu kembali duduk di samping adiknya itu. Ia mengobati luka itu dengan teliti dan pelan. "Lo kenapa lagi? Ada masalah di sekolah?"
"Hm."
"Coba lo cerita sama gue, siapa tau gue bisa kasih jalan keluar," ujar Sesil lembut. Tidak biasanya Sesil bersikap lembut kepadanya, hanya saat waktu-waktu seperti ini. Kalau tidak ia akan terus mengejek dan memancing keributan dengan Atharka yang kalem.
"Gue bingung sama diri gue sendiri," ujar Atharka lalu menarik napasnya dan menghembuskannya pelan. "Lo tau Alice 'kan?" sambungnya.
"Gausah pake nanya lo tau sendiri jawabannya," jawab Sesil jengah seraya memutar bola matanya malas.
"Dia selalu muncul di kehidupan gue, kak!" ucap Atharka dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
Sesil meletakkan kembali obat merah itu. "Lo suka lagi? Lo 'kan udah–"
"Gue nggak suka!" potong Atharka cepat.
"Oh, gue tau nih, lo pasti bingung karena lo udah punya cewek tapi Alice juga masih hadir di hidup lo, iya kan?" tebak Sesil.