Sore yang biasa saja.
Katakan saja ada empat orang gadis manis yang tidak cukup hits sedang menikmati sore hari itu. Sore di hari Jumat. Sore yang yang akan menjadi malam Sabtu. Dan Sabtu adalah weekend. Dan weekend adalah bebas.
Sore ini sore yang bebas.
Di ruang tengah apartemen, keempatnya menikmati sore bersama. Monolog televisi yang volume suaranya sengaja dikecilkan tak cukup membuat ruangan menjadi lebih sunyi. Ya, gimana mau sunyi? Suara robot mobil-mobilan yang berbentuk ikan warna kuning terus berdesing, melaju, memutar roda-roda kecilnya di lantai, ditambah ribut-ribut Cimi yang berusaha menubruk mobil-mobilan ikan warna kuning itu. Juga Arnold yang ikut rebutan. Setiap kali berhenti dan ditangkap oleh Cimi, maka Fiony akan mengambilnya, memutar kunci, lalu kembali membiarkan ikan kuning itu melaju di lantai, kembali dikejar Cimi, kembali diganggu Arnold.
Dan terus saja begitu. Tidak bosan.
Sedangkan televisi yang volume suaranya dikecilkan itu, hanya diperhatikan oleh Chika. Si gadis rebahan yang suka sekali menguasai sofa sepenuhnya.
Shani ada di bawah, duduk dengan kaki lurus di atas karpet bulu, bersandar pada kaki sofa dengan kepala jatuh mendongak. Matanya terpejam, wajahnya penuh dengan hijau-hijau. Shani sedang maskeran.
Gracia juga sedang maskeran. Hijau-hijau juga wajahnya. Ia ada, sedang rebahan juga di atas karpet bulu, terlentang, berbantal paha Shani. Tangan kanannya lurus ke depan, mengangkat tinggi-tinggi gawai miliknya yang tersambung dengan suara Papa.
Diangkat seperti itu niatnya biar tiga saudarinya juga bisa dengar. Juga bantu menjawab. Gracia kan sedang maskeran. Nanti retak kalau banyak ngomong.
"Kalian siap-siap. Papa mau ngajak mereka makan malam di rumah."
Tentu saja mereka itu pastilah si Tante ngebet dan anak gondrong kang selingkuhnya.
Papa yang sore-sore sedang dalam perjalan pulang dari pekerjaannya, tiba-tiba menelepon salah satu anak gadisnya untuk berbicara pada semua. Awalnya, sih, cuma nanya mau makan apa? Mau Papa beliin apa untuk makan malam?
Tumben.
Dan benar saja. Ujung-ujungnya ada kemauan.
Gracia menurunkan tangan sehabis kalimat terakhir Papa itu hanya diberi balas gumaman. Layar gawainya kembali legam. Sambungan teleponnya dengan Papa sudah putus.
Beberapa saat layar hitam itu digunakan untuk bercermin, meneliti maskernya yang mulai kering, Gracia akhirnya mengetuk dua kali layar itu dengan jempol, menyalakan kembali layarnya. Ia buka aplikasi baca komik yang langsung menampakkan halaman bacaan yang sempat terpotong oleh panggilan Papa tadi. Dan khusyuklah Gracia dengan cerita bergambar di sana.
Volume suara televisi kembali dinaikkan oleh Chika, dan bising kembali didengar.
"CI SHANI, IH! INI ARNOLDNYA AMBIL AJA!"
Dan itu kang berisik dari tadi tambah berisik sekarang. Fiony tersunggut oleh Arnold yang lagi-lagi menzalimi Cimi dengan merebut paksa mobil-mobilan ikan kuning--hadiah ulang tahun Fiony dari Ci Shani.
Shani membuka matanya, menengok tanpa mengangkat kepala dari bersandar, lantas menggesek-gesekkan kedua telapak tangan--yang ajaibnya berhasil membuat Arnold mendekat.
Dan setelah mendekat, si kucing oren itu langsung naik saja ke pangkuan Shani, membuat kini Gracia yang gantian tersunggut. Itu Arnold ke pangkuan Shani berarti juga nginjek muka Gracia yang maskernya belum kering!
"Ih, masker aku, dasar kucing!" Gracia bangun dari terlentang, mengumpat dengan gerakan bibir yang minimalis sekali. Ia hitamkan kembali layar gawainya, bercermin meneliti wajah.
KAMU SEDANG MEMBACA
DingDong
FanfictionSatu unit apartemen; empat perempuan, satu laki-laki; empat saudari, satu ayah; satu keluarga. Udah cukup, enggak mau nambah lagi. 19 September 2020
