Terjerat pernikahan di usia muda karena hamil?! Anisa dijebak oleh orang asing bahkan karena malam bergairah yang ia habiskan bersama putra Mahesa, Arfan dalam semalam nasib Anisa kacau. Keluarga Anisa yang mengetahui fakta tersebut mengurungnya dal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Anisa tidak bisa berkata apa-apa mendengar perkataan Arfan beberapa hari lalu. Haruskah sampai ke luar negeri? Lantas bagaimana dengan Ryan? Anisa pun kembali menjenguk Arfan. Kali ini ia akan memastikan semuanya agar jelas, termasuk penyakit Ryan.
Begitu pintu terbuka Arfan yang sedang istirahat terkejut melihat Anisa. Perempuan yang sedang mengendong Reyna berjalan mendekati Arfan lalu bertanya.
"Mas, yakin? Terus, Ryan bagaimana? Aku tidak tahu penyakit apa itu," ucap Anisa.
"Aku tahu. Aku dulu juga mengidapnya. Kamu tidak perlu khawatir, itu hanya penyakit turunan. Memang susah sembuh, tapi jika pola makannya teratur Ryan bisa sembuh," tutur Ryan.
"Tidak berbahaya, kan?" tanya Anisa memastikan lagi.
"Iya, tidak kok. Itu penyakit anemia, aku juga kadang kambuh kalau tidak rutin cek kesehatan," jelas Arfan agar Anisa tidak terlalu khawatir. "Aku juga tidak menyangka penyakit itu nurun ke salah satu anak kita."
"Bolehkah aku mengendongnya?" Arfan meminta izin ke Anisa untuk mengendong Reyna. Anisa terkikik geli dengan pertanyaan Arfan.
"Kenapa pake nanya? Sudah pasti, Reyna anak kita." Anisa memberikan Reyna ke Arfan. Arfan menyambut putri kecilnya lalu menimangnya.
Anisa pun menghela napas dengan lega mendengar jawaban Arfan. Netranya menatap Arfan yang sedang menimang Reyna. Bayi perempuan yang cantik itu ternyata putrinya. Suara kecilnya terdengar lucu dan matanya yang indah. Fitur wajahnya memang mirip Anisa, tetapi sisanya mirip Arfan. Terutama warna matanya itu. Anisa seketika cemberut melihatnya dikarenakan kedua anak pertamanya tidak ada yang mirip dengannya.
"Mas, udah. Sini Reyna. Kamu masih harus istirahat," ucap Anisa langsung mengambil Reyna dari gendongan Arfan.
Arfan tidak mengatakan apa-apa. Memang tubuhnya masih lemas apalagi tadi dia mendapatkan suplemen darah. Diberikannya Reyna ke Anisa lalu Arfan memperbaiki posisinya— berbaring. Pertemuan itu berakhir begitu saja dan hari berikut-berikutnya pun berjalan seolah tidak terjadi kejadian sebelumnya.
Namun, satu hal yang mengusik pikiran Anisa. "Apa perlu kami meninggalkan Indonesia? Kan biaya tidak murah."
"Kenapa wajahmu murung?" tanya Sekar dengan raut wajah khawatir begitu Anisa datang ke kamarnya.
"Aku kepikiran saja uang darimana buat ongkos ke luar negeri?" Anisa menundukkan kepalanya. Reyna yang melihat Anisa terlihat murung langsung menangis.
"Kan, Reyna saja paham ibunya sedang sedih. Jadi, jangan murung lagi," ucap Sekar. Anisa mengangguk setuju lalu ia membaringkan Reyna di ranjang bayi.
"Nanti aku akan diskusi dengan Arfan setelah dia pulih total," ucap Anisa.
☆☆☆
Beberapa bulan kemudian, Arfan yang sudah menjalani rehabilitasi dinyatakan sembuh. Ryan juga sudah bisa dibawa pulang setelah menjalani perawatan selama ini dikarenakan kondisinya. Berbeda dengan Reyna yang sudah diperbolehkan dibawa pulang setelah 3 bulan menjalani perawatan. Sekarang sudah bulan ke 7 setelah kecelakaan tersebut, sungguh sulit dipercaya mereka selamat dari kecelakaan maut.
"Ayo, pulang." Arfan menggandeng tangan Anisa lalu Anisa menyambutnya dengan hangat.
"Iya."
"Mas, uang darimana kita ke luar negeri?" tanya Anisa begitu mereka memasuki mobil. Dimas dan Sekar menjemput mereka hari ini.
"Aku sudah lama mempersiapkannya. Kamu tidak perlu khawatir soal biaya karena aku sudah merencanakan semuanya dari dulu."
Jawaban Arfan seketika membuat Anisa bergidik. Dimas dan Sekar terdiam karena mereka tahu rencana apa yang dibicarakan Arfan.
Mulai hari ini, lembaran baru dimulai. Kali ini mereka tidak berdua saja, tetapi berempat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hi, maaf lama update dan maaf terlalu pendek, ya. Aku usahakan lain kali lebih memuaskan.