TAMAT - PART LENGKAP
FOLLOW EVATHINK AGAR MENDAPAT NOTIFIKASI CERITA BARU DAN INFO LAINNYA!
Unexpected Love #1
Drake Arsenio menikahi Valencia Oliver semata-mata demi menyiksa gadis itu. Ia menciptakan neraka untuk perempuan keji yang telah merenggu...
sorry baru sempat update, baru sempat masukin konten ke wattpad.
met baca yah. moga suka.
versi tamat tersedia dalam bentuk ebook di google play buku dan karya karsa
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
yuks segera purchase.
32
Sepuluh menit sudah berlalu. Sebastian dan Gabriel telah pulang. Namun amarah Drake belum mereda. Valencia akui ia salah. Seharusnya ia memberitahu Drake kalau ia akan ke Samarinda untuk menziarahi makam ayahnya.
Pada pukul sepuluh pagi tadi ketika bangun tidur, ia baru teringat, kalau hari ini memperingati hari meninggal sang ayah. Setiap memperingati hari meninggal orangtuanya, Valencia pasti berziarah.
Jadilah ia terburu-buru bersiap-siap. Sembari keluar dari kamar dengan tergesa-gesa, Valencia mengetik pesan untuk Drake. Malang, ponselnya terjatuh, lalu tak sengaja terinjak. Valencia meringis saat melihat layar ponselnya retak.
Karena taksi pesanannya sudah menunggu, Valencia buru-buru pergi, berpikir akan mengaktifkan kembali ponselnya dalam perjalanan. Sialnya, ponsel tersebut tak bisa menyala.
Valencia khawatir Drake akan mencarinya, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia sudah jauh meninggalkan kota Balikpapan, tidak mungkin untuknya kembali dan mendatangi kantor Drake, atau tak akan memungkinkan untuknya pulang pergi dalam sehari. Sementara itu, untuk menghubungi Drake dengan meminjam ponsel si sopir, sama tidak mungkinnya. Ia tidak hafal nomor ponsel suaminya itu.
Valencia hanya berharap ia bisa kembali ke Balikpapan secepatnya. Sayang seribu kali sayang, seperti apa pun ia mencoba untuk cepat, ia baru tiba di Balikpapan menjelang pukul sembilan malam.
"Apa kau tahu apa yang telah kaulakukan, hah?" Drake menatap Valencia, seakan siap membunuhya. Keduanya sedang berada di ruang tamu.
Valencia menelan ludah. "Maafkan aku, Drake." Valencia tahu, maaf saja tak cukup untuk menebus kesalahannya, tapi apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia sudah menceritakan secara singkat apa yang terjadi, alih-alih mengerti, Drake justru semakin marah.
"Kau membuat kekacauan besar, kau tahu?!" Drake menatap Valencia masih dengan tatapan penuh amarah. "Kau membuat Sebastian dan Gabriel, bahkan polisi, harus ikut disibukkan mencari dirimu!"
Air mata bergulir di pipi Valencia. "Maafkan aku ...."
Drake menatap Valencia sekali lagi, lalu beranjak pergi dengan amarah pekat menyelimutinya.
***
"Kau tak bisa terus di sini, Drake."
Drake melirik malas Sebastian. Mereka sedang berada di ruang keluarga rumah pria itu. Sudah tiga hari Drake tak pulang ke rumah dan menginap di rumah sahabatnya itu.
"Kau mengusirku?" tanya Drake ketus. Ia butuh waktu menyendiri. Tiga hari belumlah cukup untuk menelaah apa yang sudah terjadi pada dirinya.
"Kau sensitif sekali," Sebastian terkekeh. "Aku hanya memikirkan Valen. Dia pasti mencemaskanmu."
Drake mendengkus. "Tak sebanding dengan aku mencemaskannya."
Kali ini Sebastian tertawa. "Kau balas dendam, eh?"
Drake tak menanggapi lagi omongan sahabatnya itu. Tidak. Ia tidak membalas dendam pada Valencia. Ia hanya tak siap dengan kesadaran yang menghantamnya, bahwa memikirkan hidup tanpa Valencia, membuatnya seakan mati. Ketika melihat Valencia kembali dengan selamat, Drake merasa lega luar biasa.
"Pulanglah, Drake. Selesaikan apa pun yang masih menggantung di antara kalian."
***
Valencia berbaring di ranjang dan menatap langit-langit kamar. Tiga hari sudah berlalu, dan Drake sama sekali tidak pulang, juga tidak ada kabar. Berkali-kali Valencia mencoba menghubungi suaminya itu, tapi berkali-kali juga ia membatalkan. Drake sedang marah besar.
Rasa pusing dan mual yang akhir-akhir ini hampir sepanjang waktu ia alami, kembali menyerang. Valencia memejam. Mungkin sebaiknya ia ke dokter.
Valencia bangkit dengan mata masih terpejam. Ia memegang pelipisnya. Rasa mual yang tadi terasa samar, kini menguat. Terburu-buru ia meninggalkan ranjang dan ke kamar mandi, lalu muntah di kloset.
Tak ada apa pun yang keluar dari mulutnya selain air. Mungkin karena sedari pagi, sampai pukul sebelas siang, tak ada yang melewati tenggorokannya, selain beberapa teguk air putih.
Valencia ke wastafel yang ada di kamar mandi. Ia mencuci muka dan menatap wajahnya yang pucat. Ada lingkaran gelap menghiasi bawah mata. Ia hanya tidur beberapa jam. Drake menguasai pikirannya.
Ketika kembali ke ranjang, ponsel yang baru ia beli dua hari lalu, berdering. Valencia meraih benda canggih yang tergeletak di atas nakas tersebut.
Nomor asing tertera di layar. Dengan dahi berkerut, Valencia menerima panggilan tersebut.
"Halo?"
"Halo, Val. Apa kabar?"
Ray. Rupanya pria itu menggunakan nomor lain. Sejak Drake memblokir nomor Ray, Valencia tak pernah lagi berkomunikasi dengan mantan kekasihnya itu.
"Baik, Ray."
"Omong-omong aku sedang di Balikpapan. Bisakah kita bertemu?
Valencia terdiam sesaat. Ada apa Ray ingin bertemu? Ini memang bukan kali pertama mantan kekasihnya itu mengajak bertemu setelah kandasnya hubungan mereka. Selama ini Valencia selalu menolak.
"Please. Jangan menolak kali ini."
Valencia yang tadinya ingin menolak, akhirnya menerima tawaran tersebut. Mereka akan bertemu di sebuah rumah makan soto banjar terkenal satu jam lagi.