27

10.5K 1.1K 87
                                        

27

Drake dan Gabriel berjalan menuju sebuah warung tak jauh dari tempat parkir. Gabriel membeli dua botol air mineral, menyerahkan satu pada Drake, lalu mengajaknya duduk di kursi di bawah sebuah pohon rindang tak jauh dari warung. Keduanya duduk berdampingan dengan jarak sekitar setengah meter. Tatapan keduanya menghadap ke area pemakaman. Drake membuka tutup botol air mineral dan meneguk isinya. Begitu juga Gabriel.

Lama keheningan membentang di antara keduanya, sampai kemudian Gabriel bersuara, "Dulu, aku membenci ayahku."

Drake menoleh, menatap Gabriel terkejut. Gabriel pendiam. Pria itu hampir tak pernah bercerita tentang kehidupan pribadinya.

"Ibuku meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas yang mobilnya dikendarai oleh ayahku."

Drake menatap Gabriel hampir tak berkedip. Ketika mereka berkenalan di bangku SMA, Ibu Gabriel telah meninggal. Drake tak pernah bertanya apa penyebabnya. Bukan tidak peduli, tapi menghargai privasi.

"Waktu itu ibu dan ayahku pulang dari rumah orangtua ibuku di Samarinda. Di pertengahan jalan, mobil mereka bertabrakan dengan truk. Ayahku selamat, tapi ibuku tidak. Tahu kenapa?" Gabriel memandang Drake.

Drake menatap Gabriel penuh ingin tahu.

"Ibuku tidak menggunakan sabuk pengaman, dengan alasan lebih nyaman dan leluasa. Ayahku sudah berkali-kali mengingatkan, tapi dia menolak menurut. Ketika kecelakaan, balon udara tak berfungsi karena sabuk pengaman tak terpasang. Aku mendapat cerita ini dari salah satu pamanku, setelah bertahun-tahun aku membenci ayahku."

Drake terdiam.

"Kata Paman, ayahku juga sangat kehilangan. Dia sangat mencintai ibuku. Mereka berteman sejak kecil, mulai berpacaran di bangku SMA, lalu memutuskan menikah setelah lulus kuliah."

Drake tidak tahu apa yang membuat Gabriel yang pendiam, hari ini bercerita panjang lebar. Akan tetapi apa pun itu, ia senang bisa mengetahui kehidupan sahabatnya itu lebih dalam.

"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku menceritakan semua ini."

Drake mengangguk samar dan menatap ke area pemakaman yang sepi nan mengiris hati.

"Aku melihat adegan di pesta kemarin. Aku rasa, kau cemburu setengah mati pada pria yang mengobrol dengan Valencia."

Drake terdiam.

"Kau membenci sekaligus mencintainya, bukan?"

Rahang Drake mengencang.

"Aku menceritakan kisah orangtuaku agar kau tahu, Drake. Valencia sama sedihnya kehilangan Pat. Kita juga tahu, Valencia tidak bisa disalahkan dalam kecelakaan itu. Pat-lah yang tidak memakai sabuk pengaman, sama seperti ibuku waktu itu. Jika kau ingat keterangan dari para saksi di kantor polisi waktu itu, mobil yang Valencia kendarai berada di jalurnya, penabrak itulah yang salah. Tak adil kau membebankan kesalahan di bahunya untuk sesuatu yang bukan salahnya."

Drake bergeming.

Gabriel berdiri dan menepuk pelan bahu Drake. "Jangan sakiti dia lagi, Drake. Lepaskan dia, atau bahagiakan. Aku turut sedih melihatmu menderita seperti ini. Sesungguhnya kau bisa meraih kebahagiaan itu."

Setelah mengatakan itu, Gabriel berlalu, masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk.

Bermenit-menit setelah kepergian Gabriel, Drake masih tercenung di sana.

Ia tahu kenyataan tersebut dari awal, bahwa sesungguh Valencia tak bersalah, tapi ia tak mau memercayainya. Kehilangan Patricia telah membutakan hatinya. Kenyataan bahwa Valencia selamat, sementara adiknya tidak, sangatlah menghancurkannya. Padahal, jauh di relung hatinya yang terdalam, Drake tahu, jika kecelakaan itu merenggut nyawa Valencia, sementara Patricia selamat, Drake pun akan sangat kehilangan dan pasti akan membenci adiknya.

Gabriel benar, tak adil menumpahkan kesalahan di bahu wanita itu, padahal dia tak bersalah.

Drake menatap langit yang berselimut awan mendung.

Ia memang berengsek, bukan? Ia menyalahkan Valencia untuk ketidaksiapannya kehilangan Patricia.

Lalu kalimat Gabriel tentang kecemburuannya menyengat Drake.

"Aku melihat adegan di pesta kemarin. Aku rasa, kau cemburu setengah mati pada pria yang mengobrol dengan Valencia."

Ya.

Drake akui, ia cemburu.

***

Drake melangkah keluar dari mobilnya yang terparkir rapi di garasi. Ketika mendongak sejenak menatap langit senja, perasaannya memuram.

Apa yang harus ia lakukan dengan kesadaran yang menghantamnya hari ini?

Apakah ia harus bersujud di kaki Valencia dan meminta maaf, atau tidak berkata apa-apa, tapi bersikap baik?

Drake menyusupkan tangan ke saku celana dan mengeluarkan sebentuk cincin mewah nan elegan yang selama ini tersimpan rapi di dalam dompetnya.

Seharian ini, tepatnya sejak pulang dari pusara, ia memandangi cincin itu, cincin pernikahannya dan Valencia, yang ia pakai hanya sekejap ketika prosesi pernikahan yang singkat.

Drake sudah lama membelinya, tepatnya seminggu sebelum kecelakaan nahas itu.

Waktu itu, ketika ke Jakarta dan mampir di sebuah toko perhiasan terkenal, Drake melihat sepasang cincin pernikahan yang sangat indah. Memikirkan hubungannya dan Valencia yang sudah sangat dekat, selangkah lagi menuju hubungan serius—menunggu Drake meminta wanita itu menjadi istrinya, Drake pun membelinya.

Ia berencana mengajak Valencia makan malam romantis dan melamarnya. Drake tidak butuh berpacaran, karena toh, ia sudah mengenal Valencia dua tahun lamanya.

Akan tetapi, ketika sedang menimbang hendak menghubungi Valencia untuk mengajaknya makan malam, ia justru menerima panggilan dari polisi.

Mobil yang Valencia kendarai kecelakaan.

Seketika sirnalah semua rencana itu.

Drake menghela napas panjang teringat kenangan-kenangan itu. Ia menimang-nimang cincin tersebut. Menimbang antara menyimpan atau memakainya. Akhirnya ia menyematkannya ke jari manisnya. Jika Valencia merasa heran, pastinya wanita itu juga tak akan berani bertanya.

Drake melangkah menuju rumah yang tampak gelap gulita

Valencia belum menyalakan lampu. Dahi Drake mengernyit.

Ketika membuka pintu, suasana rumah sepi. Dengan pikiran Valencia ada di kamar, Drake pun meletak tas kerjanya di sofa ruang keluarga dan melangkah ke kamar.

Ia pikir akan mendapati Valencia sedang berbaring di ranjang, entah bagaimana ketiduran. Drake menyalakan lampu kamar.

Tak ada Valencia di ranjang. Drake mengedarkan pandangan ke sofa, kalau-kalau wanita itu ketiduran di sana ketika menonton televisi. Nihil.

Dengan dahi berkerut, Drake memeriksa kamar mandi, juga tidak ada.

Drake berdiri di tengah kamar dengan kening yang berkerut semakin dalam.

Ke mana perginya wanita itu?

***

Good bye drake ...


bersambung ....

jangan lupa love dan komen ya teman2

makasih

Instagram/Youtube/Threads: evathink

BTW, Novel cerita ini dan karya2 saya yang lainnya tersedia versi buku cetak, PDF dan ebook.

Buku cetak (READY STOCK) dan PDF, bisa diorder pada saya, WA 08125517788

Untuk ebook tamat tersedia di GOOGLE PLAY BUKU & KARYA KARSA (unduh apk di playstore)

CERITA TETAP DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT!

Valencia and Her Devil Husband - TAMAT (PART LENGKAP)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang