Happy reading^_^
Hanin memandang pria yang kini tengah duduk di salah satu kursi panjang yang berada di taman rumah sakit. Ia hanya menatapnya dari jauh, keputusannya untuk datang kesini sebenarnya dilandasi oleh keraguan. Entahlah Hanin hanya merasa ada apa sebenarnya antara dirinya dan Bian? Hanin melihat jam di pergelangan tangannya sudah pukul 15:30 dan ia pun melangkahkan kaki menuju arah dimana Bian berada.
"Dok udah lama?" tanya Hanin begitu sampai ke hadapan pria itu.
"Baru aja." jawab Bian sambil tersenyum.
"Dokter pulang dulu ya?" tanya Hanin ketika menyadari bahwa kemeja yang dipakai Bian berbeda dengan kemeja yang tadi pagi dilihatnya.
"Saya hanya mampir ke apartement yang deket sini. Jam praktek udah beres tadi pukul 12 siang dan gak ada jadwal apa-apa lagi." ujar Bian.
"Dokter punya apartement sekitaran sini?" tanya Hanin.
"Iya. Tapi jarang saya tempati, kan saya tinggal masih sama orang tua." jawab Bian.
"Terus kenapa beli apartement?" tanya Hanin aneh.
"Ya untuk hal-hal mendesak aja. Misalnya kalau saya pulang larut malam dan malas pulang ke rumah." jawab Bian.
"Tapi biasanya orang dewasa lebih senang kalau tinggal tidak bersama orang tuanya. Dokter masih orang kan?" tanya Hanin dengan jail.
Pletak!
Satu jitakan yang tidak keras mendarat di kepalanya.
Hanin mengusap kepala bekas jitakan Bian, ia mendelik kesal ke arah Bian dan hanya dihadiahi tawa dari Bian.
"Dokter jail banget sih. Kalau saya terkena amnesia emangnya Dokter mau tanggung jawab?" tanya Hanin.
"Kalau kamu kena amnesia nanti saya bantu kamu dengan memberikan informasi-informasi yang begitu akurat tentang sifat menyebalkan kamu." jawabnya santai.
Hanin menggerutu dalam hati, bukannya Bian sendiri yang mempunyai jutaan sifat menyebalkan?
"Oh ya mengenai pertanyaan kamu tadi, sebenarnya saya pun ingin hidup sendiri tapi mommy gak ngasih izin. Mommy bilang akan ngasih izin kalau saya udah nikah." ucap Bian dengan nada frustasi yang begitu kentara.
Hanin terkikik geli, pria dengan usia yang hampir menginjak 30 tahun ini masih dikekang oleh ibunya sendiri.
"Gak usah ketawa!" ucap Bian kesal.
"Gak ada undang-undang yang melarang tertawa." balas Hanin sewot.
"Eh anak kecil ngebantah aja." kata Bian.
"Eh orang tua bawel amat." balas Hanin dan dihadiahi pelototan Bian.
"Kamu kebagian shift malam hari apa aja?" tanya Bian setelah mereka sama-sama terdiam.
"Sekarang hari Senin, dan nanti hari Kamis. Pokoknya seminggu saya dua kali shift malam." jawab Hanin.
"Berarti malam Selasa dan malam Jum'at dong. Ih serem Nin." ucap Bian dengan ekspresi takut yang dibuat-buat.
"Gak mempan sama saya Dok. Ada hantu tak lawan aja." ucap Hanin sambil tersenyum pongah.
"Dapat dimengerti sih, para hantu pasti takut sama kamu." ucap Bian sambil tertawa kecil.
"Bisa gak sih Dok sekali aja gak usah ngeledek saya?" tanya Hanin jengah.
"Kalau ngobrol sama kamu itu gak enak kalau ujungnya gak ngeledek kamu." Jawaban Bian membuat Hanin memutar bola matanya malas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rencana [Telah Terbit]
Romance"Terlalu percaya diri itu gak baik Dok. Ntar over dosis lho" 💫Pemesanan : Whatsapp : 0818331696 Web : www.novelindopublishing.com/ Instagram : @novelindo_publishing @tarilegistia Enjoy with my story ❤
![Rencana [Telah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/186339364-64-k555256.jpg)