40
Matahari sore bersinar keemasan. Drake duduk di bangku di bawah sebuah pohon rindang dekat lahan parkir area pemakaman. Seminggu terakhir ini mungkin ia boleh disebut sebagai penunggu tanah pemakaman. Bagaimana tidak, setiap hari ia betah di sana, berharap bisa menemukan Valencia menziarahi pusara ibu Drake atau Patricia.
Tingkah putus asanya itu disebabkan orang yang disuruhnya untuk mencari Valencia, sama sekali tak menemukan jejak wanita itu. Drake sendiri belum bercerita kepada Gabriel dan Sebastian. Untuk kali ini, ia bukan hanya tak mau merepotkan kedua sahabatnya itu, tapi juga tak mau diledeki Sebastian. Entah sejak kapan ia menjadi pecundang.
Kedua sahabatnya itu pasti berpikir kalau saat ini ia sedang berusaha meraih hati Valencia, padahal Drake bahkan belum menemukan wanita itu.
Drake masih setia menunggu ketika melihat sebuah mobil parkir tak jauh dari mobilnya. Sial. Ia tak bisa benar-benar menyembunyikan permasalahannya, bukan?
Gabriel melangkah keluar dari mobil. Drake berharap sahabatnya itu tidak melihat keberadaannya, tapi percuma.
Gabriel menyingkap kacamata hitamnya ke atas dan melangkah menuju Drake dengan kening berkerut.
"Drake," sapa Gabriel. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Tak mungkin untuk Drake terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Mau tak mau ia pun bercerita.
***
Sulur-sulur matahari sore yang bersinar keemasan menembusi tirai tipis jendela kamar Drake. Pria itu duduk di sofa yang ada di kamar dengan perasaan merana. Wajahnya tirus dengan cambang dan janggut yang tumbuh tak beraturan, bukti jelas dari hampir tidak pernahnya bercukur. Rambutnya mulai memanjang dan dibiarkan berantakan. Benar-benar kondisi yang mengenaskan.
Setelah bertemu Gabriel di area pemakaman petang itu, akhirnya Drake pun terbuka pada Gabriel, bahkan Sebastian, tentang dirinya yang belum bertemu Valencia karena tidak tahu di mana keberadaan istrinya itu.
Kedua sahabatnya itu pun mengerahkan pikiran, tenaga dan waktu untuk membantu mencari informasi keberadaan Valencia.
Dua minggu pun berlalu.
Pencarian mereka membentur titik buntu. Valencia menghilang tak berjejak.
Drake meneguk bir dengan putus asa. Ia hidup tapi serasa mati. Setiap detik ia menunggu kabar dari Valencia.
Adit, detektif terkenal yang ia bayar mahal untuk membantunya menemukan Valencia, sama sekali tak membuahkan hasil.
Drake bahkan merendahkan diri dengan menghubungi Ray, tapi pria itu memupus habis harapan Drake saat mengatakan telah sebulan terakhir tak berkomunikasi dengan Valencia.
Dengan gerakan lemah, Drake berjalan ke ranjang, lalu berbaring di sana, menempelkan hidungnya di bantal Valencia.
Aroma istrinya itu telah menguap sepenuhnya. Mata Drake panas. Ia merindukan Valencia. Sangat merindukannya. Apakah kesalahan-kesalahannya tak termaafkan sehingga ia harus dihukum dengan rasa cinta dan kehilangan yang sangat menyakitkan ini?
Tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan malas Drake mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas.
Nama Sebastian tertera di layar. Bajingan yang satu itu bukan orang yang Drake harap menghubunginya. Ia menunggu panggilan dari Adit.
Panggilan itu berhenti hanya untuk berdering lagi.
Dengan tak semangat Drake menerimanya. "Ada apa, Seb ...?"
"Aku sudah menemukan jejak Valencia."
***
bersambung ...
jangan lupa vote dan komennya ya, teman2, makasihhhh
follow instagram/tiktok aku: evathink
FYI, Versi FULL/TAMAT cerita ini & cerita-cerita aku yang lainnya, tersedia dalam bentuk, cetak, ebook dan PDF
Cetak dan PDF, order di WA Evathink 08125517788 (Harga PDF jauh lebih murah)
Ebook tersedia di:
Karya Karsa
Google Play Buku
Note: cerita dilanjutkan di wattppad sampai tamat!
KAMU SEDANG MEMBACA
Valencia and Her Devil Husband - TAMAT (PART LENGKAP)
RomansaTAMAT - PART LENGKAP FOLLOW EVATHINK AGAR MENDAPAT NOTIFIKASI CERITA BARU DAN INFO LAINNYA! Unexpected Love #1 Drake Arsenio menikahi Valencia Oliver semata-mata demi menyiksa gadis itu. Ia menciptakan neraka untuk perempuan keji yang telah merenggu...
