💫1💫

532 57 202
                                    

Anisa merebahkan tubuhnya di sofa setelah membersihkan rumah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Anisa merebahkan tubuhnya di sofa setelah membersihkan rumah. Memorinya kembali ketika 5 bulan lalu kala itu ia ketahuan hamil oleh orang tuanya sampai dikurung di dalam kamar.

"Aku gak nyangka pernikahanku akan seperti ini. Nak, kau tahu, ayahmu sungguh aneh datang menemui ibu malam itu dan mengajak ibu pergi bersamanya," monolog Anisa sambil mengelus perutnya yang kian membuncit.

Tatapan Anisa menjadi teduh dengan sudut bibirnya menarik ia terkekeh pelan dan tanpa sadar cairan bening membasahi kedua pipinya.

"Apa salahku sampai mengalami ini? Aku tidak mengerti apa yang harus ku lakukan saat kalian lahir," ucap Anisa di sela-sela tangisnya. "Ar, cepatlah pulang."

***

Arfan tengah sibuk dengan urusan toko yang ia rintis selama 5 bulan terakhir. Arfan Mahesa, seorang laki-laki yang tumbuh besar di keluarga konglomerat kini telah melarat eh salah lebih tepatnya berusaha mencari nafkah untuk keluarga kecilnya.

"Kau lumayan juga padahal tumbuh besar seperti pangeran, tetapi kayak sudah terbiasa dengan bisnis," ujar Dimas, rekan kerja Arfan dan dia sudah banyak membantu Arfan dan Anisa selama ini.

"Kau pikir aku dibesarkan cuma tahu makan dan tidur? Sorry, aku tahan banting apalagi sebagai pewaris aku sudah dididik dengan tegas bahkan mendapat pendidikan soal bisnis sedari kecil," sergah Arfan sambil menata kue pesanan pembeli.

"Apa keluargamu dan keluarga Anisa gak mencari kalian? Udah lewat 5 bulan apalagi kalian berdua merupakan tokoh penting di dunia konglomerat, hilang bentar aja udah panik se-kota," ujar Dimas yang tengah mencuci piring-piring kotor.

"Aku juga gak tahu palingan sekarang mereka gak memerlukan kami lagi. Toh, bukan urusanku lagi sekarang prioritasku adalah Anisa dan calon anakku serta aku harus berhati-hati dengan sosok yang mengejar kami ketika aku dan Anisa melarikan diri dari rumah," ucap Arfan sambil membersihkan remahan kue yang tumpah dan membersihkan tangannya.

"Benar juga, apalagi katanya anakmu itu bayi kembar jadi kau harus extra kerja," timpal Dimas.

"Sudah? Ni udah ditanyain pesanannya," kata seseorang sambil memunculkan kepalanya dibalik pintu yang membuat Dimas terlonjak.

"Sudah kok, ni ambil," jawab Arfan tampak santai lalu ia melanjutkan pekerjaan lainnya.

Orang itu mengambil kue yang dibuat oleh Arfan lantas membawanya keluar dari dapur.

"Dion, nanti gantian, ya," ujar Dimas lalu orang yang dipanggil Dion memganggukkan kepalanya.

"Aku ke depan, ya, Ar," pamit Dimas, tetapi tiba-tiba tangannya dicegat oleh Arfan yang membuat Dimas menoleh dengan tatapan kebingungan. "Kenapa?

Our BabyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang