Aku

467 20 5
                                    

Masa TKKku berlalu dengan cepat dan tidak banyak yang kukenang selain kakakku yang tidak menyukai aku sekelas dengannya. Sejak kecil, papa menyekolahkan kami lima bersaudara di sekolah yang sama.

Sewaktu kecil aku memiliki kepribadian ganda. Kalau di rumah aku adalah seorang anak yang timid; selalu merasa takut, merasa tidak aman dan nyaman. Apalagi kalau dekat papa, aku beneran merasa tidak nyaman karena kutau ia kurang begitu menyukaiku dibandingkan saudara-saudaraku yang lain. Dari pandang matanya kepadaku kulihat sering tersirat rasa tidak sukanya.

Tetapi ketika aku berada di sekolah, aku menjelma menjadi pribadi yang berbeda karena aku merasa bebas dan aku suka bermain dengan teman-temanku sekelas bahkan dengan yang berbeda kelas. Sejak kecil aku gampang akrab dengan orang lain, apalagi dengan teman-teman sekolah yang setingkat dengan kelasku. Tetapi sekembalinya di rumah, aku sering merasa tertekan, apalagi kalau ada papa di rumah.

Sejak kecil entah mengapa aku selalu memiliki perasaan bahwa papa sering memperlakukanku secara tidak adil dibandingkan saudara-saudaraku yang lain. Apabila terjadi sesuatu masalah, akulah yang kerap disalahkan. Apabila papa menghukum kami berlima, aku merasa pukulannya yang tertuju kepadaku seakan-akan lebih keras. Meskipun aku sudah mengiba-iba dan memandang kepadanya minta dikasihani tetapi yang kudapat adalah beberapa pukulan lagi. Dan aku terus berharap, papa berhenti memukulku...Mataku nanar memandang di kejauhan dan tidak mengerti mengapa papa membenciku.

Dan akupun sering melihat kebencian muncul diwajah papa ketika ia memukulku, seolah-olah aku ini adalah duri di matanya! Mama juga terkadang menjaga jarak kepadaku. Emosi mama sering berobah-robah, kadang ia sayang kepadaku kadang mama biasa-biasa saja sehingga aku sering merasa sedih dan berpikir mengapa aku harus dilahirkan kalau begini?

Ketika aku dewasa, samar-samar aku mendengar bahwa papa mencurigai bahwa aku bukanlah anak kandungnya. Papa sering mengira mama main gila dengan lelaki lain sehingga melahirkanku. Apalagi wajahku berbeda dengan saudaraku yang lain. Tetapi kalau itu benar mengapa papa mempertahankanku? Mengapa papa tidak mengirimku ke papa kandungku? Dan aku sering berharap hal ini terjadi, tetapi sayang itu tidak pernah terjadi dan tinggal sebagai sebuah angan-angan saja...aku berharap aku memiliki seorang papa yang menyayangiku.

Ketika masih kecil, aku sering sakit-sakitan sehingga papa tambah tidak suka kepadaku. Aku masih ingat ketika papa menengokku teronggok di atas ranjang; tidak ada rasa belas kasihan sama sekali, yang kudengar hanyalah omelan...

"Ni anak sakit melulu!" kata papa dengan ketus dan matakupun berair mendengar ocehannya. Pembantuku yang setia mengelus-elus tubuhku yang kurus. Tubuhku yang ringkih oleh karena sakit terasa semakin sakit, apalagi hatiku...Sewaktu kecil, tubuhku begitu kurus untuk anak seusiaku bahkan teman-teman sekelasku suka meledek.

"Tangan lo mungil banget kayak boneka!"

Di waktu kecil aku sering sakit, entah berapa kali aku tidak mengingatnya. Sewaktu cuaca sangat panas, aku suka sekali tidur di atas lantai ubin yang dingin. Akibatnya aku terkena sakit beri-beri. Selebihnya, aku sering berlangganan sakit perut sehingga bu dokter yang memeriksaku bosan melihatku (katanya sambil tertawa). Kata bu dokter, perutku sensitif. Sampai hari ini aku suka mengalami masalah sakit perut apabila aku tidak selektif memamah apa yang kumakan.

Penyakit paling aneh yang pernah kualami sewaktu kecil adalah penyakit bengok. Aku masih ingat ketika baru bangun tidur, pipiku bengkak (orang Jakarta bilang "bengok"). Tenggorokanku terasa sakit, persendianku ngilu rasanya dan aku juga demam bahkan perutku juga terasa nyeri.

Ketika mama melihatku seperti itu, cepat-cepat ia membawaku pergi naik becak. Dan aku masih ingat pagi itu, aku tanya mama...

"Ma, kok gak ke bu dokter?" tanyaku gak tau kenapa mama diam saja. Dan aku bertambah heran ketika becak berhenti di sebuah kelenteng di bilangan Petak Sembilan. Di situ mama menarik tanganku untuk mengikutinya masuk. Mama bercakap-cakap dengan seorang lelaki tua yang mengenakan secarik kain di kepalanya.

Stories from My ChildhoodTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang