Chapter 4 ; Never Thought

1.6K 253 17
                                        

Yeonjun merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah menjalani tidur panjangnya. Ia melihat sekeliling kamarnya, masih sadar bahwa ini kamar kesayangan dan kebanggaannya. Ia lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Yeonjun menyibakkan gorden kamarnya dan langsung mendapatkan sambutan cuitan burung pagi dengan sinar hangat dari mentari pagi. Ia tersenyum lega, karena ia berhasil menenangkan dirinya atas kejadian memalukan yang menimpa dirinya belum lama ini. Sudah seminggu lamanya, Yeonjun menjalani hari harinya dengan santai seperti biasa, dengan kehadiran Taehyun yang mulai terbilang sering bergabung hanya untuk menemui Beomgyu, yang sekarang sudah mulai lengket dengannya. Yeonjun terkekeh mengingat betapa manisnya percintaan anak muda jaman sekarang. Yeonjun tau tentang Taehyun yang kerap kali dianggap berwibawa dan idaman itu. Tapi tak membuat Yeonjun peduli, karena ia hanya peduli pada Taehyun, adik kecil barunya.

Ia berjalan menuruni tangga rumahnya dan mendapati salah satu kakaknya, Taehyung, sudah duduk bercengkarama dengan teman temannya yang sudah mengenal Yeonjun.

"Ah! yeonjun-ah! kau sudah besar ya!", tegur salah satu teman dari Taehyung, Hoseok. Yeonjun mengangguk malu.

"Yeonjun seperti biasa, terlihat manis... apakah kau yakin ia tidak bisa menjadi milikku?", celetuk Jimin diikuti tatapan sinis dari Taehyung. Ia tak suka adiknya di goda oleh Jimin, karena menurutnya Jimin adalah sosok tak tepat untuk adiknya yang berharga ini.

"Apakah sudah sarapan?", tanya Yeonjun. Semuanya menggeleng. Yeonjun mendengus geli lalu melangkahkan kakinya ke dapur untuk menyediakan sarapan dalam porsi yang banyak.

"Jun? kata namjoon hyung, kau tidak usah bekerja dulu, beomgyu tadi mengiriminya pesan, katanya kedai tidak akan buka sampai malam, jadi shiftmu akan dihilangkan hari ini.", Yeonjun menoleh dan mengangguk mengiyakan perkataan Taehyung. Ia tertegun, memikirkan apa yang akan ia lakukan ketika ia tidak memiliki kegiatan seperti ini? Mungkin bermain dikota akan menyegarkan pikiran dan dirinya. Yang memang sudah seminggu penuh kedai menyita waktu istirahatnya, karena kedai mulai ramai berdatangan pasangan remaja yang mendengar berita bahwa kedai tersebut telah menjadi milik dari Kang Corporate.

***

"Kau tak berguna." decih Soobin. Masih pagi, tapi tensinya sudah dibuat naik dengan bawahannya yang gagal menyampaikan pesanan dari seorang costumer berharga Soobin. Ia menyenderkan tubuhnya pada mejanya dan menatap bawahannya itu datar.

"M-maaf tuan— saya salah, saya tak akan mengulangnya", jelas bawahannya itu takut takut. Soobin memutar bola matanya malas lalu menembakkan peluru dari pistolnya kearah bawahannya itu. Lagi, bunyi memekak telinga terjadi diruangan Soobin untuk kesekian kalinya. Soobin meletakkan pistolnya dan memanggil pelayannya untuk membereskan hal yang baru saja terjadi. Ia memandangi mayat menyedihkan itu.

"Jelas tidak akan mengulangnya lagi, bodoh." bisik Soobin dingin sambil kembali menyambungkan telfonnya pada seseorang.

"Iya, bawahanku akan segera mengantarnya padamu, tunggu lah."

"Kau gila? apa aku harus mencari orang polos agar tidak dicurigai?"

"Merepotkan saja, baiklah."

Obrolan soobin terdengar singkat namun jelas. Ia harus mencari bawahan baru yang tidak akan dicurigai ketika ada pemeriksaan pada portal perumahan customernya itu. Ia lalu memanggil pelayan wanitanya.

"Ya tuan..?", pelayan itu muncul dengan menundukkan wajahnya. Soobin berdiri lalu mengitari tubuh pelayannya itu. Apakah bisa ia menjadikan pelayan bodohnya ini untuk mengantarkan pesanan customernya? Ragu menyelimutinya.

"Gantilah bajumu, pakaian casual akan lebih baik. Dan rambutmu, tolong, digerai saja. 10 menit lagi kembali kesini." titah Soobin lalu memberi isyarat pada pelayannya untuk meninggalkannya. Soobin kemudian mengedarkan pandangannya keluar jendela dan melihat kegiatan diluar ruangannya. Tukang kebun, Tukang bersih mobil, tukang sapu, tukang sikat kolam, ah, diluar sana banyak orang bodoh yang rela bekerja seperti itu demi uang. Pikirnya sambil melirik kegiatan pelayannya dibawah sana. Mansion soobin, memiliki sekitar 150 pekerja, yang setiap harinya mungkin merengang nyawa kala melakukan kesalahan pada Tuannya. Seperti yang baru saja terjadi. Hunian itu, sebenarnya adalah mimpi buruk atau ladang emas sih?

Dare To LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang