Care

563 73 32
                                        

Kwon Jiyong berjalan dengan santai menghampiri adiknya, Seungyoon yang juga seru dengan dunia permainan di ponselnya. Di tangan Jiyong sepertinya tergenggam sesuatu yang penting, karena setelahnya Jiyong menarik paksa ponsel Yoon.

"Yak!! Kembalikan ponselku, "

"Berani kau meneriakkiku!"

"Kau yang mulai duluan!"

Alih- alih mengembalikan ponsel Yoon, Jiyong malah melempar amplop coklat besar di atas meja tepat di depan Yoon. Jiyong hanya menunjukkan wajah datarnya.

"Apa ini?" dengan polos Yoon bertanya.

"Buka dan baca. Apa saja yang kau lakukan selama satu semester ini?"

Lembar kertas yang keluar dari amplop itu adalah hasil nilai Yoon selama satu semester. Nilai yang tertera di dalamnya menunjukkan penurunan dan itu yang membuat Jiyong tidak menyukainya.

"Aku akan memperbaikinya di semester berikutnya," jawab Yoon sepele.

"Kau yakin bisa mengejar nilaimu yang buruk itu?"

"Oh ayolah hyung, memangnya hanya kau saja yang punya otak cerdas. Kau lupa aku juga mahasiswa berprestasi, itu pun kalau kau masih ingat."

Kini Kwon bersaudara ini saling tatap satu sama lain saling mengitimidasi dan tak mau mengalah.

"Jika kau masih mahasiswa berprestasi, tidak seharusnya nilaimu seperti itu."

"Aku hanya sedang bosan, hyung. Apa kau tidak pernah merasa bosan?"

"Yoon, kau sudah dewasa. Cobalah untuk lebih bertanggung jawab dalam hidupmu."

"Apa menjadi dewasa tidak butuh perhatian dari keluarganya? Aku hanya punya kau, hyung dan kau bahkan sama sekali tidak menanyakan apa aku sudah makan atau belum. Aku butuh perhatian walau itu sepele dan kau tidak lakukan itu sejak kau mulai sibuk bekerja."

Inilah yang terjadi saat keduanya saling bertemu. Seungyoon menumpahkan segala kekesalan yang selama ini disimpannya. Sekali lagi Yoon hanya ingin Jiyong lebih memperhatikannya, meski itu perhatian sederhana saja.

"Dengan segala Fasilitas dan kebutuhanmu yang aku
berikan, apa itu tidak cukup?"

Seungyoon berdiri menghampiri Jiyong. Matanya mulai
menyiratkan emosi yang harus segera dia selesaikan.

"Kau memang mencukupi semuanya. Tapi apa kau pikir uang dan segala yang kau berikan itu saja yang aku butuhkan? Tidak hyung, aku butuh kau. Aku butuh Jiyong yang mau mendengarkan keluh kesahku dan kau sama sekali melupakan itu!"

Seungyoon dengan tidak sopannya menunjuk tepat di dada Jiyong dengan jari telunjuknya. Hal itu membuat Jiyong tersentak kecil. Jiyong bungkam dan hanya melihat Yoon pergi Meninggalkannya dengan mengambil paksa ponselnya dari Jiyong. Bantingan pintu kamar terdengar jelas dari lantai satu. Jiyong memijat pelipisnya, pening menghadapi masalah dengan Yoon. Malam itu Yoon menceritakan apa yang terjadi pada Seunghoon, kekasihnya.

 Malam itu Yoon menceritakan apa yang terjadi pada Seunghoon, kekasihnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
This Love  (📌 Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang