Distance

583 62 76
                                        

Kicau burung di pagi hari merupakan nyanyian merdu bagi sang alam. Dua insan yang ini masih terlelap dalam peraduannya. Satu di belakangnya terusik dalam tidurnya. Tangannya melingkar apik di pinggang lawannya tanpa dia sadari. Jiyong membuka matanya dengan kepala yang berat sisa mabuk semalam.

Matanya berkedip beberapa kali menangkap sosok yang tak asing. Tangan ditariknya dari tubuh yang semalam terus dia dekap dalam tidurnya. Tubuh keduanya masih dalam keadaan telanjang berbalut selimut. Betapa dia terkejut pagi itu melihat dirinya dan Seungri dalam satu kasur tak berbusana.

"Se-seungri-ah ... ke-kenapa kau a-ada di kamarku?"

Jiyong terduduk melihat punggung Seungri. Punggung itu bergetar kecil setelah Jiyong bertanya padanya. Sepertinya si sekretaris kembali menumpahkan air matanya.

"Kau mabuk," jawab Seungri singkat.

"Ap-apa yang sudah terjadi?"

Seungri terbangun dari tidurnya tanpa melihat Jiyong. Dia menghapus air matanya, tak mau Jiyong melihatnya.

"Seperti yang hyung lihat. Kau memaksaku."

"Maksudmu aku ... kita melakukan seks?"

"Memangnya apa lagi yang dilakukan orang yang sedang mabuk? Memaksanya melakukan itu meski sudah menolaknya."

"Seungri-ah, mianhae. Aku ... tidak bermaksud melakukan itu."

"Sudahlah, semuanya sudah terjadi."

Seungri bangkit dari kasur Jiyong, memunguti pakaiannya dengan tubuhnya berbalut selimut. Jiyong melihat tubuh putih itu telah bernoda merah di sekitar pundak dan lehernya, jalannya yang sedikit berbeda akibat perbuatannya semalam. Jiyong bergegas menghampiri Seungri dan membuatnya menghentikan kegiatan Seungri.

"Seungri-ah, dengar aku minta maaf. Aku tidak bermaksud berbuat seperti padamu. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?"

"Tidak perlu, Sajangnim. Lupakan yang semalam, anggap tidak terjadi apa-apa."

Seungri mati-matian menahan air matanya yang ingin keluar sekali lagi dari matanya. Harga dirinya terenggut hanya dalam satu malam tanpa sebuah ikatan.

"A-aniya. Aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu. Ini salahku. Aku ... aku ...," Jiyong tertunduk di depan Seungri.

"Sudah Sajangnim. Aku minta lupakan. Anggap tidak terjadi apapun. Kau seorang pimpinan, tidak pantas jika harus seperti ini. Biarkan aku pulang. Ah, iya tenang saja ... aku tidak akan bilang pada siapapun tentang semua ini."

Seungri memakai pakaiannya dengan sedikit ringisan. Jiyong hanya bisa memperhatikan dengan iba.

"Seungri-ah, biar aku antar kau pulang."

"Tidak perlu, Sajangnim. Aku bisa pulang sendiri. Sampai ketemu lagi di kantor."

Jiyong pun hanya mengekori Seungri yang keluar kamarnya dengan jalannya yanh sedikit aneh. Rasa bersalah semakin merambat di hati Jiyong. Sementara dari sebarang kamar Jiyong, Yoon mengintip dari celah pintu kamarnya. Sekelebat dia melihat seseorang keluar dari Jiyong tanpa tahu siapa dia.

Di dalam bis, matanya memandang jalanan. Pikirannya menjelejah jauh, teringat apa yang sudah terjadi padanya semalam. Seungri memejamkan mata sejenak. Dia bahkan tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan atasannya nanti. Seungri ingin mengakui jika dia juga menikmati permainan Jiyong. Hanya mungkin bukan seperti semalam. Ingin menangis namun tertahan. Hingga dia disadarkan oleh panggilan halte berikutnya.

Seungri melangkah masuk ke dalam rumah, disambut dengan Hanna dan Hoony yang matanya tidak lepas dari kakak sulungnya yang pulang dalam keadaan kacau.

This Love  (📌 Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang