26

10.6K 1K 56
                                        

26

Ketika mobil Drake memasuki jalan kompleks rumah mereka, Valencia hanya membisu dengan perasaan jengkel. Ia lapar. Rasa pusing dan mualnya yang sejak tadi sebisa mungkin ia tahan-tahan, malah makin menjadi-jadi.

Begitu mobil terparkir rapi di garasi, Valencia segera turun dan berjalan ke kamar. Raut jengkelnya sama sekali tak ia sembunyikan. Drake mengajaknya pulang sebelum ia sempat mengonsumsi apa pun. Pria itu bahkan membual tentang makanan yang lebih mahal dan enak.

Ya, Valencia tahu. Drake kaya-raya. Namun apa yang pria itu lakukan? Dia bahkan tidak mampir ke restoran untuk mengajak Valencia makan. Tidak mungkin Valencia memasak lagi pada pukul delapan malam. Ia lelah. Ia ingin minum air putih saja, lalu tidur.

Setelah meneguk air putih yang tersedia di atas nakas, tanpa berganti pakaian dan menghapus riasan, Valencia naik ke atas ranjang.

Pintu kamar terbuka, Drake masuk dengan wajah dingin.

"Jadi kau sengaja berdandan secantik itu karena tahu akan bertemu Ray?" tuduh Drake sambil berdiri di ujung ranjang dan menatap Valencia tajam.

Valencia yang baru duduk di bibir ranjang, memijit kepalanya yang terasa kian pusing. Ia bahkan tidak memperhatikan pujian secara tak langsung Drake yang mengatakan dirinya cantik.

"Valencia??"

Valencia mengembus napas panjang, lalu menatap Drake dengan kesal. "Aku bahkan tidak tahu Ray akan ada di sana. Kau sudah memblokir dan menghapus nomor ponselnya. Jadi bagaimana kau pikir kami akan berkomunikasi?"

Drake terdiam.

Valencia mendengkus bosan, lalu berbaring dan memejamkan mata.

Ketika dua menit berselang dan tak terdengar suara apa pun dari Drake, Valencia membuka mata. Pria itu masih berdiri di tempat yang sama, dan tampak tercenung dangan rahang yang menegang.

Sekarang apa lagi? Drake sedang berusaha mencari bahan untuk bertengkar?

"Aku lelah, Drake. Tolong, jika kau ingin mengajakku bertengkar, simpan saja semuanya untuk besok. Aku mau istirahat."

Setelah itu, Valencia menyalakan pendingin ruangan, lalu memejam dan menarik selimut hingga ke bahu.

Tiba-tiba Valencia merasakan embusan napas hangat di wajahnya. Ia membuka mata dan seketika matanya melebar mendapati Drake membungkuk di atasnya. Wajah pria itu hampir menyentuh wajahnya.

"Ya, aku mengabulkan permintaanmu, kita tak akan bertengkar malam ini, melainkan menggapai puncak kenikmatan."

Valencia menolak, tapi percuma, Drake sudah memerangkapnya dengan tubuh kekarnya.

***

Matahari pagi bersinar lembut. Awan mendung menggantung di mega-mega. Angin sepoi-sepoi berembus sejuk.

Drake Arsenio berjongkok di depan sebuah pusara, mengelus nisan dengan mata berkaca-kaca.

"Maafkan aku, Pat. Aku tak mampu untuk terus membencinya," bisik Drake pelan dengan suara bergetar.

Jauh di dalam hatinya, ia merasa bersalah karena tak lagi mampu mempertahankan kebenciannya pada Valencia yang kian hari kian memudar.

Kesabaran Valencia dalam menghadapinya, keindahan yang mereka raih ketika bercinta, dan bagaimana rasa kesepian Drake ketika Valencia menginap di rumah Bibi Marisa, juga bagaimana jantungnya serasa akan copot ketika wanita itu meminta cerai. Drake pikir ia akan mati jika mereka berpisah.

Kemarahan dan kebenciannya pada Valencia, ternyata sama sekali tak mematikan rasa yang telah tumbuh di hatinya untuk wanita itu sejak kali pertama mereka bertemu di rumah sakit.

Dendamnya sama sekali tak memudarkan keinginan untuk memiliki wanita itu.

Ia masih menyukainya.

Menginginkannya.

Sebuah tepukan ringan di bahunya mengejutkan Drake. Ia menoleh dan mendapati sesosok tampan dengan ekspresi datar berdiri di sana.

"Gab, apa yang kaulakukan di sini?"

"Aku menziarahi makam ibuku. Ketika akan pergi, aku melihatmu."

Drake bangkit dan menghela napas panjang.

"Ayo, kita mengobrol sebentar," ajak Gabriel.

***

Kira2 Gabriel bakal ngomong apa yak??

bersambung ...

please vote dan komen, teman2. thanks

love,

Evathink

Instagram/threads : evathink


Valencia and Her Devil Husband - TAMAT (PART LENGKAP)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang