Diagnosa Papa dan Santet Fisika

1K 135 64
                                        

Aku sayang sama kamu.

Aku cinta sama kamu.

Aku tulus sama kamu.

Aku suka sama kamu.

Aku mau kamu--paitpaitpaitpaitpaitpait.
 
  
      
  
  
  
 
  
 
  
  
  
  
  
  
  
     
   
   
   
   
      
  

   
  
  
   
   
   
   
   
   
  

   
  

   
  
 
 

OKE, OKE. Tarik napas, lupakan saja awal yang membuat aznhjggxyjavsFualwbzkzz ini.

Mari, mari... Mari membaca konten keluarga saja.
    
  
 
  
   
       
   
   
   
   
   
   
   
  
   
   
   
  

    
       
   
   
   
  
  

  

    

***

Bergaya.

Tanpa tebar pesona, pesona pun sudah sepenuhnya dimiliki mereka. Tercecer-cecer di setiap satu langkah, menjatuhkannya, membuat mata manusia di jalur pelangkahan menjadi terpesona.

Sebenarnya tidak juga.

Mereka, satu bapak dan tiga anak gadisnya, tidak betul-betul mampu membuat orang-orang terpesona sepanjang mereka berjalan. Yang sebenarnya terjadi, orang-orang--sebetulnya anak-anak remaja--sedang terheran-heran. Ini siapa juga mereka? Ada apa? Penting banget gitu? Kok ya serombongan jalan dengan percaya dirinya di koridor sekolah yang isinya anak-anak SMA.

"Pa, Gre mau pipis, dong!"

Ya, mereka adalah sebuah keluarga harmonis aman sejahtera se-jabodetabek yang salah satu anggotanya bernama Gracia. Yang satu lagi, satu-satunya yang dikenal oleh anak-anak SMA yang terheran-heran tadi adalah Chika--gadis yang melangkah paling depan diikuti Shani dan Gracia di sisi kanan dan kiri, dan terakhir Papa yang ngikut saja di belakang.

"Aku juga kebelet. Ikut." Shani mendekat satu langkah pada Gracia, menautkan lengan.

Ya lagi. Langkah mereka yang sempat menjadi pusat perhatian, terhenti saat itu karena keinginan buang air kecil milik Gracia yang diikuti Shani.

"Bentar." Bukannya menjawab, Papa malah celingukan. "Fiony mana?"

Oh, iya. Yang tadi berjalan tebar pesona hanyalah Papa dan ketiga putrinya. Ini putri yang satunya lagi mana?

"Itu."

Gerakan dagu Chika membuat timbulnya tolehan dari tiga orang di dekatnya, memusatkan perhatian pada gadis yang tengah berjalan dengan langkah dihentak-hentak juga bibir yang maju.

"Ih, Fio malu tau!" Dan itu salam sambutan dari gadis yang tadi sempat hilang.

"Malu apaan?" Alis Gracia menaut.

Fiony berdecih, wajahnya melengos. Ini beneran Fiony doang yang masih punya rasa malu dilihatin anak-anak satu sekolah? Jalan bak model tapi rombongan udah kayak geng-geng antagonis.

DingDongTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang