Ayah Seungri memiliki hutang pada perusahaan tempatnya bekerja. Namun Seungri tidak tahu akan hal itu. Dia terkejut ketika pemilik perusahaan memintanya untuk melunasi hutangnya. Hanya saja Seungri tidak punya uang untuk mengembalikannya.
Bagaimana...
Kedua saudara Kwon ini tidak saling tatap. Jiyong seperti biasanya selalu memandangi taman belakang jika sedang ada masalah. Sedangkan Yoon menatap punggung si sulung. Menunggu apa yang akan keluar dari mulut Jiyong.
"Kalian sudah lama berpacaran?"
Jiyong mulai bertanya tanpa mengalihkan pandangannya pada rerumputan hijau di depannya.
"Cukup lama."
"Berarti kalian sudah sering melakukan itu?"
"Hm, bisa dibilang begitu."
Jiyong mendengus kasar. Mencoba bersikap tenang, mencoba bicara dengan Yoon.
"Yoon, aku bekerja meneruskan perusahaan appa itu untukmu juga. Agar kau bisa tetap kuliah di kampus terbaik. Aku melarangmu berpacaran karena takut akan mengganggu kuliahmu. Tapi ternyata kau mencurinya dariku. Diam-diam kau berpacaran dengan orang seperti itu."
"Orang seperti apa? Orang yang tidak mampu seperti kita? Dia memang bukan kalangan seperti kita, hyung. Tapi dia baik padaku. Dia sayang denganku, dia bahkan peduli denganku."
"Apa kau yakin jika dia menyukaimu bukan karena apa yang kau milikki?"
Seungyoon berdiri dari posisinya semula, menyamakan tinggi dengan Jiyong.
"Kenapa hyung selalu berpikir rendah tentang dia? Selama ini dia tidak pernah meminta sepeserpun uang dariku. Dia juga bekerja di kedai, hyung. Dia juga hanya tidur denganku, bukan seperti kau yang menyewa pelacur hanya untuk memuaskan hasratmu saat kau mabuk."
Plak
Jiyong berbalik badan dan memberi tamparan keras di pipi Yoon hingga berbekas. Seungyoon memegangi pipinya yang terasa panas.
"Jaga bicaramu! Dia bukan pelacur. Dia itu ...," Jiyong tidak melanjutkannya.
"Apa? Kenapa tidak kau lanjut? Dia pacarmu? Kalau dia bukan pacarmu, tidak seharusnya kau menamparku. Apa sekarang ini hobi barumu? Menamparku? Hyung, aku adikmu, bukan tempat pelampiasan kekesalanmu. Aku ingin kau peluk, bukan kau tampar."
Jiyong terdiam. Mulutnya terasa terkunci. Lidahnya kelu. Jiyong bukan pria yang mampu mengekspresikan bagaimana sayangnya dia terhadap adik satu-satunya itu. Hingga apapun yang dikatakannya akan menggores perasaan Yoon.
"Yoon, aku ...,"
"Sudah hyung, tidak apa-apa. Rasa kecewaku sudah cukup."
Sekali lagi dari pembicaraan mereka selalu berakhir pertengkaran. Jiyong lagi-lagi gagal berdamai dengan Yoon, bahkan semakin buruk keadaannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah insiden di mana Jiyong menangkap basah Yoon sedang berduaan dengan Hoony, hubungan keduanya semakin renggang. Yoon sama sekali tidak ingin melihat Jiyong dan cenderung menghindari kakak sulungnya. Jiyong tidak tahu harus apa. Belum lagi hubungannya dengan sekretarisnya yang hampir selama satu bulan ini semakin berjarak. Jiyong benar-benar frustrasi.