I was burnin' up a fever
I didn't care much how long I lived
Hozier - Work Song
.
.
.
.
"Jisooo!" Jimin panik menyerbu ke ruangan sahabatnya. "Jisoo aku butuh Vaseline, minyak kelapa, apa saja yang licin-licin!"
"Hah? Kenapa?" Jisoo yang sedang memeriksa laporan kinerja pegawai bulan ini di laptopnya seketika bangkit berdiri, kaget lihat Jimin heboh begitu.
"Cincin keparat nyangkut di jariku!" Jimin membuka semua laci di ruangan itu, mengobrak-abrik isinya, pindah lagi ke laci lain. "Duhhh! Masa kau nggak punya Vaseline?"
"Ada di tas, tunggu sebentar. Kalau mau cincinnya lepas coba rendam dulu pakai air dingin." Mata Jisoo menangkap cincin di jari Jimin, seketika dia melotot. "Jimiin! Cantik banget cincinnya! Kau nemu dimana?"
"Cincin neneknya Jungkook."
"HAH?" Jisoo cengo. "Cincin neneknya Jungkook? Kok bisa?"
"Jangan ketawa dulu ish! Bantu aku!"
Jisoo diseret keluar ruangan sama Jimin, sementara cewek itu cekikikan menertawakan cincin nenek-nenek yang tersangkut di jari sahabatnya. Gak ada akhlak.
Untungnya cincin itu AKHIRNYA LEPAS. Horeee! Tepuk tangan! Jimin tidak jadi memotong jari tangannya sendiri.
"Terus gimana? Mau dibalikin?" tanya Jisoo.
"Iyalah pasti! Masa kubawa pulang? Cincin ini terlalu bucin untuk jari tanganku."
"Cincin ini tidak mau pisah darimu, karena cincin ini berniat menjodohkanmu dengan cucu si pemilik."
"Jisoo, aku paham kau suka nonton drama, tapi tolong ya, jangan terlalu edan."
Jisoo nyengir, mengacungkan jari peace.
"Jadi gimana rasanya kerja bareng Jeon Jungkook?" tanya Jisoo. "Dia membuatmu uring-uringan?"
Jimin hanya mengangkat bahu. "Tidak terlalu buruk. Dia sebenarnya adalah jenis manusia yang baik. Terkadang. Tidak sering, tapi terkadang."
Jisoo mendengus dan menggelengkan kepala, menatap ke cermin toilet wanita sambil menepuk-nepuk pelan bibirnya dengan jari, meratakan polesan lipstiknya. "Setan kadang -kadang bisa baik juga," ucapnya datar. "Kau kaget ya?"
"Nggak juga sih. Ya Tuhan, para gadis yang bekerja di lantai atas selalu makan salad sayur. Aku malah kepingin burger."
"Ya udah beli burger sana!" balas Jisoo. "Jangan biarkan mereka mengganggu pola makanmu. Kadang-kadang aku iseng meniup-niupkan udara ke arah mereka disaat mereka tidak melihatku, hanya untuk memastikan apakah mereka bakalan tumbang."
Jimin tidak bisa menahannya, tawanya meledak.
"Iya, lihat saja badan mereka. Aku yakin cuma ada tulang dan dosa dan kentut di dalamnya."
"Gadis-gadis di lantai atas begitu terobsesi pada mereka," kata Jimin. "Untuk orang-orang yang dijuluki Setan, mereka memperlakukannya seperti dewa. Aku bersumpah bulu mata palsu mereka kayak mau terbang tiap kali Jungkook atau Seojun lewat. Bahkan Seojun yang belok masih punya penggemar. Aku tidak habis pikir. Eh, tapi... memangnya Jeon Jungkook pernah mengencani siapa sih?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Horrible Bosses
FanfictionJimin (24 tahun) berharap Han Seojun dan Jeon Jungkook mati saja. Punya dua boss yang kerjanya bentrok satu sama lain, itu masih mending. Lah ini... Jimin ikut dibawa-bawa dalam drama gak jelas dan gak penting mereka! Masalahnya Jimin lelah harus...
