Papa marah-marah ketika tau teman-temannya datang berjudi bahkan berbuat tidak senonoh di rumahnya...
"Bikin sial aja!" kata papa berang apalagi ketika Dini mengadu kalau tante genit menggerayangiku...
"Celana lo dibuka ga?" tanya papa membentak; buru-buru aku menggeleng...
"Laen kali jangan deket-deket tu orang ya???" kata papa sambil mengusap kepalaku.
Hampir saja aku menangis ketika papa mengusap kepalaku...jarang-jarang bahkan hampir tak pernah papa berlaku hangat kepadaku.
Sejak hari itu teman-teman papa tidak berani lagi datang ke rumah setelah papa memaki-maki mereka lewat telpon.
Belakangan papa jarang di rumah sehingga emak atau dua anak perempuannya bergantian datang menjaga kami semua.
Emak yang mengantar jemput anak-anak ke sekolah serta memasak untuk kami semua.
Dan akupun bebas merdeka memanjat pohon mangga, menangkap capung atau menyelinap ke belakang pergi ke kios komik.
Rudy terus saja kelayapan setiap harinya main dengan anak-anak tetangga entah di mana.
Sedangkan Dini sudah tidak les lagi kata papa gak ada duit; oleh karena itu akhir-akhir ini ia sering main ke tetangga sebelah.
Mereka punya dua orang anak remaja yang juga cewek dan usia mereka lebih tua dari Dini.
Kata Dini mereka kaya tetapi tidak sombong bahkan sering meminjamkan komik mereka yang banyaknya bukan main.
Dan akupun sering nimbrung baca bahkan arep-arep ikutan masuk ke dalam rumah tetangga sebelah...
Ketika memasuki rumah mereka pertama kalinya aku diberitahu kalau mereka menanam pohon cincau.
Bahkan beberapa kali Dini membawa pulang sebaskom penuh cincau dengan sirupnya komplit...
"Tetangga sebelah memang baik" kataku sambil memakan cincau dan kuingat cara membuatnya ketika tetanggaku yang baik hati itu memperlihatkannya.
Mereka mencincang atau meremas daun cincau kemudian mengobok-ngoboknya di dalam air sampai akhirnya terjadi gelatin berwarna hijau.
Aku juga ingat kami memiliki tetangga baru yang katanya berasal dari Menado dan katanya mereka orang Kristen.
Tetangga baru itu punya seorang anak lelaki yang namanya Niko; usianya dua tahun lebih tua dariku.
Ia tidak sombong, anaknya ganteng dan selalu memakai baju bagus.
Satu hari ketika aku menegurnya dari balik pintu pagar dan ia tersenyum ramah bahkan mengundangku masuk ke rumah.
Kami duduk ngobrol seperti sahabat lama bahkan ia memberikanku sebungkus keripik singkong pedas yang rasanya enak sekali.
Keripik singkongnya jauh lebih enak dari yang dijual di sekolah atau di warung di belakang rumah kami.
Beberapa kali aku sudah bertandang ke rumahnya dan selalu disuguhi berbagai penganan enak terutama keripik singkongnya.
Kata Niko, mamanya jualan keripik singkong tetapi ketika aku hendak membelinya mamanya dengan ketus bilang 'gak ada sisa'...
"Ini yang ada untuk Niko, dia doyan" kata mamanya Niko sambil memandang anaknya dengan hangat.
Niko balas memandang mamanya dengan mesra.
Duh...pengen rasanya aku punya mama seperti mamanya Niko minus galaknya tentu.
Rumah Niko persis di seberang rumahku dan terlihat modern bahkan ia satu-satunya pemilik rumah yang memiliki kompor listrik setahuku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Stories from My Childhood
General FictionSebuah otobiografi tentang masa kecilku sampai remaja. Dari waktu ke waktu memori tentang masa kecil terkadang bermunculan...Banyak hal-hal menarik, lucu bahkan terkadang aneh sangat menghibur hati sehingga menurutku layak untuk dibagikan. Cerita in...