37
Valencia menatap Drake dalam-dalam, lalu menghela napas panjang.
Tiga bulan telah berlalu dari kecelakaan itu. Ia mengalami cedera di kepala—yang untungnya tidak fatal, patah tulang bahu, tulang kaki, juga luka di wajah. Ia bahkan kehilangan janin berusia enam minggu yang sedang tumbuh di rahimnya, yang baru ia ketahui keberadaannya setelah kecelakaan itu.
Valencia menyesal tak mampu menjaga dengan baik benih yang berkembang di rahimnya itu. Yang ia lakukan hari itu spontan. Ia juga tidak tahu kalau sedang mengandung.
Akan tetapi, jika pun kejadian tersebut terulang kembali dan Valencia tahu ia sedang hamil dan memiliki waktu untuk berpikir sebelum mengambil keputusan, ia tetap akan memilih tindakan yang sama. Bukan ia tidak mencintai janinnya, tapi Valencia tidak bisa membiarkan Drake kecelakaan di depan matanya. Seperti apa pun buruknya sikap Drake di masa lalu terhadapnya, Valencia sama sekali tidak mendendam. Ia sepenuhnya memahami sikap buruk pria itu terhadapnya.
Valencia menghela napas dalam-dalam, menetap Drake lekat-lekat, lalu berujar pelan, "Aku ..., ingin berpisah, Drake."
Hening ....
Satu detik. Dua .... Tiga ....
....
Drake masih membisu dengan tangan mencengkeram gelas erat-erat.
"Drake?"
Drake memejam sejenak, lalu menatap Valencia dengan sorot sakit terpancar di mata beriris gelapnya. "Kenapa, Val?"
Valencia terdiam. Suara Drake diselimuti kesedihan.
Lama keheningan membentang di antara keduanya. Air mata memenuhi dada Valencia. Akhir-akhir ini ia teramat sering membayangkan momen ini, ketika ia mengatakan kepada Drake bahwa ia ingin berpisah.
Valencia selalu bertanya-tanya akan seperti apa reaksi Drake. Namun, raut sedih pria itu tak pernah terlintas di benaknya.
Ya, tiga bulan ini Drake bersikap sangat manis. Karena itulah Valencia ingin berpisah. Ia tahu, Drake merasa bersalah. Merasa berutang nyawa.
Valencia tidak mau Drake merasa seperti itu. Yang ia lakukan hari itu tulus. Ia pun ikhlas atas kecelakaan yang ia alami.
Berbeda dengan Drake yang dulu menyiksanya karena kehilangan Patricia, Valencia tak mau menyiksa Drake karena kehilangan janin di rahimnya. Bagaimanapun Drake tidak bersalah. Valencia-lah yang memilih mengorbankan diri.
Sampai saat ini, Valencia sangat menyesali bagian mereka harus kehilangan janin di rahimnya, tapi tidak bagian harus menyelamatkan Drake. Meski saat itu semua ia lakukan spontan, tapi jika dipikirkan sekarang, tindakannya saat itu sangat tepat.
Valencia tidak mungkin sanggup hidup dengan perasaan bersalah yang berlipat ganda. Sudah cukup ia menyesali hari ketika mereka kehilangan Patricia. Ia tak mau harus menyesal jika terjadi apa-apa pada Drake.
"Apa karena kau tak bisa memaafkanku, Val? Karena dulu aku bersikap sangat buruk padamu? Karena aku membuatmu keguguran dan mengalami kecelakaan? Asal kau tahu, aku sangat menyesal." Wajah Drake seketika memuram. Ia meletak gelas ke dalam nampan di nakas, lalu meraih tangan Valencia dan meremasnya lembut.
Drake tampak hancur, sangat berbeda dengan tiga bulan terakhir ini yang begitu kuat mendampinginya. Meski air mata memenuhi dadanya, dengan menguatkan hati, Valencia berusaha tersenyum tipis dan menggeleng. "Aku sepenuhnya memaklumi sikapmu padaku dulu, Drake, aku tak mau mengingatnya lagi." Jeda sesaat. Valencia menarik napas panjang. "Aku menyesal kita harus kehilangan janin di kandunganku. Aku minta maaf telah gagal menjaganya. Tapi, jika pun kejadian hari itu terulang, aku akan melakukan hal yang sama. Jadi tolong, jangan berpikir aku membencimu."
Mata Drake berkaca-kaca.
"Kita berdua tahu apa yang menjadi landasan pernikahan kita, Drake." Wajah Drake semakin muram. Valencia tak berniat mengungkit-ungkit masa lalu mereka yang pahit, tapi bagaimanapun hal tersebut harus dibicarakan. "Jika kau tak lagi membenciku, tolong, izinkan aku pergi."
***
Pada pukul sepuluh pagi, dengan tampang kusut, Drake tiba di kantor Sebastian. Sekretaris sahabatnya itu menghidangkan kopi, tapi Drake menolak, dan meminta anggur.
"Anggur sepagi ini?" Kening Sebastian berkerut.
Drake membisu.
Sebastian memperhatikan wajah sahabatnya, lalu menyeringai. Ia mengambil gelas kristal dan sebotol anggur dari minibar yang ada di ruang kerjanya itu. Tak lama kemudian, segelas anggur terhidang di meja di hadapan Drake. Tanpa dipersilakan, pria itu menghabiskannya dalam satu kali teguk.
Sebastian kembali menuang anggur dengan seringai samar. "Ada apa, Bung? Istrimu membuatmu gila, eh?"
Tanpa menjawab, Drake kembali meraih gelas anggur dan meneguknya.
Sebastian duduk di sofa seberang Drake. Mereka dibatasi oleh sebuah meja kecil.
Drake menghela napas panjang. "Valencia ingin berpisah."
Hening.
Drake menatap Sebastian yang tampak terdiam. Tak biasanya sahabatnya yang heboh itu membisu. "Seb, kau dengar yang aku katakan barusan?"
Sebastian mengangguk samar. "Jadi ..., kalian akan berpisah?"
Drake menggeleng cepat. "Aku tak ingin berpisah. Apa yang harus aku lakukan?" Drake buntu. Ia sudah bersikap sangat manis, tapi rupanya sama sekali tak mampu menggetarkan hati Valencia.
"Kau mencintainya?"
Drake memang mencintai Valencia. Ia menyadari itu ketika Valencia menghilang, yang rupanya ke Samarinda. Kesadaran itu berkali-kali lipat menghantamnya saat Valencia sekarat di ruang IGD. Ia tak mau kehilangan wanita itu. Jika Valencia pergi, ia akan mati.
Drake mengangguk samar. Ia belum pernah mengakui perasaannya itu kepada siapa pun, bahkan kepada Valencia. Namun berkilah di hadapan Sebastian adalah hal yang sia-sia. Sikap dan perhatiannya kepada Valencia sudah menunjukkan perasaannya, bukan?
"Kau harus mengatakannya," kata Sebastian.
"Apa?"
"Kau harus mengatakan pada Valencia kalau kau mencintainya."
Drake menatap sahabatnya dengan sorot tak percaya. "Apa kau gila??"
Sebastian mengangkat alis. "Apa yang salah dengan itu? Mungkin Valencia tidak akan pergi jika tahu kau mencintainya."
Drake terdiam. Benarkah? Benarkah Valencia akan membatalkan niat ingin berpisahnya jika tahu Drake mencintainya?
***
bersambung ...
jangan lupa vote dan komennya ya, teman2, makasihhhh
follow instagram/tiktok aku: evathink
FYI, Versi FULL/TAMAT cerita ini & cerita-cerita aku yang lainnya, tersedia dalam bentuk, cetak, ebook dan PDF
Cetak dan PDF, order di WA Evathink 08125517788 (Harga PDF jauh lebih murah)
Ebook tersedia di:
Karya Karsa
Google Play Buku
Note: cerita dilanjutkan di wattppad sampai tamat!
KAMU SEDANG MEMBACA
Valencia and Her Devil Husband - TAMAT (PART LENGKAP)
RomansaTAMAT - PART LENGKAP FOLLOW EVATHINK AGAR MENDAPAT NOTIFIKASI CERITA BARU DAN INFO LAINNYA! Unexpected Love #1 Drake Arsenio menikahi Valencia Oliver semata-mata demi menyiksa gadis itu. Ia menciptakan neraka untuk perempuan keji yang telah merenggu...
