39
Bilang ia pecundang, maka Drake tidak akan membantah. Sejak Valencia meninggalkannya tiga hari lalu, yang Drake lakukan hanyalah berbaring di kamar, menghidu aroma Valencia yang tersisa. Ia tak punya semangat untuk melakukan apa pun. Satu-satunya wanita yang ia cintai, kini telah pergi.
Ponsel di atas nakas berdering untuk kesekian kalinya, Drake mengabaikannya. Sepanjang hari ini, Sebastian dan Gabriel silih berganti menghubunginya. Apa kedua bangsat itu tidak tahu kalau Drake sedang patah hati dan butuh waktu menyendiri?
Dengan kesal Drake menonaktifkan ponselnya.
Satu jam kemudian, pintu kamarnya terbuka.
Drake menatap murka kedua sahabatnya yang melangkah memasuki kamar. Ia bangkit dan duduk di sisi ranjang. "Berengsek! Apa yang kalian lakukan di sini??"
Sebastian tertawa. "Syukurlah kau masih hidup dan masih bertenaga untuk memaki."
Drake mendengkus dan meraih air minum dari atas nakas. Seharian ini ia tidak makan apa pun. Hanya beberapa teguk air putih mengisi lambungnya. Aneh, ia tidak merasa lapar. Apa patah hati memang semenyedihkan itu?
"Makan dulu, Drake," Gabriel mengulurkan satu bingkisan yang bertuliskan nama restoran pizza terkenal.
Drake menerima bingkisan itu dengan setengah hati dan meletakkannya ke atas ranjang.
"Cinta harus diperjuangkan, Bung," ujar Sebastian sambil terkekeh kecil.
Drake mendengkus masam. "Aku sudah menyatakan cinta, tapi dia tetap pergi."
Sebastian tertawa, sementara Gabriel tenang seperti biasa.
"Mungkin dia tak yakin dengan cintamu," tambah Sebastian.
Drake bungkam. Jelas masih kesal teringat saran Sebastian yang tidak mempan.
"Setelah apa yang kalian alami, Sebastian benar, Drake. Valencia butuh diyakinkan," imbuh Gabriel.
Drake terdiam.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" Drake memandang kedua sahabatnya setelah cukup lama merenung.
Sebastian kembali tertawa. Drake sangat ingin mematahkan leher sahabatnya itu. Ia sedang sekarat karena ditinggal Valencia, bisa-bisanya sahabatnya itu tertawa. Jika dia tidak bisa ikut merasakan kepedihan Drake, setidaknya dia memasang wajah muram. Dasar bangsat!
"Patah hati membuatmu jadi bodoh, eh? Apa kau benar-benar tak tahu bagaimana cara meraih hati wanita?"
"Aku sudah mencobanya," Drake membela diri. "Aku bersikap manis, tapi dia tetap pergi."
"Mungkin dia pikir kau melakukan itu karena merasa bersalah, bahkan berutang nyawa, bukan cinta," kata Gabriel.
Sebastian menjentik jari. "Nah, Gabriel jauh lebih pintar. Sekarang kau paham apa yang harus dilakukan, bukan?"
Drake terdiam. Benarkah semua yang selama ini ia lakukan, Valencia anggap tak lebih dari ungkapan rasa bersalah? Atau utang nyawa?
Ya, Drake merasa bersalah. Merasa berutang nyawa karena Valencia menyelamatkan. Namun, sikap manisnya kepada wanita itu murni karena ia mencintainya.
Sebastian tertawa. "Sekarang waktunya kita makan." Kemudian meraih kemasan pizza dan membawanya ke sofa yang ada di kamar, lalu duduk di sana, diikuti oleh Gabriel.
Akhirnya Drake pun menyusul kedua sahabatnya. Tiba-tiba ia merasa lapar. Entah disebabkan aroma pizza yang mengundang selera atau karena ia mulai bersemangat, tahu apa yang harus ia lakukan agar Valencia kembali padanya.
***
Setelah kedua sahabatnya pulang, Drake mandi dan bercukur. Ia akan segera menemui Valencia, melakukan apa pun untuk meyakinkan wanita itu, bahwa ia mencintainya, bahwa ia tak bisa hidup tanpanya.
Namun ketika telah berpakaian rapi dan siap pergi, Drake mengumpat. Ia baru teringat, Valencia belum memberitahunya alamat rumahnya.
Berdiri di tengah kamar, Drake memeriksa ponsel. Tak ada satu pun pesan dari Valencia. Semangat Drake yang tadi berkobar-kobar, padam seketika.
Valencia tidak memikirkannya sedikitpun. Padahal, tiga hari ini, sedetik pun wanita itu tak pernah pergi dari benak Drake.
Suasana hati Drake seketika memuram. Cintanya bertepuk sebelah tangan.
Dengan hati merana Drake menghubungi Valencia. Terdengar suara operator selular yang menyatakan nomor yang ia tuju sedang tidak aktif.
Drake kembali mengumpat. Marah pada Valencia yang ingkar pada janjinya akan mengirimi alamat rumah, juga marah pada diri sendiri yang menjadi idiot karena patah hati. Seharusnya hari itu ia membuntuti Valencia. Bodoh. Bodoh. Bodoh!
Dunia akan tertawa jika tahu seorang Drake Arsenio, sang pengusaha brilian telah berubah tolol.
Dengan perasaan kesal, Drake mencari nama Bibi Marisa di ponselnya. Berniat menghubungi sang bibi dan bertanya tentang keberadaan Valencia. Siapa tahu wanita itu telah memberi tahu Bibi Marisa.
Namun niat Drake itu batal ketika teringat, mungkin saja Valencia belum memberitahu sang bibi, toh Bibi Marisa tidak tahu tentang perpisahan mereka.
Drake mengembus napas panjang.
Tak pernah ia dibuat frustrasi seperti ini oleh seorang wanita.
***
bersambung ...
jangan lupa vote dan komennya ya, teman2, makasihhhh
follow instagram/tiktok aku: evathink
FYI, Versi FULL/TAMAT cerita ini & cerita-cerita aku yang lainnya, tersedia dalam bentuk, cetak, ebook dan PDF
Cetak dan PDF, order di WA Evathink 08125517788 (Harga PDF jauh lebih murah)
Ebook tersedia di:
Karya Karsa
Google Play Buku
Note: cerita dilanjutkan di wattppad sampai tamat!
KAMU SEDANG MEMBACA
Valencia and Her Devil Husband - TAMAT (PART LENGKAP)
RomansaTAMAT - PART LENGKAP FOLLOW EVATHINK AGAR MENDAPAT NOTIFIKASI CERITA BARU DAN INFO LAINNYA! Unexpected Love #1 Drake Arsenio menikahi Valencia Oliver semata-mata demi menyiksa gadis itu. Ia menciptakan neraka untuk perempuan keji yang telah merenggu...
