Maka sekali lagi Seungri menapakki Kakinya di gedung PMO untuk bertemu dengan orang yang akan mejadi atasannya Kelak. Tidak sampai dua hari, Seungri Sudah membuat keputusan dan itu seperti apa yang di katakan Jiyong sebelumnya. Yang berbeda kedatangannya kali ini adalah tidak membuat janji terlebih dulu dangan CEO PMO itu.
"Mian, Tuan Lee. Kwon sajangnim sedang ada rapat," jelas asisten Jiyong yang lainnya.
"Kapan rapatnya akan selesai?"
"Mungkin dua jam lagi."
Seungri berpikir sejenak, "aku akan menunggunya."
"Baiklah, Tuan Lee. Aku akan memberitahu beliau jika rapatnya selesai nanti. Silahkan tunggu di ruang tunggu."
"Ne, gamsahamnida. "
Sementara itu di dalam ruang rapat di ujung meja, duduk seorang pria dengan jas putih berkerah hitam dan lebar, membalut kaos putih tipis dan celana panjang yang senada dengan atasannya. Sudah jelas itu Jiyong.
CEO Kwon Jiyong yang sedang mendengarkan penjelasan tim marketing tentang penjualan produk terbaru yang akan diluncurkan.
Tak terasa pula rapat berjalan dua jam lebih lima menit. Bebarapa orang yang mengikuti rapat akan meninggalkan ruangan. Tak lupa begitu juga dengan Jiyong. Namun, baru saja dia akan beranjak dari bangkunya, sang Sekretaris memberi tahunya bahwa Seungri sedang menunggunya. Jiyong menyeringai. Dia menyingkap sedikit pergelangan jasnya, melihat pada jam rolex emas miliknya.
"Biarkan dia menunggu lima menit lagi," ucap Jiyong.
"Ye, sajangnim."
Seungri sesekali melihat jam tangannya. Tangannya sudah saling meremas karena cemas atau mungkin lebih tepatnya bosan menunggu. Bahkan waktu yang dia lihat sudah lebih dari yang dijanjikan asistennya. Hanya karena dia duduk membelakangi, dirinya tidak sadar orang yang ditunggunya sudah berdiri di belakangnya.
"Menungguku?"
Kepala Saungri menoleh ke belakang begitu mendengar suara yang baru didengarnya kemarin, namun terasa familiar di telinganya. Seungri melihat pria itu tersenyum, tapi dia merasa ada sesuatu yang aneh saat melihat senyumnya. Senyum itu terasa hangat sakaligus membuatnya gugup.
"A-annyeonghaseo," sapa Seungri sembari membungkukkan badannya cepat.
"Ikut ke ruanganku!" perintah Jiyong.
Pemimpin PMO itu berjalan mendahului Seungri yang diikuti seketarisnya yang sedang hamil tua itu. Seungri mengekorinya hingga tiba di ruangan Jiyong.
"Tidak perlu basa- basi lagi, jadi kedatanganmu adalah ...," Jiyong menghentikan ucapannya. Dia mendudukkan pantatnya di kursi kerjanya.
"Aku terima tawaran anda, sajangnim," ucap Seungri tegas.
"Keputusan yang bijak. Tapi ada hal yang perlu Kau penuhi selama bekerja dengan ku."
Sepuluh jari Jiyong saling bertaut. Kedua tangannya berada di atas meja. Tatapannya mengunci kedua mata Seungri dalam-dalam. Membuat lawan bicaranya tak berani melawan.
"Kau harus selalu menemaniku di saat kita berada di luar kantor. Urusan kantor maupun pribadi, kau kuberi kebebasan untuk mengaturnya. Tapi Kau tidak oleh dekat-dekat dengan orang lain."
Seungri mengerutkan keningnya, mencerna segala aturan yang diberikan Jiyong. Ada hal yang menurutnya sedikit tidak masuk akal baginya.
"Bukankah urusan pribadi bukan bagian dari pekerjaanku?"
"Tapi nanti akan menjadi tugasmu. Kenapa? kau keberatan? Tak apa kalau kau keberatan, aku bisa cari sakretaris baru. Tapi kau harus menbayar keseluruhan hutang ayahmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
This Love (📌 Complete)
RomanceAyah Seungri memiliki hutang pada perusahaan tempatnya bekerja. Namun Seungri tidak tahu akan hal itu. Dia terkejut ketika pemilik perusahaan memintanya untuk melunasi hutangnya. Hanya saja Seungri tidak punya uang untuk mengembalikannya. Bagaimana...
