(follow dulu yuk sebelum baca ceritanya)
Gue menelfon dosen yang dari tadi gak kunjung balik. Demi apa? Keajaiban di belahan dunia mana nih, kok tiba-tiba dia mau ngangkat telfon.
"Saya ada jam pak"
"Yasudah jangan dipersulit, bawa pulang aja, kore...
Jangan lupa follow, vote dan komentarnya temen-temen.
Happy reading
________
Anggaplah hari ini aku akan menjadi seorang princess dengan gaun yang sangat cantik. Yahh.. walaupun hanya sehari, tak apa yang terpenting aku masih punya kesempatan untuk merasakan menjadi bagian keluarga si Sultan.
Ku langkahkan kakiku menuruni anak tangga sembari mengangkat gaunku yang sudah menyapu permukaan lantai. Bukan karena postur tubuhku yang pendek, memang model gaun ini sengaja di desain seperti menjuntai tepat di bagian belakangnya. Mengenakan gaun seperti ini membuat perasaanku sungguh-sungguh merasa menjadi wanita sepenuhnya.
Perlahan namun pasti aku menuruni anak tangga, dengan masih menyingkap gaun belakangku agar tidak membuatku tersandung nantinya. Baru menuruni beberapa anak tangga saja membuat nafasku terputus-putus, pasalnya setiap menuruni satu anak tangga aku harus berhenti dulu sekian detik untuk membenarkan gaun ini dan pastinya mengambil nafas dalam-dalam.
Sekarang aku paham mengapa orang-orang selalu bilang kalau cantik itu butuh pengorbanan, ternyata itu memang benar. Selain memakan waktu saat merias wajah dan memilih gaun yang akan di gunakan, lalu berikutnya aku di uji dengan sulitnya berjalan menuruni tangga karena gaun sialan ini, baru saja tadi aku merasakan menjadi wanita sesungguhnya tapi beberapa menit kemudian aku jugalah yang menyesali perkataan itu.
"Mau kemana kamu dengan gaun haram itu?"
Suara mamah membuat cekatan di gaunku terlepas. Jahat sekali mamah mengatakan gaun secantik ini haram. Dari sebelah mana haramnya coba? Gaun ini adalah gaun tercantik yang aku punya, tetapi sebenarnya benar juga sih, gaun ini sedikit terbuka dan memperlihatkan bahu mulusku.
"Pestanya Kiki" jawabku jujur.
"Harus banget pake gaun itu? Liat--" Mamah menunjuk kedua bahuku yang terekspos secara bergantian. "Bajunya kurang bahan."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Baru pertama kali aku mendengar perkataan itu dari mulut mamah, seorang desainer perancang gaun mengatakan demikian. Bukankan mereka biasanya sengaja memotong kain hingga minim bahkan tidak layak disebut gaun. Lantas sekarang berkomentar jika gaunku kurang bahan, lalu yang sering mamah buat itu apa? Bukankah itu juga bisa dikatakan baju kurang bahan?
"Gak ada lagi mah" kesalku, mamah ini tidak tau apa perjuanganku menuruni anak tangga dengan gaun ini. "Lagian ini bagus kok"
"Iya bagus, tapi.." mamah mendekat lalu dengan gampangnya menarik bagian penutup lengannya lebih kebawah. "Lihat, baju seperti ini gak layak."
"Ya gimana lagi? Mau di tambal ? gak keburu, mah"
"Cari yang lain, yang tertutup"
Aku berdecak kesal, sudah kesulitan menuruni tangga lalu sekarang harus menaiki anak tangga lagi hanya untuk menggantinya dengan gaun menyebalkan lainnya?. Lagian mana ada sih seorang gadis yang menghadiri pesta temen spesialnya memakai gaun serba tertutup. Tidak sekalian saja memakai sarung biar terlihat beken.