Sebuah cerita cinta sederhana.
Dimana yang satu berusaha menjadi yang terbaik, dan yang satu berusaha mati-matian meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
💙💜
Disclaimer:
🔞
BXB
Yaoi
Boyslove
Yang enggak suka, jangan dibaca ya.
Hujan... Pagi hari yang harusnya cerah malah sudah hujan. Sudah mulai masuk penghujung tahun yang artinya bumi akan lebih basah. Bobby melangkahkan kakinya ke arah toko yang sudah dua hari ini ia pimpin. Tangannya masih memutar-mutar kunci mobil. Sesekali ia mengutak-ngatik ponselnya, memeriksa ke dalam satu chatroom yang dari tadi pagi belum ada tanda-tanda dibaca.
Hari ini Bobby masuk kerja dengan June yang memiliki jadwal shift pagi. Namun sudah hampir dua puluh menit ia berdiri di depan tokonya namun laki-laki manis itu belum kelihatan batang hidungnya. Belum telat sih, Bobby yang terlalu pagi, dia ingat dengan kata-kata Hanbin bahwa June adalah karyawan teladan, jadi dia pikir mungkin June akan lebih pagi datang ke toko.
Bobby masih tenggelam dalam pikirannya sampai ia mendengar suara langkah setengah berlari mendekat kepadanya.
"Maaf, mas Bob. June telat!" seru pria yang dari tadi ditunggunya. Tanpa sadar Senyumnya merekah. Sedikit. Tidak banyak. Karena aneh rasanya kalau ia tiba-tiba tersenyum sedemikian lebar bukan?
Mas? Kemarin perasaan manggil Bapak.
Tak urung bibirnya lagi-lagi tersenyum, walau lagi-lagi hanya segaris saat mendengar panggilan June untuknya.
"Jun, pelan-pelan. Tokomu enggak bakalan kabur walaupun kamu enggak lari-lari seperti itu." katanya mengingatkan masih dengan memperhatikan June yang sedang mengatur nafasnya.
Dengan gerakan sigap June mengeluarkan kunci toko, rolling door, dan pintu kaca, lalu membuka pintu dengan sangat cekatan.
"Mau ku bantu, Jun?"
"Enggak usah, mas, June udah biasa kok."
Senyum Bobby makin lebar mendengar jawaban June. Pantas rasanya kalau Hanbin menilai June tidak pernah menganggap pekerjaannya sepele. Terbukti setelah ia berhasil membuka pintu toko, ia langsung menyalakan lampu, menyiapkan kasir dan lain-lain.
"Mas Bob, sebelum ke ruangan, June izin ganti baju dulu ya, takut nanti ada customer masuk enggak ketahuan."
Bobby hanya mengangguk dan memberikan gestur 'oke' dengan jempolnya. Ia lalu berkeliling sejenak ke arah kasir. Melihat system pembayaran dan stock yang mereka gunakan, pembukuan, beberapa promo yang mereka sedang jalani bulan ini dan lain-lain sampai akhirnya ia tersadar dengan kehadiran June di sampingnya yang sudah siap dengan seragam, lengkap dengan apron coklat tuanya.
"Kenapa, mas? Mau liat pembukuan kasir? Kalau yang bulan-bulan kemarin ada di gudang. Kalau mau nanti June cariin, tapi tunggu yang shift middle datang." kata June panjang lebar.
"Ada?"
"Ada. June yang beresin soalnya. Jadi June tau." jelasnya lagi.
"Boleh deh."
"Ada lagi enggak, mas?"
"Soal system?" tanya Bobby lagi.
"Ah, iya." June lalu mengambil alih mouse komputer yang berada di dekat tangan Bobby, gerakan lembut June sedikit menyentuh jari-jemarinya. Ia merasakan seperti ada aliran listrik ke kepalanya. Padahal tidak lebih dari satu senti yang tersentuh.
"Kita pakai system enggak terlalu berbeda sama retail lain yang pernah mas pegang, tapi di kita ada perbedaan di system stock. Jadi kita bisa liat stock di toko lain. Contoh, mas Bobby butuh perapian merk X, di kita kosong. Nah, mas Bobby tinggal ke menu ini, ketik kode item dan kode toko di kolom search, enter, nanti keluar deh tuh quantity item yang mas cari tadi." kata June menjelaskan dengan gamblang.
Bobby manggut-manggut menandakan bahwa ia mengerti. "Oke. Sekarang itu dulu aja. Sama aku minta tolong data stock opname terakhir, bisa juga, Jun?"
June menganggukkan kepalanya, "tentu, ada juga, June yang simpan juga. Tapi sama kayak yang June bilang tadi, berkasnya June taruh gudang, jadi nunggu yang shift middle datang dulu."
Bobby tersenyum manis lalu mengangkat tangannya, mengusak surai legam June, "thank you, Jun. Sepertinya pekerjaanku akan mudah kalau ada kamu. Aku ke ruangan dulu kalau begitu." senyum Bobby merekah ketika mengucapkan satu kalimat yang tanpa ia tau cukup membekas di hati karyawannya itu.
Kemudian Bobby meninggalkan June yang langsung mengerjakan apa saja yang butuh ia selesaikan. June mencoba mengalihkan perhatiannya dari Bobby.
Bobby menaiki undakan menuju ruangannya di lantai atas, membuka pintu ruangannya lebar-lebar lalu melihat ke sekitar, "baiklah, sepertinya gue akan cukup betah disini."
Bobby menenggelamkan dirinya di tumpukan berbagai berkas. Setidaknya dia harus tahu perbandingan omset dari bulan ke bulan. Atau bahkan dari tahun ke tahun sejak berdirinya toko ini, karena ia perlu acuan untuk menentukan berapa target omset yang harus dia dan team nya capai. Tentu dengan segala pertimbangan lain seperti festive dan cuaca.
Fokus Bobby teralihkan kala ia dengar pintu ruangannya terbuka. Kepala June menyembul dari sana. "Mas Bobby, ganggu enggak?" tanyanya dengan wajah polosnya yang Bobby bilang manis.
"Enggak. Kenapa, Jun?" keningnya berkerut. Lalu ia kemudian mempersilahkan karyawannya itu masuk.
June membawakan satu tray yang terdapat teko berisi penuh air putih, gelas kosong, secangkir teh hangat, dan sepotong kue. "Sarapan, mas Bobby. Ini tadi June beli jajanan pasar waktu berangkat kesini. Udah jam sepuluh kayaknya June belum liat mas Bobby sarapan." katanya sambil meletakkan apa yang ia bawa tadi di atas meja tamu yang terdapat di ruangan itu.
Bobby tidak menjawab apapun. Lebih tepatnya tidak bisa menjawab apapun. Baru ini ia diperlakukan seperti ini, terlebih oleh karyawannya sendiri. Di kantor pusat pun biasanya yang seperti ini hanya OB itupun tergantung dari permintaannya.
"Kak Jinan udah datang, lagi siap-siap ganti baju. Kalau dia udah di floor nanti June langsung ke gudang buat ambil laporan yang mas Bobby butuhin."
Lagi-lagi hanya dijawab dengan sebuah anggukan dari Bobby.
June lalu beranjak meninggalkan Bobby, namun sebelum June tiba di ambang pintu, Bobby akhirnya mengeluarkan suaranya yang dari tadi tertahan karena lidahnya yang kelu.
"Jun." katanya seperti tertahan.
June menghentikan lajunya tepat di dekat pintu dan memalingkan kepalanya demi melihat Bobby yang terlihat masih sibuk di mejanya.
"Terimakasih ya." kata Bobby lagi.
June tersenyum, "sama-sama, Mas Bobby."
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kim Jiwon 28 tahun Atasan June. Agak kaku dan sedikit canggung.