35

10K 927 47
                                        

Hai, teman2

maaf ya lama, baru sempat masukin konten ke wattpad.

btw, part ini pendek, karena selanjutnya itu dah bab baru, jadi gak bisa disatuin, entar kalian jadi bingung, jadi maaf dengan sangat terpaksa part ini pendek. bab baru akan di posting di part 36 nanti. harap mengerti ya. met baca.

35

Kenapa penyesalan selalu datang belakangan? Dalam satu jam terakhir, Drake telah beribu-ribu kali memaki diri sendiri. Tak habis-habis menyesali semua yang terjadi.

Drake berdiri di depan IGD dengan hati dicengkeram ketakutan. Sesekali ia menjenguk ruangan itu dari kaca tembus pandang yang terdapat di pintu.

Valencia sedang bertarung nyawa di dalam sana. Drake tidak tahu pasti bagian mana saja Valencia terluka. Yang ia tahu, ada banyak darah.

Teringat itu membuat Drake mual. Ia serasa ingin mati setiap kejadian nahas itu berputar di benaknya.

Bodoh! Bodoh!! Bodoh!!!

Hanya itu yang terus bergema dibenaknya setiap teringat kecerobahan dirinya yang mengikuti emosi dan menyebarangi jalan tanpa melihat keadaan lebih dulu. Bahkan anak kecil pun pandai melihat-lihat sekitar sebelum menyeberang.

"Valen pasti akan baik-baik saja, Drake." Gabriel yang berdiri bersadar di dinding ruang IGD, memberi Drake dukungan.

"Valen wanita kuat. Dia pasti akan melewati semua ini," imbuh Sebastian.

Rongga mata Drake panas oleh air mata. "Semua salahku," Drake memukul-mukul pelan dinding ruang IGD. "Kebodohanku membunuhnya."

Tepukan pelan terasa di punggungnya, tapi Drake tak menoleh.

"Kau tak membunuhnya, Drake, Valencia pasti selamat," ucap Sebastian.

Valencia pasti selamat.

Ya, dari tadi Drake terus meyakinkan diri kalau Valencia pasti selamat, tapi siapa yang bisa menduga apa yang akan terjadi?

Pipi Drake memanas. Tak sadar air mata kembali membasahi pipinya. Saat ini adalah saat paling buruk dalam hidup Drake. Air matanya tak pernah tumpah ruah tak tertahankan seperti ini.

Bodoh! Berengsek! Bajingan!! Drake memaki dirinya sendiri. Seandainya ia bisa mengontrol dengan baik rasa cemburu dan emosinya, semua ini tak akan terjadi, bukan?

"Sabar, Drake." Gabriel menghampiri Drake dan mengusap punggungnya. "Valen pasti selamat."

Sementara itu, sedikit agak jauh dari mereka, tampak Ray bersandar di dinding dengan wajah kelam. Mencemaskan Valencia sama halnya Drake.

***


bersambung ...

jangan lupa vote dan komennya ya, teman2, makasihhhh

follow instagram/tiktok aku: evathink

FYI, Versi FULL/TAMAT cerita ini & cerita-cerita aku yang lainnya, tersedia dalam bentuk, cetak, ebook dan PDF

Cetak dan PDF, order di WA Evathink 08125517788 (Harga PDF jauh lebih murah)

Ebook tersedia di:

Karya Karsa

Google Play Buku

Note: cerita dilanjutkan di wattppad sampai tamat!

Valencia and Her Devil Husband - TAMAT (PART LENGKAP)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang