🌕- Pagi yang Damai

13K 1K 19
                                        

Abaikan typo,
Enjoy!

.

.

.

.


Beberapa hari berlalu. Haechan dilanda bosan karena hyung-hyungnya sibuk sendiri.

"Hyung hari ini ada acara apa?" Hampir setiap hari ia menanyakan hal yang sama.

"Bosen ya? Kasian." Doyoung meledek. Dan adegan berikutnya adalah kejar-kejaran antara Haechan dan Doyoung.

"Haish jangan main di kamar dong!" gerutu Taeil kesal. Enggak apa sih main dikamar. Masalahnya ini kamar Taeil dan Yuta! Siapa yang enggak kesel kamarnya jadi berantakan?

 Yang disindir tidak menggubris. Mereka tetap lari sambil lempar-lemparan guling. 

"Heh berani kamu ya!" Doyoung melotot ketika sebuah bantal berhasil menampar wajah mulusnya.

"Ngalah sama yang muda!" Haechan ikut ngegas.

"Sopan sama yang lebih tua!"

"Cie ngaku kalo tua~"

"Deketan sini, biar enak nampolnya!"

Adu mulut itu terus mengalir, bahkan nadanya makin lama makin tinggi. Dunia serasa milik berdua (bedanya gaada romantis-romantisnya).

Mereka melupakan Taeil yang kini menutup kupingnya rapat. Tahu begini dia mending bantuin Jaehyun nyiram tanaman saja. Gapapa deh Jaehyun nge-bug, yang penting tentram.

"Astaga ini kenapa rame banget?" Mark muncul dari balik pintu. "What are you doing, guys? Your voices are so loud. I can hear them from below."

"Sorry, Mark-ssi, tapi kami tidak mengerti artinya." Haechan melambaikan tangannya acuh, kemudian kembali memukul Doyoung dengan bantal.

Mark hendak protes, namun Taeil menyeretnya keluar. "Sudah, biarkan saja mereka. Ayo turun, lama-lama disini kita bisa tuli."

Mark mengangguk saja. Tidak ada yang mau berada ditengah keributan Haechan dan Doyoung. Oh, kecuali Taeyong tentunya. Tapi perlu diingat, kalau Taeyong gabung asrama mereka bakal meledak.

"Hei, hei! Berisik! Tetangga udah kumpul didepan, noh!" gantian Yuta yang muncul dibalik pintu.

"Kalau kita siram air aja gimana?" Jungwoo memberi usul.

"Boleh." Yuta mengangguk-angguk, "Eh jangan! Nanti kamarku banjir!"

Jungwoo tertawa. Ia hanya menggoda Yuta. "Udahlah, langsung diseret saja," ujarnya saat kembali memandang depan.

Yuta mengangguk, kemudian menarik kerah Doyoung. "Udah besar, jangan malu-maluin." 

Jungwoo ikut menarik kerah Haechan, "Tuh dengerin! Tapi kamu masih kecil sih, gapapa deh malu-maluin sedikit." 

"Jungwoo!" Yuta melotot. Jungwoo meringis tanpa dosa. "Kan sedikit."

Yuta menghela nafas lelah. Sudah pasrah dia. "Yaudah, yuk turun buat sarapan."

STRONG - NCT 127Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang