Nasi Goreng Kocok dan Kecewa Massal (2)

1K 140 52
                                        

Masih malam yang sama. Langit gelap dengan gerimis lembut yang sama. Shani mengambil langkah cepat setelah menuruni taksi online yang membawanya sampai di depan sebuah gedung yang mulai ramai. Rambut panjang yang tergerai indah malam ini melambai-lambai per satu langkah. Dengan gaun kasualnya yang sederhana, Shani terlihat cantik.

Shani tersenyum tipis kala mulai memasuki gedung, melewati dua pintu besar yang terbuka sempurna, menapakkan flat shoesnya di atas karpet merah yang menyelimuti lantai. Baru lihat karpet merah saja, hati Shani sudah kegirangan teringat sang pacar. Entah benar atau tidak karpet yang diinjaknya adalah yang dibeli Bobby saat menemuinya waktu itu, Shani keburu bahagia dengan kenangan karpet merah.

Ah, sebenernya Shani lebih bahagia karena sebentar lagi akan bertemu sang pacar.

Ini bukanlah sekadar pameran lukisan atau karya seni. Bobby dan teman-temannya, para manusia berjiwa seni, yang mengadakan acara ini. Pameran, sekaligus lelang. Ini merupakan cara mereka mengumpulkan dana untuk bakti sosial. Aih, apa tidak berhati baik itu si Bobby? Apa tidak tersentuh hati si Shani? Apa tidak makin terpesona perempuan berlesung pipi itu pada sang lelaki tampan yang rambutnya gondrong? Rasa-rasanya, makin hari, makin lama pacaran sama Bobby, Shani makin jatuh cinta. Bobby memang hebat, padahal dulu Shani sangat jual mahal. Dan sekarang, Shani dibuat bucin olehnya.

Ada satu yang pasti. Sisi ruangan luas dengan banyak lukisan, patung, dan karya-karya seni di setiap sudut. Shani yakin dan tahu ia akan ke sudut sebelah mana, mau apa, dan apa yang ada di sana. Beberapa hari lalu saat Bobby membawanya ke sini, menengok persiapan yang hampir selesai, Bobby memberi tahu di mana lukisannya akan diletakkan. Dan ke sana Shani akan pergi. Melihat lukisannya Bobby, menemui pelukisnya.

Dan ini dia.

Cantik.

Lukisan yang beberapa hari lalu tertutup kain putih, katanya Bobby biar surprise Shani lihatnya hari ini saja, tertempel di dinding itu. Lukisan representatif yang menggambarkan kesibukan ibu kota, dengan gradasi warna sore hari.

Berdiri dua meter jauhnya dari dinding di mana lukisan digantung, Shani tersenyum. Ini tanpa dilelang di sini pun, Shani mau beli dengan harga mahal. Tapi, "Nggak. Aku nggak mau. Kamu kalau mau punya lukisan aku, aku bisa lukisan khusus. Jangan beli." Begitu kata si Bobby waktu itu.

"Cantik, ya?"

Menengok, didapati oleh Shani seorang lelaki dengan tahi lalat di pelipis kiri ikut berdiri di samping. ID Card menggantung di lehernya, itu menandakan bahwa lelaki itu bagian dari orang-orang penting di acara ini. Satya, teman Bobby yang umurnya lebih muda.

"Ya," Shani menjawab tanpa hilang senyuman.

"Cantik kayak pacar yang ngelukis."

"Saya sudah punya pacar, Satya."

Satya mendengus. "Tadi kan gue bilang cantik kayak pacarnya yang ngelukis, budeg."

"Ih, kasar." Shani mengerutkan wajah, hanya untuk mengejek.

Ujung lidah Satya keluar bersamaan dengan pupil matanya yang naik ke atas. "Dah, ah. Mau cabut. Gue sibuk." Dan tubuhnya hendak beranjak sebelum jempol dan jari telunjuk tangan kiri Shani menjepit lengan bajunya. "Apa?"

Shani menahan senyumnya. "Bobby di mana, ya?"

Dan itu mendapat wajah muak dari Satya. "Tinggal bilang minta cariin, hilih."

Tawa kecil Shani lolos, juga jemarinya meloloskan jepitan pada lengan baju Satya. "Makasih."

"Ye. Lo di sini aja tapi. Bingung gue ntar sama Bang Bobby."

DingDongCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang