18. Gray Sky

1.4K 166 20
                                        

while reading this story, it is advisable to listen to "Langit abu-abu by Tulus " to get the atmosphere.
.
.
—————
"Komori, seharusnya kau mendengarkan aku. Lagipula aku tidak pernah berbohong padamu, kan? Dan kau tau itu."

Sakusa tengah melamun di ruang Osis sambil memperhatikan sebuah foto yang ia ambil dari dalam dompetnya.

Foto dirinya dan Komori, foto yang sudah agak usang dan sedikit terlipat. Hanya itu satu-satunya yang tersisa dari kenangannya bersama Komori. Sudah hampir 3 tahun semenjak kepergian Komori kala itu.

Sakusa sendiri sudah menerima kepergian Komori, Namun ia tidak bisa menerima penyebab meninggalnya Komori. Sakusa masih ingat kata-kata terakhir yang diucapkan Komori kepadanya.

"I go on pretending,I'll be okay." Ucapnya sambil tersenyum.

Senyumannya bukan membuat Sakusa merasa lebih baik, malah membuat dadanya sesak. Senyuman seseorang yang terlihat sudah pasrah. Lelah dengan semua keadaan.

Dari sekian banyak omega, kenapa harus Komori? Apa karena nilai akademiknya yang bagus? Atau karena nilai praktek yang sangat ia kuasai? Entahlah, Sakusa tak akan menemukan jawaban. Karena si pemberi jawaban sudah tiada.

Kecuali, kalau ia berusaha mencari jawabannya sampai ke akar.

"Komori, apa kabarmu di sana? Apakah menyenangkan bermain bersama malaikat? Kuharap kau tidak menunda-nunda makanmu ya. Aku ingat sekali kau suka menunda waktu makan. Sampai kau kehilangan banyak berat badan. Kau sudah sempurna dimataku. Komori.. tidak peduli apa yang mereka katakan. Kau hanya satu-satunya yang berharga dimataku."

Kini ada air mata yang jatuh dari orang yang berbeda, Sakusa menyapu air matanya dengan sapu tangan dari saku celana. Ia sedikit menampar pipinya.

"Ah, kalau aku seperti ini, Komori juga akan sedih."

.
.
.

"Halo? Hinata? Kau di mana?"

"Eh? Kageyama, aku sedang di kelas. Hari ini guru penjas tidak masuk. Jadi aku free class. Ada apa? Kamu butuh sesuatu?"

"Tidak, tapi apa kamu bisa kesini?"

"Roger, aku kesana ya.."

Kaki kecil Hinata langsung menuntunnya ke arah ruang Uks, tempat di mana Kageyama berada sekarang.

Hinata berlari, sebenarnya tidak boleh berlari di lorong. Tapi karena Hinata merasa kalau ini urgent. Makanya dia berlari.

Saat tengah berada di pelariannya. Tiba-tiba saja ia menabrak seseorang di persimpangan lorong.

"Aduh duh.."

Hinata jatuh terduduk, sedangkan yang ia tabrak masih berdiri tegap.

"Hei, seharusnya kau tidak berlari di lorong."

Hinata menatap dari ujung kaki sampai ke kepala lawan bicaranya.

"Sakusa Kiyoomi" Hinata membaca bet nama di seragam pemuda itu.

"Kenapa?"

"Ah? Ehm.. maaf kak.."

Butuh beberapa menit untuk Hinata agar menyadari kalau mata Sakusa agak sembab. Di bawah matanya juga agak merah, seperti habis menangis.

High School SweetheartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang